Pantai D-Day, Asuka Fujiwara, Hingga Gunung Olympus Masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO
GH News July 27, 2026 08:09 PM
Jakarta -

Pantai-pantai di Normandia, Prancis, yang menjadi lokasi pendaratan pasukan Sekutu saat Perang Dunia II, resmi masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Bersama situs bersejarah tersebut, Gunung Olympus dan beberapa tempat lain mendapat pengakuan yang sama.

Keputusan tersebut ditetapkan dalam sidang Komite Warisan Dunia UNESCO yang digelar di Busan, Korea Selatan pada 25 Juli 2026. Situs di Prancis mencakup lima pantai bersejarah di Normandia, yakni Omaha, Utah, Sword, Gold, dan Juno, serta kawasan Pointe du Hoc.

Di lokasi inilah lebih dari 150 ribu tentara Sekutu mendarat pada 6 Juni 1944 dalam operasi D-Day, yang menjadi titik balik pembebasan Eropa Barat dari pendudukan Nazi pada Perang Dunia II.

Badan penasihat UNESCO, International Council on Monuments and Sites (ICOMOS), menyebut kawasan tersebut masih menyimpan banyak jejak sejarah. Mulai dari benteng pertahanan Jerman, lanskap yang dipenuhi bekas ledakan bom, pelabuhan buatan Sekutu, hingga bangkai kapal yang masih berada di dasar laut.

Menurut ICOMOS, seluruh peninggalan itu menjadi bukti nyata dari peristiwa yang membuka jalan bagi kembalinya kebebasan dan terciptanya perdamaian jangka panjang di Benua Eropa.

Meski telah diakui UNESCO, kawasan tersebut tetap menghadapi berbagai ancaman. ICOMOS meminta pengawasan dan upaya pelestarian diperkuat karena meningkatnya jumlah wisatawan, perubahan iklim, kenaikan permukaan laut, hingga pembangunan ladang turbin angin di sekitar lokasi dinilai dapat mengganggu kelestarian situs.

Delegasi Tetap Prancis untuk UNESCO, Ahlem Gharbi, mengatakan pendaratan di Normandia menjadi titik balik dari konflik global menuju tatanan dunia yang dibangun di atas perdamaian dan keamanan. Menurutnya, pengakuan UNESCO terasa semakin bermakna di tengah situasi dunia yang kembali diwarnai berbagai konflik dan peperangan.

Sejarawan David Edgerton pun menilai operasi D-Day merupakan salah satu pendaratan amfibi terbesar sepanjang sejarah. "Ini mungkin pendaratan amfibi terbesar yang pernah terjadi. Itu saja sudah cukup menjadi alasan untuk terus dikenang," ujarnya, seperti dikutip dari pada Senin (27/7/2026).

Gunung Para Dewa Ikut Masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO

Selain Normandia, UNESCO juga menetapkan Gunung Olympus di Yunani sebagai situs warisan budaya sekaligus alam. Pengakuan itu menjadi hasil perjuangan pemerintah Yunani selama 12 tahun.

Dengan ketinggian 2.918 meter, Gunung Olympus dipercaya dalam mitologi Yunani sebagai tempat bersemayam Zeus, pemimpin para dewa, bersama 11 dewa Olympus lainnya.

Di balik kisah mitologinya, gunung ini juga dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Wali Kota Dion-Olympus, Evangelos Geroliolios, mengatakan status Warisan Dunia membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga kelestarian kawasan tersebut, terutama jika jumlah wisatawan terus meningkat.

Delegasi Yunani untuk UNESCO, Georgios Koumoutsakos, menegaskan negaranya berkomitmen menjaga Gunung Olympus untuk generasi sekarang maupun mendatang.

"Kami menegaskan kembali komitmen yang tak tergoyahkan untuk melindungi Gunung Olympus demi generasi kini dan masa depan. Seperti yang diingatkan mitologi Yunani, selalu lebih baik menjaga hubungan baik dengan para dewa," katanya.

Kawasan Asuka-Fujiwara Jepang dan Boma-Badingilo Migratory Landscape di Sudan

UNESCO juga menetapkan kawasan Asuka-Fujiwara di Prefektur Nara, Jepang. Kompleks yang terdiri atas 19 situs arkeologi itu menjadi saksi lahirnya negara terpusat pertama Jepang pada abad ke-6 hingga ke-8 dan menjadi cikal bakal perkembangan kota-kota kuno seperti Nara dan Kyoto.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berharap status Warisan Dunia mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk mengenal sejarah awal peradaban Jepang.

Sementara itu, Sudan Selatan akhirnya memiliki situs Warisan Dunia pertamanya melalui Boma-Badingilo Migratory Landscape. Kawasan rawa, sabana, dan dataran banjir tersebut menjadi jalur migrasi sekitar enam juta antelop serta habitat gajah, singa, cheetah, dan beragam satwa liar lainnya.

Selama ratusan tahun, kawasan tersebut juga menjadi tempat hidup masyarakat lokal yang menggantungkan hidup dari beternak, bertani, dan menangkap ikan.

Pengakuan UNESCO itu membuktikan bahwa semua tempat tersebut memiliki nilai yang berharga sehingga harus dijaga agar tidak hanya menjadi cerita dalam buku sejarah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.