TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Seorang warga mengurai kronologi bentrokan maut di kawasan Jalan Tambak, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat.
Salah satunya pekerja bengkel bernama Abdul Kadir (52) mengaku sangat terkejut ketika mengetahui puluhan ban dagangannya hangus dibakar oleh sekelompok massa dari pihak luar pada Minggu (26/7/2026) malam.
"Kompresor udah ditutup, tampak ban-ban bekas, ban-ban yang masih bisa dipakai, dibakar sama mereka di sini. Sekitar 10 sampai 20 ban lah," ungkap Abdul kepada wartawan di lokasi, Senin (27/7/2026).
Abdul menjelaskan bahwa ban yang dibakar merupakan ban bekas yang sebenarnya masih sangat layak pakai.
Biasanya, ban-ban bekas itu ia jual kepada pelanggan yang ingin menambal atau mengganti ban bekas yang harganya lebih terjangkau.
"Satu ban (dijual) Rp 30.000 sampai Rp 50.000 lah, itu kasarnya, kalau dihitung berarti kurang lebih setengah juta (kerugiannya)," ucapnya.
Abdul mengaku, ia menyaksikan awal mula bentrokan dipicu oleh sekelompok pemuda tidak terima ditegur warga saat menggeber motor dengan knalpot bising.
Kelompok tersebut sempat pergi, namun kembali lagi dalam jumlah besar dengan membawa berbagai senjata tajam dan langsung mengacak-acak lapak milik pedagang setempat.
"Balik lagi ke sini bawa barang gede-gede, apa golok-golok gitu yang gede-gede, wah sudah jagoan. Terus warga sini sudah diacak-acak tempat pedagang kita," kata Abdul.
Tindakan perusakan itulah yang akhirnya memancing perlawanan dari warga asli Matraman Dalam hingga akhirnya terjadi bentrokan.
"Mungkin anak-anak (warga) sini kesal nih, berani-beraninya di kampung gua, diserang balik. Cuma mereka bawa senjata, bawa samurai atau klewang, pisau. Sempat ngelawan sih, warga sini ngelawan," jelasnya.
Baca juga: Pengakuan Sopir Mobil Lawan Arah di Gunung Sahari, Habis Beli Dimsum Bareng Pacar Malah Bikin Rusuh
Sementara, kejadian pembakaran di bengkelnya sendiri terjadi pada sekitar pukul 23.00 WIB malam.
Saat itu, bengkelnya sudah dalam kondisi tutup dan ia baru saja tiba di rumahnya karena mengira situasi sudah berangsur kondusif.
Namun, tak lama berselang, ia mendapat kabar dari warga bahwa kelompok massa kembali melakukan penyerangan ke kawasan Kampung Matraman Dalam.
"Saya sudah pulang, pas baru sampai rumah, (ada kabar) mereka nyerang gitu. Terus saya keluar lagi, datang ke sini, eh dilihat waduh kebakaran," ujarnya.
Mendapati kabar tersebut, ia bergegas kembali ke bengkel.
Namun, langkahnya terhenti karena aparat kepolisian dan TNI sudah memblokade jalan menuju ke Matraman Dalam untuk meredam keributan dan mencegah massa masuk lebih dalam.
"Malam saya datang tuh nggak bisa sampai sini karena dijaga sama polisi. Tentara di sini penuh nih sama polisi. Nggak bisa lewat ke sini, mentok aja. Cuma melihat sudah ada bakaran api," kata dia.
Melihat kobaran api dari kejauhan, perasaannya campur aduk.
Selain puluhan ban, gerombolan massa tersebut juga membakar sebuah tempat sampah yang berada persis di dekat motor di area lapaknya.
Beruntung, lapak tempat Abdul bekerja tak ikut terbakar dilalap api.
Ia mengaku sempat sangat khawatir kompresor yang menjadi salah satu peralatan utamanya di bengkel ikut rusak oleh massa.
"Terus anak-anak bilang 'Waduh ban kebakaran, ban dibakar'. Kaget bukan main juga dong. Ya kaget lah, kompresor dibakar nih kayaknya, saya pikir. Tapi kompresor enggak mungkin dibakar. Jadi akhirnya saya masa bodoh aja lah, biar aja. Yang penting kompresor aman lah," ucapnya.
Setelah situasi mulai mereda dan massa membubarkan diri akibat adangan polisi, Abdul baru bisa mendekat ke lapaknya sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.
Saat mengais sisa-sisa abu pembakaran ban dagangannya, ia justru menemukan sebuah serpihan yang diduga merupakan bekas anak panah yang tertinggal.
"Tadi pagi saya nemu senjata mereka nih, panah. Panah mereka. Nah itu saya dapatnya di pembakaran ini nih, bakaran ban. Di kantong saya ada nih panahnya," ungkapnya.
Menurutnya, serpihan senjata tersebut bisa sangat berbahaya dan menimbulkan luka fatal jika sampai mengenai warga atau aparat.
Ia pun berinisiatif langsung mengamankannya dan menyimpannya.
Kini, ia berharap aparat dapat mendamaikan keadaan karena bentrokan sesama warga akan merugikan masyarakat.
"Kalau dari saya, damai-damai aja lah dari kedua pihak. Buat apa sih kayak gini, kita kan satu bangsa, harus menggalang persatuan. Buat apaan diperbesar ya kan? Maunya dari kedua belah pihak saling merangkul," tutupnya.
Sumber: Kompas.com