Dugaan Salah Diagnosis di Puskesmas, Bocah di Samarinda Jalani Operasi Akibat Usus Buntu Pecah
Christoper Desmawangga July 28, 2026 05:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Dugaan kelalaian dan salah diagnosis medis kembali mencuat di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). 

Seorang anak laki-laki berusia enam tahun diduga terlambat mendapatkan penanganan medis sehingga harus menjalani operasi bedah terbuka (laparatomi) setelah usus buntunya pecah dan mengalami infeksi berat.

Korban merupakan putra dari Sulung Nugroho, warga Samarinda Utara.

Baca juga: Kronologi Dugaan Malapraktik di Samarinda, Bermula dari Diagnosis Usus Buntu

Keluarga menilai keterlambatan diagnosis di Puskesmas Lempake menyebabkan kondisi anak memburuk hingga harus menjalani tindakan operasi besar di rumah sakit.

Peristiwa itu bermula pada Selasa, 8 Juli 2026, ketika ibu korban membawa anaknya berobat ke Puskesmas Lempake karena mengeluhkan sakit perut.

Menurut keluarga, dokter yang memeriksa saat itu mendiagnosis korban mengalami gangguan lambung dan memberikan obat.

Namun, hingga Jumat, 11 Juli 2026, kondisi anak tidak kunjung membaik.

Keluarga kembali mendatangi puskesmas untuk memastikan penyebab penyakit yang diderita.

Baca juga: Anak Jalani Operasi Usus Buntu, Indri Bersyukur Jadi Peserta JKN Sehingga Tak Perlu Pikirkan Biaya

Meski kondisi korban disebut semakin lemas dan terus mengeluhkan nyeri perut, keluarga mengaku diagnosis tetap tidak berubah dan korban kembali dipulangkan dengan obat yang sama.

Pada Sabtu, 12 Juli 2026, korban kembali mendatangi instalasi gawat darurat dan memperoleh surat rujukan.

Namun, menurut keluarga, rujukan tersebut baru dapat digunakan pada Senin, 13 Juli 2026, karena bertepatan dengan akhir pekan.

Setelah dirujuk ke RS dr. Dirgahayu Samarinda, hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) menunjukkan korban mengalami apendisitis akut atau usus buntu yang telah pecah.

Menurut ayah korban, tim dokter di rumah sakit menilai kondisi anak sudah terlambat ditangani karena usus buntunya telah pecah, bernanah, serta menyebabkan infeksi pada rongga perut (peritonitis).

Baca juga: Kronologi Dugaan Malapraktik di Samarinda, Bermula dari Diagnosis Usus Buntu

"Dia (dokter) marah. Kenapa baru dibawa sekarang? Kenapa enggak minggu depan atau bulan depan sekalian? Intinya dokter bilang kondisinya sudah terlambat," ujar Sulung menirukan ucapan dokter yang menangani anaknya.

Akibat kondisi tersebut, tim medis harus melakukan operasi laparatomi atau pembedahan terbuka pada rongga perut.

Korban kemudian menjalani perawatan intensif di ruang PICU dan dirawat selama sekitar10 hari sebelum diperbolehkan pulang pada 23 Juli 2026.

Kecewa dengan Penanganan Awal

Sulung mengaku kecewa karena belakangan mengetahui dokter yang melakukan pemeriksaan pada 11 Juli merupakan dokter internship.

Baca juga: DPRD Kaltim Soroti Dugaan Malpraktik RSUD AWS Samarinda, Ananda Moeis Minta Investigasi Menyeluruh

Ia juga mempertanyakan tidak dilakukannya pemeriksaan penunjang, seperti tes laboratorium darah, meski kondisi anak tidak menunjukkan perbaikan setelah beberapa hari.

"Saya bukan terlambat membawa anak saya. Saya sudah datang ke faskes pertama berkali-kali sejak tanggal 8 dan 11 Juli, tetapi diagnosisnya selalu dikunci pada sakit lambung tanpa ada tes darah atau pemeriksaan laboratorium," katanya.

Kekecewaan keluarga semakin bertambah setelah mengikuti proses mediasi di Puskesmas Lempake pada Senin, 27 Juli 2026.

Menurut Sulung, dokter internship yang menangani anaknya tidak dihadirkan dalam pertemuan tersebut.

Ia mengatakan pihak puskesmas justru menyampaikan hasil audit internal yang menyebut seluruh prosedur pelayanan telah sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Baca juga: 4 Fakta Nanie Darham Diduga Meninggal Karena Malpraktik Operasi Sedot Lemak, Biaya hingga Efek

"Yang katanya akan menghadirkan dokternya, ternyata tidak dihadirkan. Yang datang justru pendampingnya dan menyampaikan bahwa semua sudah sesuai SOP," ujarnya.

Selain itu, Sulung juga mengaku sempat mendengar pernyataan salah seorang tenaga kesehatan yang menanggapi ancaman keluarganya untuk memviralkan kasus tersebut.

"Dia sempat mengatakan, 'Ya, viralkan saja.' Belakangan memang meminta maaf dan mengaku itu karena
terbawa emosi. Tetapi bagi saya, kalau bukan dia yang menangani anak saya, seharusnya tidak menanggapi seperti itu," tuturnya.

Karena mediasi dinilai tidak menghasilkan penyelesaian, keluarga kini berkonsultasi dengan tim kuasa hukum dan berencana melayangkan somasi kepada pihak puskesmas.

"Harapan kami sebenarnya sederhana, hanya ingin ada pengakuan jujur apabila memang terjadi kesalahan prosedur agar tidak ada lagi anak lain yang mengalami hal serupa. Karena tidak ada pengakuan, kami akan menempuh langkah hukum," tegasnya.

Baca juga: Bayi di RSUD AWS Diduga Jadi Korban Malpraktik, Dinkes Kaltim Turun Tangan

Ia menilai keterlambatan diagnosis tersebut telah menimbulkan kerugian, baik secara materi maupun terhadap kondisi kesehatan anaknya di masa depan.

Saat ini, kondisi korban dilaporkan terus membaik dan menjalani proses pemulihan di rumah dengan pengawasan keluarga.

Pelayanan Sudah Sesuai SOP

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Puskesmas Lempake, Komang Ayu Indah Ardhani, membantah adanya pelanggaran prosedur dalam penanganan pasien.

Saat ditemui Tribun Kaltim di ruang kerjanya, Senin (27/7/2026) sore, Komang menyatakan pihaknya telah melakukan pelayanan sesuai standar yang berlaku.

Baca juga: Dugaan Malpraktik, Ibu dan Bayi Meninggal saat Persalinan, Suami Lapor ke Polisi

"Kami tidak bisa memberikan informasi secara detail kepada teman-teman media. Yang bisa kami sampaikan, kami sudah melayani sesuai dengan prosedur," ujarnya.

Ketika ditanya mengenai diagnosis awal yang menyebut pasien mengalami gangguan lambung, Komang memilih tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

"Mohon maaf, kami tidak bisa memberikan informasi," katanya.

Ia juga enggan menjelaskan alasan dokter internship yang menangani pasien tidak hadir dalam mediasi maupun menanggapi dugaan adanya tenaga kesehatan yang menantang keluarga untuk memviralkan kasus tersebut.

"Silakan tanyakan kepada yang bersangkutan apakah memberikan pernyataan seperti itu," ujarnya singkat.

Baca juga: Polisi Ungkap Penyebab Kematian Artis Nanie Darham via Autopsi, Usut Dugaan Malpraktik Sedot Lemak

Sementara keluarga korban menyatakan akan melanjutkan persoalan tersebut melalui jalur hukum.

Dinkes Lakukan Investigasi

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda bergerak cepat merespons laporan dugaan salah diagnosis yang melibatkan dokter internship di Puskesmas Lempake, Samarinda Utara.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih, mengonfirmasi pihaknya telah menerima laporan terkait penanganan medis terhadap seorang pasien anak yang diduga mengalami keterlambatan diagnosis hingga harus menjalani operasi usus buntu.

Menurutnya, Dinkes akan segera meminta klarifikasi kepada pihak Puskesmas Lempake sekaligus menurunkan tim untuk melakukan investigasi lapangan.

"Kami baru menerima informasinya. Akan kami konfirmasi dengan Puskesmas Lempake dan kami tindak lanjuti dengan investigasi lapangan," ujar Ismid kepada Tribun Kaltim melalui pesan WhatsApp, Senin (27/7/2026).

Kasus ini kini menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kota Samarinda.

Hasil investigasi yang akan dilakukan diharapkan dapat mengungkap apakah penanganan medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama tersebut telah sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku atau terdapat hal-hal yang perlu dievaluasi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.