TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap dan jerebu di sejumlah wilayah Kalimantan Barat mulai dirasakan di sektor pendidikan.
SMAN 8 Pontianak mencatat adanya peningkatan jumlah siswa yang sakit diduga akibat kualitas udara yang memburuk dalam sepekan terakhir.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 8 Pontianak, Syaiful Efendi, mengatakan kondisi jerebu mulai terasa sejak sekitar sepekan terakhir setelah hujan tidak lagi turun di Kota Pontianak.
"Kalau menurut pantauan kita, mungkin seminggu terakhir ini sudah mulai terasa. Sebelumnya Pontianak sempat diguyur hujan sehingga dampaknya belum begitu dirasakan. Nah sekarang jerebu sudah mulai terasa sekali. Di rumah saya sendiri saja debunya luar biasa banyak, setiap pagi dan sore terlihat jelas," ujarnya saat diwawancarai tribunpontianak.co.id, di Jl Ampera Pontianak Kota, Senin 27 Juli 2026.
Menurut Syaiful, secara umum aktivitas belajar mengajar masih berjalan normal.
Namun, dampak terhadap kesehatan siswa mulai terlihat dari meningkatnya jumlah siswa yang tidak masuk sekolah karena sakit.
"Kalau secara umum mungkin belum terlalu berdampak. Tapi memang dampaknya sudah mulai ada. Biasanya tingkat kehadiran siswa antara 99 sampai 100 persen. Hari ini saja ada satu kelas yang sampai enam orang tidak masuk dan semuanya berketerangan sakit. Saya yakin ini ada dampaknya dari kondisi cuaca di Pontianak," katanya.
Ia mengungkapkan sebagian siswa yang tidak hadir mengeluhkan gangguan pernapasan yang mengarah pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
"Sudah ada siswa yang mengeluhkan sakit akibat jerebu. Mereka tidak hadir karena sakit, salah satunya dengan gejala ISPA," ucapnya.
Baca juga: Polresta Pontianak Tingkatkan Patroli Karhutla Bersama Tiga Pilar dan BPBD Kota Pontianak
Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah mulai mengurangi intensitas kegiatan di luar ruangan serta mengimbau siswa membatasi aktivitas di luar sekolah.
"Untuk upaya langsung memang sementara ini kami lebih banyak memberikan penghimbauan. Aktivitas di luar ruangan mulai kami kurangi dan lebih banyak dilakukan di dalam kelas. Kalau ada siswa yang mengalami sesak napas, kami sudah menyiapkan ruang UKS lengkap dengan oksigen," jelasnya.
Syaiful menambahkan, sekolah juga memiliki tenaga kesehatan dan telah bekerja sama dengan puskesmas terdekat apabila terdapat siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
"Kalau tidak bisa kami tangani di sekolah, kami langsung rujuk ke puskesmas yang lokasinya tepat di depan sekolah. Kami memang sudah bekerja sama untuk penanganan siswa yang terdampak," katanya.
Meski kegiatan luar ruangan seperti upacara masih dilaksanakan, pihak sekolah terus memantau perkembangan kualitas udara.
Apabila kondisi semakin memburuk, sejumlah kegiatan akan disesuaikan.
"Kalau kondisi semakin parah, ekstrakurikuler bisa dihentikan, upacara ditiadakan, pembinaan dilakukan di kelas, bahkan pelajaran olahraga dialihkan menjadi teori," ujarnya.
Terkait kemungkinan penyesuaian jam belajar atau pembelajaran dari rumah, Syaiful menegaskan sekolah masih menunggu arahan dari pemerintah.
"Kalau untuk itu kami harus menunggu instruksi dari pimpinan. Sekolah tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Kalau memang nanti ada arahan untuk belajar dari rumah, tentu akan kami patuhi," tegasnya.
Ia juga berharap orang tua turut berperan dalam melindungi anak dari dampak jerebu dengan membatasi aktivitas di luar rumah dan memastikan penggunaan masker.
"Kalau di sekolah tentu menjadi tanggung jawab kami, tetapi di rumah peran orang tua sangat besar. Kami berharap anak-anak menggunakan masker dan lebih banyak berada di rumah saat kondisi seperti ini," katanya.
Syaiful berharap pemerintah dapat mempercepat penanganan karhutla agar dampaknya tidak semakin meluas dan mengganggu kesehatan masyarakat.
"Kita berharap ada upaya yang lebih maksimal agar kebakaran hutan tidak terus terjadi. Kalau memang ada titik api, segera dipadamkan supaya tidak berdampak luas bagi seluruh masyarakat Kalimantan Barat," pungkasnya. (*)