Promosi Doktor di UIN Saizu, Dosen FTIK Ungkap Model Digitalisasi Pesantren Berbasis AI yang Beradab
M Syofri Kurniawan July 28, 2026 10:11 AM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali melahirkan doktor melalui ujian terbuka promosi doktor yang digelar pada Senin (27/7/2026).

Promovendus Dr. Ischak Suryo Nugroho berhasil mempertahankan disertasinya yang mengupas transformasi literasi keagamaan di pesantren dalam menghadapi era digital dan perkembangan Artificial Intelligence (AI).

Disertasi berjudul “Integrasi Digital pada Literasi Keagamaan dan Lingkungan Pesantren: Studi pada Pondok Pesantren Darussalam Dukuhwaluh dan Zam-Zam Integrated Islamic School Cilongok Banyumas” tersebut menawarkan model adaptasi teknologi digital yang tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman, adab, dan tradisi keilmuan pesantren.

Baca juga: UIN Saizu Bahas Kerja Sama Strategis dengan RS Wijayakusuma Purwokerto, Perkuat Layanan Kesehatan

Ujian promosi doktor yang merupakan Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Saizu Purwokerto, berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB dan dihadiri delapan penguji, yakni Prof. Ridwan, Dr. Novan Ardi Wiyani, Prof. Abdurrahman Mas'ud, Dr. M. Misbah, Prof. Tutuk Ningsih, Prof. Rohmat, Prof. Moch Roqib, serta Dr. Atabik.

Dalam disertasinya, Dr. Ischak Suryo Nugroho menyoroti bagaimana pesantren tidak lagi dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut harus tetap berada dalam koridor nilai, etika, dan otoritas keilmuan Islam.

Penelitian ini menganalisis integrasi teknologi digital dan AI dalam kurikulum maupun praktik pembelajaran pesantren, sekaligus mengidentifikasi peluang serta tantangan etis yang muncul di tengah pesatnya transformasi digital. Menurut Ischak, digitalisasi bukanlah ancaman bagi pesantren apabila dikelola secara bijaksana.

"Kedua model bertemu pada prinsip bahwa AI dan teknologi digital hanya berfungsi sebagai alat bantu, bukan sebagai rujukan utama atau pengganti otoritas guru, kitab, sanad, dan adab," tegas Dr. Ischak Suryo Nugroho dalam pemaparannya.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus etnografis dan netnografi di dua lembaga pendidikan Islam di Kabupaten Banyumas, yaitu Pondok Pesantren Darussalam Dukuhwaluh dan Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Integrated Islamic School (ZIIS) Cilongok.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan pengasuh dan pengelola pesantren, observasi partisipatif terhadap aktivitas pembelajaran dan pengasuhan, serta dokumentasi berbagai artefak digital dan konten media sosial yang digunakan dalam proses pendidikan.

Seluruh data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan menerapkan triangulasi sumber, teknik, dan waktu sehingga menghasilkan gambaran yang komprehensif mengenai strategi adaptasi pesantren terhadap perkembangan teknologi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pesantren memiliki pendekatan berbeda dalam mengintegrasikan teknologi digital, tetapi memiliki prinsip yang sama, yakni menjaga otoritas keilmuan Islam melalui proses verifikasi.

Pondok Pesantren Darussalam Dukuhwaluh menerapkan model partisipatif-verifikatif. Dalam model ini, santri dan guru diberikan ruang untuk memanfaatkan teknologi digital secara aktif. Namun seluruh penggunaan teknologi tetap melalui proses kurasi, persetujuan, dan verifikasi oleh pembina maupun pengasuh pesantren.

Sementara itu, Pondok Pesantren Modern ZIIS mengembangkan model regulatif-verifikatif, yakni penggunaan perangkat digital dan sumber informasi diatur secara ketat melalui sistem tarbiyah dan ri'ayah. Teknologi digital dan AI dimanfaatkan dalam pembelajaran, tetapi tetap berada di bawah pengawasan guru.

Menurut Ischak, kedua model tersebut menunjukkan bahwa modernisasi pesantren tidak berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkuatnya melalui mekanisme pengawasan dan literasi yang baik.

Salah satu temuan penting dalam disertasi ini adalah penegasan bahwa kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan posisi guru, kitab, sanad, maupun adab sebagai fondasi pendidikan pesantren.

Transformasi digital, menurut penelitian tersebut, tidak semata-mata diarahkan pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, memiliki tanggung jawab etik, serta menjaga tradisi keilmuan Islam.

Penelitian juga berhasil mengidentifikasi enam peluang utama dan enam tantangan etis dalam pengembangan literasi keagamaan digital di lingkungan pesantren. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pesantren memiliki kapasitas besar untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang berakar pada nilai-nilai keilmuan klasik.

Disertasi Dr. Ischak Suryo Nugroho memberikan perspektif baru bahwa pesantren bukanlah institusi pendidikan yang pasif terhadap perubahan teknologi. Sebaliknya, pesantren mampu membangun ekosistem digital yang selektif, kritis, adaptif, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

Melalui penguatan adab, sanad, literasi kritis, dan mekanisme verifikasi informasi, pesantren dinilai berpotensi menjadi pusat pengembangan pemanfaatan AI yang aman, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Promosi doktor ini sekaligus menegaskan komitmen Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto dalam menghasilkan doktor-doktor yang mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan khazanah keilmuan Islam.

Melalui riset-riset inovatif yang menjawab tantangan zaman, UIN Saizu terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi Islam yang mengintegrasikan keilmuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat dan masa depan pendidikan Islam. (*)

Baca juga: Wakil Rektor III UIN Saizu Buka Pelatihan Sertifikasi Asesor Kompetensi, Dorong SDM Bersertifikat

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.