TRIBUNWOW.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan program sayembara bagi warga yang membantu menangkap pelaku kejahatan tidak dimaksudkan untuk mendorong aksi main hakim sendiri. Menurutnya, program tersebut justru bertujuan meningkatkan keberanian masyarakat sekaligus mendorong penegakan hukum melalui kepolisian.
Pernyataan itu disampaikan Dedi usai mengunjungi Satreskrim Polres Purwakarta, Senin (27/7/2026).
Menurut Dedi, sejak sayembara diumumkan, ia melihat perubahan psikologis di tengah masyarakat. Warga dinilai lebih berani beraktivitas tanpa terus dibayangi rasa takut terhadap aksi kriminalitas.
"Sejak sayembara diumumkan, warga jadi lebih berani keluar rumah. Bahkan ada yang bercanda, nongkrong malam-malam siapa tahu bisa menangkap begal. Ini menunjukkan keberanian masyarakat mulai tumbuh," ujar Dedi kepada wartawan di Mapolres Purwakarta, Senin.
Pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi itu juga mengapresiasi kinerja jajaran kepolisian di Jawa Barat yang dinilai semakin masif mengungkap berbagai kasus kejahatan.
Menurutnya, keberhasilan aparat membongkar jaringan begal di Sumedang maupun Kota Bandung menjadi bukti kuatnya sinergi antara masyarakat dan kepolisian.
"Kinerja Polda Jawa Barat dan seluruh Polres saat ini sangat luar biasa. Berbagai jaringan pelaku kejahatan mulai berhasil diungkap," katanya.
Dedi menilai masyarakat tidak seharusnya terus hidup dalam ketakutan akibat ulah segelintir pelaku kriminal.
Dengan jumlah penduduk Jawa Barat yang mencapai puluhan juta jiwa, ia menegaskan justru pelaku kejahatan yang seharusnya takut kepada masyarakat yang bersatu melawan kriminalitas.
Baca juga: Dedi Mulyadi Apresiasi Kapolda Jabar Beri Sanksi kepada 3 Oknum Polisi di Mobil Alphard
"Kita ini puluhan juta penduduk. Masa psikologi masyarakat harus terganggu hanya oleh ratusan pelaku kejahatan. Jangan sampai jutaan orang takut kepada segelintir pelaku. Justru mereka yang harus takut kepada masyarakat yang bersatu melawan kejahatan," ujarnya.
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan program sayembara juga dirancang untuk menekan aksi main hakim sendiri. Selama ini, kata dia, pelaku pencurian kerap menjadi sasaran amuk massa karena warga terbawa emosi setelah menjadi korban.
Melalui program tersebut, masyarakat diharapkan cukup menangkap pelaku, lalu menyerahkannya kepada polisi agar diproses sesuai ketentuan hukum.
"Kalau pelaku berhasil ditangkap dan diserahkan ke polisi, ada penghargaan. Jadi tidak perlu dipukuli atau dihakimi. Tujuan sayembara justru untuk mencegah terjadinya main hakim sendiri," ujarnya.
Dedi mengaku telah beberapa kali menangani kasus pelaku kejahatan yang meninggal akibat amuk massa, mulai dari kasus pencurian kendaraan bermotor di Subang, pencurian kambing di Banten, hingga pencurian hasil pertanian di Cianjur.
Ia mengatakan pernah memberikan bantuan kepada keluarga pelaku sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan.
"Selama ini tanpa sayembara pun aksi main hakim sendiri sudah sering terjadi. Dengan adanya sayembara, masyarakat cukup menangkap pelaku, serahkan kepada polisi, dan biarkan proses hukum berjalan. Itu justru cara terbaik untuk mencegah kekerasan," ujar Dedi.
Baca juga: Dikritik Dua Menteri, Dedi Mulyadi Tegaskan Tujuan Sayembara Tangkap Begal
(*)