Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Turun Tangan Kawal Kasus Satpam Terborgol Tewas di Waduk Jatiluhur
Moch Krisna July 27, 2026 07:01 PM

 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turun langsung mengawal penanganan kasus dugaan pembunuhan Sumarna (42), petugas keamanan Waduk Jatiluhur yang ditemukan tewas dengan kondisi tangan terborgol.

Dedi mendatangi Markas Polres Purwakarta pada Senin (27/7/2026) usai terlebih dahulu menemui pihak keluarga korban.

Langkah tersebut dilakukan Dedi untuk memantau langsung perkembangan penyelidikan sekaligus memastikan proses hukum berjalan cepat demi memberikan kepastian hukum bagi keluarga korban dan masyarakat.

"Yang pertama, pagi saya bertemu dengan keluarga korban, korban yang diduga menjadi korban pembunuhan. Kemudian, hari ini saya bertemu dengan Pak Kasat Reserse untuk menanyakan perkembangan. Selanjutnya, kami meminta agar kasus ini segera terungkap karena ini menyangkut rasa aman masyarakat di Jawa Barat," kata Dedi di Mapolres Purwakarta, Senin (27/7/2026), dikutip dalam Kompas.com

Baca juga: Tangan Terborgol, Inilah Sosok Sumarna, Satpam Ditemukan Tewas di Waduk Jatiluhur Purwakarta

 

SATPAN DITEMUKAN MENINGGAL -- Proses evakuasi satpam Waduk Jatiluhur Purwakarta yang ditemukan tewas (Dok. Warga)(Muhamad Hidayat)
SATPAN DITEMUKAN MENINGGAL -- Proses evakuasi satpam Waduk Jatiluhur Purwakarta yang ditemukan tewas (Dok. Warga)(Muhamad Hidayat) (Kompas.com)

 

Kolaborasi Pemda dan Kepolisian Demi Rasa Aman

Dedi menegaskan bahwa pemerintah daerah berkewajiban hadir dan terus memberikan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum dalam mengusut berbagai kasus kriminalitas di wilayah Jawa Barat.

"Tugas gubernur memberikan rasa aman bagi seluruh warga dengan berkolaborasi bersama aparat kepolisian," ujarnya.

Selain berkoordinasi dengan Satreskrim Polres Purwakarta, Dedi menilai tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan di kawasan Bendungan Jatiluhur yang merupakan salah satu obyek vital nasional.

Ia menyayangkan belum optimalnya fasilitas pemantauan di area yang memiliki fungsi strategis sebagai pengendali banjir, pembangkit listrik, penyedia air bersih, hingga irigasi pertanian tersebut.

"Bayangkan, perusahaan besar yang memiliki fungsi menjaga keamanan dan keselamatan negara. Bendungan Jatiluhur memiliki fungsi penahan banjir, listrik, air bersih, pertanian, dan perikanan, tetapi di tanggulnya tidak ada CCTV," katanya.

Baca juga: Sanksi Dedi Mulyadi ke Bupati Purwakarta Buntut Lagu Lalaki Langit, Wajib Renovasi 10 Rumah Janda

 

Minta PJT II Bangun Sistem Pemantauan 24 Jam

Guna mencegah peristiwa serupa berulang sekaligus mengantisipasi potensi ancaman terhadap infrastruktur negara, Dedi meminta Perum Jasa Tirta (PJT) II segera membangun sistem pengawasan yang terintegrasi.

"Harusnya di PJT ada ruang command center yang dipiket 24 jam. Setiap titik dipantau, setiap pergerakan orang terbaca. Ini penting. Saya minta segera dilakukan evaluasi agar seluruh kawasan Bendungan Jatiluhur dapat dipantau dan terbebas dari berbagai ancaman," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya deteksi dini pada fasilitas publik yang vital bagi masyarakat banyak.

"Bayangkan kalau ada orang membawa mobil yang berisi bahan peledak lalu ditinggalkan di sana. Sistem pengamanannya harus mampu mendeteksi sejak awal. Karena itu, evaluasi harus segera dilakukan," kata dia.

Sementara itu, jajaran Satreskrim Polres Purwakarta hingga kini masih terus mengumpulkan alat bukti, memeriksa saksi-saksi, dan menunggu hasil otopsi resmi untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.