Mengapa Anak Jadi Korban Bullying? Psikolog RSJ HB Saanin Soroti Relasi Kuasa Pelaku Terhadap Korban
Rezi Azwar July 27, 2026 07:02 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Psikolog Klinis dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof HB. Saanin Padang, Kuswardani Susari Putri, menyoroti kasus dugaan perundungan yang menimpa seorang siswi sekolah dasar negeri di Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang.

Ia mengaku prihatin atas dugaan kasus perundungan atau bullying yang membuat siswa sampai meninggal dunia tersebut.

"Saya turut prihatin atas kasus yang menimpa salah satu anak SD, bahkan sampai meninggal dunia," katanya saat dikonfirmasi, Senin (27/7/2026).

Baca juga: Jelang Penyusunan RAPBD 2027, Bupati Solok Selatan Minta Pengawasan Proyek Fisik Diperketat

Langkah Antisipasi: Adanya Relasi Kuasa

Menurut dia, kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah, dapat dipicu oleh sifat relasi kuasa oleh terduga pelaku terhadap korbannya.

Sehingga korban dianggap di bawah kekuatan yang dimiliki oleh pelaku.

"Tak hanya berkaitan dengan tubuhnya saja, tapi juga konsep dirinya. Terkadang korban merasa rendah diri, tidak sama dengan orang lain, hal-hal seperti yang menjadi pemicu pelaku, karena merasa lebih tinggi atau berkuasa dari korban," jelasnya.

Baca juga: Kasus Siswi SD Rawang Meninggal, Disdik Padang Klarifikasi Dugaan Bullying di Sekolah

Langkah Antisipasi dan Peran Orang Tua

Kata Kuswardani, cara bersosial setiap individu anak di sekolah, seharusnya dapat diamati oleh para guru maupun orang tua.

Sehingga ketika lingkungan sang anak tidak memiliki rasa aman dan nyaman, orang tua dan pihak sekolah harus hadir.

"Sosialnya di sekolah bisa diamati di rumah oleh orang tua hingga guru di sekolah. Ketika ada memiliki sifat rendah diri dari orang lain, itu harus ditanyakan," ungkapnya.

Untuk itu menurut Kuswardani, peran orang tua sangat penting dalam menelusuri sosial anak di lingkungan sekolah.

Orang tua harus membangun rasa percaya diri sang anak kembali, rasa kompeten, hingga menghadirkan solusi menghindari percakapan yang tidak menguntungkan baginya.

"Akan tetapi, jangan lupa orang tua memberikan didikan kepada anak untuk tidak menyakiti orang lain. Jadi, kalau sudah memberikan edukasi demikian, tidak akan ada pelaku atau korban bullying," tegasnya.

Baca juga: Dugaan Bullying Siswi SD Padang Dibantah Sekolah, Keluarga Ungkap Kondisi Korban Sebelum Meninggal

Keterbukaan Komunikasi Antara Orang Tua dan Sekolah

Tak hanya itu, orang tua perlu meminta klarifikasi kepada sekolah, apabila sang anak menerima dugaan bullying.

Sebaliknya, guru di sekolah juga harus terbuka kepada orang tua, terhadap aduan anak didiknya hingga menelusuri lebih lanjut.

"Tapi terkadang guru di sekolah tidak mau terbuka kepada orang tua. Seharusnya, itu perlu ditelusuri lebih jauh, karena fenomena bullying terjadi di mana-mana, baik sekolah Islam, Kristen dan agama lain. Begitu juga dengan tingkatannya, mulai dari TK, SD, SMP dan SMA," sebutnya.

Untuk itu, komunikasi antara orang tua dan guru di sekolah anak, harus terjalin baik untuk menjamin rasa aman serta terhindar dari bullying.

Bentuk Bullying dan Siklus Pelaku

Kata dia, bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik tapi juga dari perkataan, seperti anak di sekolah merasa tersisihkan.

"Misal anak merasa disisihkan, tentu membuat mental mereka down, lalu pelaku merasa korban memiliki relasi kuasa yang lebih rendah, sehingga muncul rasa lebih dan terjadi bullying. Tak hanya itu, pemicu pelaku melakukan bullying, bisa karena mereka mendapatkan hal serupa atau korban dahulunya, sehingga ingin membalas itu," tutupnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.