TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabar mengenai kasus kematian satpam bernama Sumarna (42) di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kembali menjadi perhatian publik setelah muncul isu tentang sosok yang diduga terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Di media sosial, beredar informasi yang menyebut bahwa terduga pelaku merupakan gerombolan bocah yang diduga sebelumnya terlibat cekcok dengan korban.
Isu tersebut semakin ramai setelah Sumarna ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan tangan terborgol dan tubuhnya mengambang di Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026).
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa sebelum ditemukan tewas, Sumarna diduga sempat berselisih dengan sekelompok pemuda yang melakukan aksi vandalisme di sekitar kawasan waduk.
Perselisihan tersebut kemudian dikaitkan dengan dugaan keterlibatan kelompok remaja dalam kasus kematian Sumarna.
Bahkan, muncul tangkapan layar akun media sosial bernama RPM Purwakarta yang disebut-sebut sebagai akun milik kelompok yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
Dalam tangkapan layar yang beredar, terlihat sejumlah remaja yang diduga masih berusia di bawah umur sedang berpose bersama.
Kemunculan foto tersebut kemudian semakin memicu spekulasi warganet mengenai identitas kelompok yang disebut-sebut pernah terlibat cekcok dengan korban.
Namun, informasi yang beredar di media sosial tersebut belum tentu sesuai dengan fakta sebenarnya dan masih membutuhkan pembuktian dari pihak berwenang.
Menanggapi isu yang semakin berkembang, pihak kepala desa akhirnya angkat bicara untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi sebenarnya di lapangan.
Kepala desa pun mengurai fakta terkait kabar yang menyebut gerombolan bocah sebagai pihak yang diduga menjadi pelaku pembunuhan Sumarna.
Baca juga: Sebelum Tewas Diborgol, Satpam di Jatiluhur Bahas Laporan Polisi, Kini Pelaku Vandalisme Diamankan
Penjelasan tersebut diharapkan dapat meluruskan informasi yang beredar sekaligus mencegah masyarakat mengambil kesimpulan sebelum proses penyelidikan kepolisian selesai.
Sementara itu, kasus kematian Sumarna masih menjadi perhatian dan fakta mengenai siapa pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut tetap menunggu hasil penyelidikan aparat penegak hukum.
Dalam wawancara di kanal Youtube Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kepala desa membantah isu soal Sumarna sempat terlibat konflik dengan pemuda atau gerombolan bocah seperti yang beredar.
Namun kades menyebut bahwa Sumarna bukannya cekcok atau memarahi para pelaku vandalisme, melainkan cuma bertanya secara baik-baik.
"Bapak tahu enggak si bapak ini (Sumarna) siapa tahu sebagai Linmas pernah berkonflik?" tanya Dedi Mulyadi.
"Di tanggul tuh ada coret-coret (tulisan) 'ini gaya aing', itu di sana ada (tulisan) RPM, GBR. Saya dengar dari anak karang taruna di sana, pak almarhum itu pernah memanggil, karena tidak diketahui yang nulisnya, sehingga menanyakan yang dianggap ini anak GBR," ungkap kades.
"Oh jadi almarhum tidak tahu siapa yang nulis?" tanya Dedi Mulyadi lagi.
"Iya tidak tahu," kata kades.
Bantah isu yang berkembang, kades menceritakan cerita dari karang taruna di wilayahnya.
Bahwa yang sebenarnya terjadi adalah Sumarna baik-baik bertanya ke terduga anggota geng RPM tersebut.
"Yang dipanggil (sama almarhum) siapa?" tanya Dedi.
"Yang dianggap anggota GBR atau anggota RPM. Dia menanyakan 'ini siapa yang coret-coret ini?'. Dia (anak-anak yang dipanggil) enggak ngaku. (Lalu almarhum bilang) 'tolong lah kalau ada yang merasa mencoret ini dihapus aja," pungkas kades.
Baca juga: Chat Terakhir Sumarna Satpam yang Tewas Terborgol di Jatiluhur, Istri Cemas Suami Tak Bisa Dihubungi
Karenanya, kades menyebut bahwa isu yang berkembang kalau gerombolan bocah RPM adalah pembunuh Sumarna itu belum bisa divalidasi.
"Belum tentu mengarah ke situ. Karena kan hanya menanyakan dan tidak berkonflik. Karena di media sosial dibuat seperti itu ceritanya, tapi tidak ke sana," kata Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut, kades juga mengonfirmasi soal beredar status WhatsApp Sumarna yang sempat mengeluhkan soal aksi vandalisme di Waduk Jatiluhur.
Kata kades, video yang beredar dan disebut sebagai status WA terakhir Sumarna adalah tidak benar.
"Kan kalau pun ada yang cerita 'disediakan tempat nongkrong malah dicoret-coret'. Itu bukan suara almarhum," pungkas kades.
Sementara itu terkait dengan kabar pelaku pembunuhan Sumarna telah ditangkap, polisi membantahnya dengan tegas.
Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara menyebut bahwa hingga hari ini Senin (27/7/2026), belum ada seorang pun yang ditetapkan sebagai tersangka maupun ditangkap.
Karenanya, AKP I Made Purwantara menegaskan kalau informasi mengenai penangkapan terduga pelaku yang beredar luas di media sosial adalah hoaks.
"Belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Informasi yang beredar di media sosial itu tidak benar, belum ada yang kami amankan," ungkap AKP I Made Purwantara dikutip dari Kompas.com.
Tiga hari setelah penemuan jasad Sumarna, sudah ada 15 orang yang diperiksa penyidik Satreskrim Polres Purwakarta.
Para saksi yang diperiksa itu berasal dari lingkungan keluarga, rekan terdekat, sesama petugas Perum Jasa Tirta II, serta orang-orang yang berada di sekitar lokasi penemuan jenazah.
"Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap 15 saksi. Saksi terdiri dari rekan terdekat, keluarga, rekan kerja sesama petugas PJT II, serta orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian," kata AKP I Made Purwantara.
(Tribunnewsmaker.com/ TribunnewsBogor/ khairunnisa)