Kades Ungkap Obrolan Satpam Waduk Jatiluhur dengan Pemuda, Tidak Ada Cekcok, Video WA Bukan Miliknya
ninda iswara July 28, 2026 11:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Kematian Sumarna yang ditemukan dalam kondisi tewas dengan tangan terborgol di Waduk Jatiluhur masih menyisakan banyak tanda tanya.

Sejumlah fakta baru mulai terungkap, termasuk percakapannya dengan sosok yang diduga terlibat dalam aksi vandalisme di kawasan tersebut.

Berdasarkan informasi yang beredar, Sumarna disebut sempat berbicara dengan para pemuda yang diduga melakukan aksi corat-coret.

Namun, tidak ditemukan adanya cekcok atau perselisihan saat perbincangan itu berlangsung.

Meski demikian, para terduga pelaku vandalisme yang disebut sebagai anggota sebuah geng kini dikaitkan dengan kematian Sumarna.

Dugaan tersebut mencuat setelah muncul kesaksian dari sejumlah warga.

Beberapa saksi menyebutkan bahwa sebelum ditemukan meninggal dunia, Sumarna sempat menegur sekelompok pemuda yang berada di sekitar Waduk Jatiluhur.

Baca juga: Istri Satpam Waduk Jatiluhur Sempat Datangi Pos Dini Hari, Tak Ada Sumarna, Hanya Motor yang Kembali

Dari keterangan yang berkembang, para pemuda itu diduga tidak menerima teguran tersebut.

Mereka kemudian disebut kembali lagi ke lokasi dengan motif yang diduga sebagai aksi balas dendam.

Informasi mengenai peristiwa itu juga disampaikan oleh kepala desa setempat kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat membahas kondisi di kawasan Waduk Jatiluhur.

Menurut kepala desa, aksi vandalisme yang ditemukan di lokasi berupa berbagai coretan yang diduga merupakan identitas atau nama kelompok maupun geng tertentu.

"Di tanggul tuh ada corat-coret seperti 'ini gaya aing (ini gaya saya)', ada 'RPM' dan 'GBR'. Saya dengar dari anak karang taruna di sana," katanya.

Kepala desa juga menjelaskan bahwa informasi yang diterimanya menyebut Sumarna memang sempat berbincang dengan sejumlah orang yang diduga sebagai pelaku vandalisme sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi.

Hingga kini, keterkaitan antara pertemuan itu dengan kematian Sumarna masih menjadi bagian dari penyelidikan yang terus didalami oleh pihak berwenang.

"Memang almarhum itu pernah memanggil, bukan menegur, karena tidak diketahui yang menulisnya jadi menanyakan yang dianggap sama lamhum ini anak GBR," katanya.

Sumarna hanya bertanya baik-baik soal siapa yang mencorat-coret.

Ia juga berpesan agar jika memang mereka pelakunya untuk segera menghapus tulisan-tulisan tersebut.

"Dia menanyakan ini siapa yang mencorat-coret ini, nah gak tahu, dia gak ngaku. Tolong lah kalau ada yang memang merasa mencoret ini dihapus aja," katanya.

Saat itu menurut Kades sama sekali tidak terjadi cekcok atau keributan.

"Tidak terjadi ribut," katanya.

Dengan begitu motif Sumarna dihabisi anggota geng karena teguran vandalisme belum bisa dibenarkan.

"Belum, belum tentu. Dia hanya menanyakan itu," katanya.

Pasalnya juga video status WhatsApp yang menunjukan coretan di waduk, bukan dibuat Sumarna.

Polisi mengkonfirmasi bahwa video itu dibuat rekan Sumarna.

"Kalaupun ada yang bukan almarhum, 'disediakan tempat nongkrong malah dicorat-coret', bukan suara almarhum," katanya.

Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara mengatakan bahwa status WhatsApp tersebut bukan milik Sumarna.

"Itu bukan status korban melainkan milik rekannya," katanya.

Ia mengatakan memang benar terjadi sekelompok orang yang mencorat-coret fasilitas di sana.

Baca juga: Chat WA Terakhir Satpam Tewas di Waduk Jatiluhur, Singgung Perasaan Tak Enak Meninggalkan Teman

SATPAM TEWAS TERBORGOL - Proses evakuasi satpam Waduk Jatiluhur Purwakarta yang ditemukan tewas
SATPAM TEWAS TERBORGOL - Proses evakuasi satpam Waduk Jatiluhur Purwakarta yang ditemukan tewas (Tribun Trends/Dok Warga/Muhamad Hidayat/Kompas)

"Benar adanya tindakan mural atau corat-coret. Itu masih kami dalami dari beberapa keterangan saksi," katanya.

Selain itu polisi juga sudah mengamankan sejumlah orang yang ditegur Sumarna.

"Kami juga sudah mengamankan beberapa orang untuk diperiksa untuk pendalaman lebih lanjut terkait hal tersebut," katanya.

AKP I Made Purwantara, menegaskan bahwa hingga saat ini tim penyidik masih bekerja keras melakukan penyelidikan mendalam dan belum menetapkan satu orang pun sebagai tersangka.

"Belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Informasi yang beredar di media sosial itu tidak benar, belum ada yang kami amankan," tegas AKP I Made Purwantara saat ditemui di Mapolres Purwakarta, Senin (27/7/2026).

Meskipun bantahan dilayangkan terkait penangkapan pelaku, Made memastikan penyelidikan terus menunjukkan perkembangan signifikan.

Hingga Senin (27/7/2026), penyidik telah menginterogasi sedikitnya 15 orang saksi kunci dari lingkungan terdekat korban.

"Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap 15 saksi. Saksi terdiri dari rekan terdekat, keluarga, rekan kerja sesama petugas PJT II, serta orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian," jelasnya.

Selain memeriksa belasan saksi, penyidik Satreskrim Polres Purwakarta juga resmi menerima dan mulai menganalisis dokumen hasil autopsi jenazah korban yang sebelumnya dijalankan oleh tim medis RS Sartika Asih, Bandung.

"Hasil autopsi turun hari ini dan nanti akan kami analisa. Kami sudah memiliki beberapa hipotesis dan sedang mengumpulkan berbagai kemungkinan terkait permasalahan yang dialami korban," tambah Made.

(TribunTrends/TribunBogor)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.