Melihat Teknologi Refuse Derived Fuel di TPA Banjardowo Jombang, Olah Sampah Menjadi Bahan Bakar
Irfani Rahman July 28, 2026 08:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- DERU mesin sesekali terdengar memecah suasana di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banjardowo, Kabupaten Jombang. Di antara tumpukan sampah yang setiap hari datang dari berbagai penjuru daerah, sejumlah petugas memilah material yang masih dapat dimanfaatkan kembali.

Bagi sebagian orang, tumpukan sampah mungkin menandai akhir dari siklus sebuah barang. Namun, di Jombang, Jawa Timur, sampah mulai dipandang dari sudut yang berbeda, sebagai sumber energi alternatif yang dapat memberi manfaat baru.

Pemerintah Kabupaten Jombang, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, mengembangkan teknologi refuse derived fuel (RDF), yakni pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat digunakan industri semen menggantikan sebagian penggunaan batu bara.

RDF menjadi salah satu solusi dari pengolahan sampah yang masih menjadi pekerjaan besar untuk Kabupaten Jombang, bahkan di seluruh Indonesia. Sampah diolah menjadi produk yang mempunyai nilai jual ekonomis.

Baca juga: Driver Ojol Perempuan di Banjarmasin Berharap Tersedia Fitur Gender

Baca juga: Rizki Berkorban Selamatkan Adik-adiknya, Rumah Ambruk di Tatah Layap Banjar Menelan Korban Jiwa

Kepala DLH Kabupaten Jombang Miftahul Ulum menjelaskan teknologi RDF ini memanfaatkan sampah plastik dan berbagai jenis sampah anorganik yang sebelumnya tidak lagi memiliki nilai ekonomi.

Material tersebut berasal dari proses pemilahan yang dilakukan masyarakat, bank sampah, pelapak, hingga Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) se-Kabupaten Jombang.

Dengan program ini, sampah yang sebelumnya hanya berakhir di gunungan TPA, kini memiliki kesempatan kedua untuk menjadi sumber energi bagi sektor industri.

Upaya tersebut bukanlah proses yang singkat. Selama sekitar satu tahun terakhir, DLH Jombang bersama industri semen melakukan serangkaian uji coba guna memastikan kualitas RDF yang dihasilkan memenuhi standar kebutuhan industri.

DLH Pemkab Jombang sudah melakukan uji coba mengolah sampah menjadi RDF yang merupakan bahan bakar alternatif untuk pabrik semen. Hasilnya sudah dicek oleh pabrik semen dan dari sisi kalori hasilnya bagus.

Hasil pengujian menunjukkan prospek yang menjanjikan. Meskipun demikian, perjalanan menuju produksi skala besar masih membutuhkan dukungan sarana dan peralatan tambahan.

DLH Jombang masih memerlukan mesin pencacah, mesin pengering, serta alat pemisah sampah organik dan anorganik agar proses produksi dapat dilakukan secara massal dan berkelanjutan.

Di sisi lain, pengelolaan sampah di Jombang tidak hanya berhenti pada RDF. Sampah organik yang masuk ke TPA Banjardowo juga diolah menjadi kompos untuk memenuhi kebutuhan taman milik pemerintah daerah, sekolah adiwiyata, hingga mendukung program “eco pesantren”.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular, ketika sampah tidak lagi dipandang sebagai residu yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

Berbagai program pemilahan dan pengolahan sampah yang melibatkan masyarakat juga mulai menunjukkan hasil. DLH Kabupaten Jombang mencatat pengurangan timbulan sampah mencapai sekitar 20 hingga 27 ton per hari.

Angka tersebut memberikan ruang napas bagi TPA Banjardowo, menjadi satu-satunya tempat pemrosesan akhir di Kabupaten Jombang. Pengelolaan lingkungan di TPA pun dilakukan secara ketat. Perhitungan DLH, kapasitas TPA Banjardowo masih mampu menampung sampah hingga delapan tahun mendatang. (antara)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.