Jerman Gelontorkan Lisensi Senjata Hampir 800 Juta Euro ke Israel, Diduga untuk Proyek Kapal Selam
Nuryanti July 28, 2026 06:19 AM

TRIBUNNEWS.COM - Jerman menyetujui lisensi ekspor senjata senilai hampir 800 juta euro ke Israel sepanjang lima bulan pertama 2026.

Nilai tersebut melampaui total lisensi yang diterbitkan selama gabungan 20 bulan sebelumnya, menandai lonjakan tajam dukungan militer Berlin kepada sekutunya di Timur Tengah.

Data tersebut diungkap pemerintah Jerman melalui jawaban Kementerian Luar Negeri Federal atas pertanyaan parlemen dari partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD).

Hampir seluruh persetujuan lisensi diberikan pada April dan Mei 2026.

Pemerintah Jerman menyatakan lebih dari 60 persen nilai lisensi itu dialokasikan untuk satu "proyek maritim besar" yang identitasnya tidak diungkap ke publik.

Sejumlah analis menilai proyek tersebut sangat mungkin merujuk pada pengiriman kapal selam buatan Thyssenkrupp Marine Systems (TKMS) untuk Angkatan Laut Israel.

Kapal selam yang paling banyak disebut adalah INS Drakon, kapal selam kelas Dolphin II yang diperkirakan bernilai sekitar 480 juta euro dan dilaporkan telah diserahkan kepada Angkatan Laut Israel pada pekan lalu.

Menurut sejumlah laporan, kapal selam tersebut dapat dipersenjatai dengan Vertical Launch System (VLS) yang memungkinkan peluncuran rudal jelajah maupun rudal balistik.

Jika benar, kemampuan itu akan memperkuat kapasitas serangan balasan Israel dari laut.

Pada Mei lalu, TKMS juga menandatangani nota kesepahaman kerja sama dengan Elbit Systems, perusahaan pertahanan swasta terbesar di Israel.

Namun, Kementerian Luar Negeri Jerman maupun Kementerian Urusan Ekonomi dan Energi menolak memberikan komentar mengenai rincian proyek tersebut.

Peneliti senior Bonn International Centre for Conflict Studies, Max Mutschler, menilai sikap pemerintah menunjukkan minimnya transparansi terkait ekspor persenjataan.

"Sayangnya, fakta bahwa pemerintah federal tidak secara eksplisit menyebutkan hal ini juga merupakan ciri khas kurangnya transparansi seputar ekspor senjata," kata Mutschler kepada Al Jazeera.

Kebijakan Berlin Berubah

Lonjakan lisensi ekspor ini muncul setelah Jerman sempat membatasi penjualan persenjataan yang berpotensi digunakan Israel dalam operasi di Jalur Gaza.

Pada Agustus lalu, Kanselir Friedrich Merz menyatakan Berlin tidak lagi menerbitkan lisensi untuk perlengkapan militer tertentu yang dapat digunakan di Gaza.

Namun kebijakan itu hanya berlangsung singkat.

Pada November, pemerintah kembali memproses permohonan ekspor berdasarkan penilaian kasus per kasus, sementara pengiriman yang telah memperoleh izin sebelumnya tetap berjalan.

Keputusan terbaru ini kembali memicu kritik karena diambil ketika operasi militer Israel di Gaza masih menjadi sorotan internasional.

Ruth Rohde dari organisasi riset Inggris Shadow World Investigations menilai ekspor kapal selam akan semakin memperkuat kemampuan militer Israel.

"Pada saat Israel melancarkan perang brutal terhadap negara-negara tetangganya dan melakukan genosida di Gaza, ekspor kapal selam ini akan memberi Israel alat lain dalam persenjataan pemusnah massalnya," ujar Rohde kepada Al Jazeera.

Industri Pertahanan Jerman Melonjak

Sepanjang semester pertama 2026 Jerman menerbitkan lisensi ekspor senjata senilai 13,87 miliar euro, lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Ukraina masih menjadi penerima utama ekspor senjata Jerman.

Baca juga: Kapal Selam Scorpene Evolved Mulai Diproduksi di Surabaya, Diperkuat Teknologi Litium-Ion

Mutschler mengatakan sebagian besar pemerintah Jerman masih memandang ekspor senjata sebagai instrumen untuk memperkuat industri pertahanan nasional.

"Ekspor senjata telah dan terus dipandang oleh sebagian besar pemerintah federal terutama dari perspektif ekonomi dan disambut sebagai sarana untuk memperkuat industri pertahanan," ujarnya.

Sementara itu, peneliti Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Pieter D Wezeman, menyebut permintaan persenjataan di Eropa meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

"Permintaan senjata di Eropa telah meningkat secara dramatis selama beberapa tahun terakhir, sedangkan permintaan senjata di banyak bagian dunia lainnya tampaknya tidak menurun atau kemungkinan akan meningkat," kata Wezeman kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan, Jerman kini menjadi negara dengan belanja militer terbesar di Eropa di luar Rusia, sehingga industri pertahanannya diperkirakan akan terus memainkan peran penting dalam pasar persenjataan kawasan.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.