Komut MGPA: Veda Ega asal Gunungkidul Bukti Talenta Indonesia Mampu Tembus Sirkuit Balap Dunia
Joko Widiyarso July 27, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Potensi anak muda Indonesia untuk berprestasi di dunia balap motor dinilai sangat besar.

Dengan bonus demografi yang dimiliki, Indonesia memiliki banyak talenta yang mampu bersaing hingga level tertinggi, seperti Veda Ega Pratama asal Gunungkidul di Moto3 dan Mario Aji dari Magetan di Moto2.

Komisaris Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), Marrel Suryokusumo, mengatakan keberhasilan dua pebalap tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan pembalap Indonesia mampu menghasilkan atlet yang kompetitif di kancah internasional.

“Potensial anak-anak muda Indonesia untuk masuk ke olahraga itu sangat banyak karena demografi kita anak-anak mudanya sangat banyak. Salah satunya di motorsport. Kita bisa buktikan dua putra bangsa ini bisa sampai ke tingkat tertinggi balap motor. Syukur salah satunya Veda Ega Pratama dari Jogja dan Mario dari Magetan,” ujar Marrel, Senin (27/7/2026).

Ia berharap perjalanan karier kedua pebalap muda itu terus berkembang. Menurutnya, proses pembinaan dan mental bertanding jauh lebih penting daripada sekadar hasil di lintasan.

“Hasilnya baik atau buruk itu urusan belakang. Yang penting proses harus tetap berjalan terus, mental harus jadi, karena tidak akan ada kesempatan kedua. Kesempatan seperti ini jarang,” katanya.

Marrel juga mengajak masyarakat Indonesia untuk terus memberikan dukungan kepada para dua pebalap ini, bukan hanya ketika meraih kemenangan, tetapi juga saat mereka masih berjuang membangun prestasi.

“Ketika mereka di bawah, kita support. Ketika mereka di atas, kita support juga. Jadi jangan hanya mendukung saat mereka menang, tetapi ketika mereka sedang berjuang juga harus kita dukung,” ujarnya.

Menanggapi wacana pembangunan sirkuit di Gunungkidul yang sempat mencuat, Marrel mengaku belum menerima informasi ataupun pembahasan resmi mengenai rencana tersebut.

Menurutnya, fokus saat ini masih diarahkan pada pengembangan Sirkuit Mandalika sebagai satu-satunya sirkuit berstandar MotoGP di Indonesia.

“Belum sampai ke kami. Untuk saat ini kami fokus dulu hanya di Mandalika karena saat ini satu-satunya sirkuit yang punya grade tinggi untuk MotoGP adalah Mandalika. Yang ada dulu harus kita maksimalkan,” ucapnya.

Pentingnya jalur pembinaan

Ia menilai daerah-daerah lain tetap memiliki peran penting sebagai jalur pembinaan atau feeder bagi pebalap muda sebelum naik ke level yang lebih tinggi.

“Boyolali dan daerah lain itu harus jadi feeder. Kelas-kelas di sana menjadi jenjang menuju level berikutnya,” katanya.

“Saya yakin Mario dan Veda juga lahir dari Sirkuit Mandalika. Mereka berprestasi di sana, dan saya berharap kita bisa terus mengibarkan Merah Putih di Mandalika,” ujarnya.

Terkait kemungkinan Yogyakarta memiliki fasilitas latihan balap motor, Marrel menyebut hal tersebut memungkinkan, tetapi perlu melalui kajian yang matang.

Ia menegaskan fasilitas latihan berbeda dengan membangun sirkuit balap yang membutuhkan investasi besar dan pengelolaan berkelanjutan.

“Kalau untuk latihan harus di-studi. Tempat latihan dulu. Karena sirkuit itu tidak mudah. Pengelolaan sirkuit di banyak negara juga penuh tantangan. Singapura saja memanfaatkan jalan raya, Malaysia pun sempat mengalami tantangan dengan Sepang,” jelasnya.

Menurutnya, setelah Mandalika berkembang optimal, daerah lain dapat mulai mengembangkan lintasan uji coba atau pusat latihan pembalap sebagai bagian dari sistem pembinaan nasional.

“Nanti kalau sudah optimal, daerah-daerah lain bisa mengembangkan test track atau fasilitas latihan. Seperti training center di cabang olahraga lain, stadion utamanya mungkin satu, tetapi pusat latihannya bisa tersebar di berbagai daerah,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.