Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan (Pemkot Jaksel) mengapresiasi pengelola PD Pasar Jaya yang memiliki teba modern (lubang komposter) di Pasar Minggu untuk kelola sampah organik.

"Pengelolaan di sini sudah cukup baik karena pemisahan sampah dilakukan sejak awal. Sampah yang masuk ke teba modern adalah sampah organik," kata Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo saat ditemui di Pasar Minggu, Jakarta, Senin.

Syafrin mengatakan kapasitas pengolahan sampah sekitar enam hingga delapan ton sampah per hari.

Keberadaan fasilitas tersebut dinilai mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPS di sekitar pasar secara signifikan.

Selain pengelolaan sampah organik, pihaknya juga mengelola sampah non organik untuk kembali dipilah.

"Sedangkan sampah non organik dan residu dibawa ke lokasi lain untuk pemilahan lebih lanjut," ucapnya.

Kelurahan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengembangkan konsep ekonomi sirkular atau berkelanjutan berbasis warga melalui pengelolaan sampah dari sumber, ketahanan pangan, hingga pemanfaatan limbah rumah tangga agar memiliki nilai tambah ekonomi.

Konsep tersebut diwujudkan melalui pengembangan bank sampah, komposter, lodong sisa dapur (losida), budidaya pangan hingga pengumpulan minyak jelantah.

Menurut dia, berbagai inovasi tersebut berangkat dari gagasan warga yang kemudian difasilitasi pemerintah kelurahan bersama berbagai pemangku kepentingan.

Ia menuturkan saat ini terdapat 12 bank sampah aktif di 10 RW yang secara rutin melakukan penimbangan sampah anorganik setiap bulan.

Bahkan pada Juni 2026, volume sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan mencapai lebih dari 800 kilogram dalam sekali penimbangan dan di sejumlah RW sudah dilakukan dua kali penimbangan dalam sebulan.

Selain itu, sejumlah RW juga mengembangkan komposter dan alat pencacah kompos untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk.