Cerita Sumartono Hadinoto, Ketua PMI Surakarta Menemukan Jalan Hidup dengan Menjadi 'Saluran Berkah'
Garudea Prabawati July 28, 2026 11:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Telepon genggam Sumartono Hadinoto atau kerap disapa Martono sering kali berdering.

Belum lama panggilan sebelumnya berakhir, layar ponselnya kembali menampilkan nama lain yang membutuhkan bantuan. Ada yang mencari ambulans, mobil jenazah, atau pertolongan apapun.

Bagi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) itu, hari-harinya memang nyaris tak pernah lepas dari membantu orang lain.

Di usia 70 tahun, ia justru merasa inilah jalan hidup yang telah digariskan Tuhan untuknya.

Padahal, puluhan tahun silam, Martono memiliki mimpi yang berbeda.

Mimpi yang Berubah karena Takdir

Lahir di Surakarta pada 21 Maret 1956, Martono tumbuh dalam keluarga yang dapat dikatakan menaruh perhatian besar pada pendidikan.

Ayahnya, seorang lulusan dari Inggris, berharap putranya dapat melanjutkan pendidikan ke Belanda setelah lulus SMP dan tinggal bersama keluarga yang telah lebih dulu menetap di sana.

Namun, rencana itu tidak pernah terwujud.

Saat Martono lulus SMP, sang ayah meninggal dunia. Kepergian sosok yang menjadi kepala keluarga membuat impian belajar ke luar negeri harus terkubur.

Ia memilih melanjutkan pendidikan hingga SMA di Surakarta sambil membantu ibunya mengelola usaha batik keluarga.

“Tapi Tuhan berkehendak lain. Jadi waktu saya lulus SMP, ayah saya meninggal. Akhirnya, saya hanya melanjutkan SMA di Solo dan waktu itu sudah mulai membantu ibu,” kenang Sumartono Hadinoto (70) saat ditemui pada Sabtu, (25/7/2026).

Sayangnya usaha batik tersebut berhenti setelah dirinya lulus SMA.

Oleh karena itu, Martono mulai bekerja di sejumlah perusahaan.

Ia pernah mencoba berbagai pekerjaan sebelum akhirnya bertahan hampir tujuh tahun di sebuah perusahaan variasi mobil. Pengalaman itu menjadi bekal berharga yang mengubah arah hidupnya.

Kesempatan yang Datang Tanpa Diduga

Setelah menikah di usia 30 tahun kemudian menanti kelahiran anaknya di usia 31 tahun, Martono, dengan dorongan dari ibunya, mulai berpikir untuk memulai usaha sendiri.

Kesempatan itu datang dari pertemuan sederhana dengan seorang kontraktor aluminium sekaligus pemilik Candi Aluminium saat itu, yang hendak pindah ke Amerika Serikat.

Pemilik usaha tersebut memilih menyerahkan dan menjual perusahaannya kepada Martono karena percaya usahanya dapat diteruskan dengan baik.

Kepercayaan itu tidak dirinya sia-siakan.

Martono mengembangkan perusahaan itu menjadi perusahaan yang bergerak di bidang aplikasi aluminium dan bahan bangunan yang kini dikenal dengan nama Candi Aluminium atau CV CANDI (Cipta Adikarya Nusantara Dipta) di Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun, usaha yang semula hanya memiliki dua staf dan lima tukang berkembang hingga mempekerjakan puluhan staf dan sekitar seratus tukang.

Perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Suatu waktu, perusahaannya pernah mengalami ekonomi yang sulit karena hampir tidak ada pekerjaan dampak dari peristiwa kerusuhan di Surakarta pada tahun 1998.

Namun, ia memilih tetap mempertahankan para karyawannya meski harus mengambil tabungan untuk membayar gaji mereka.

Baginya, perusahaan bukan hanya tentang keuntungan, tetapi juga tentang orang-orang yang menggantungkan hidup di dalamnya.

“Staf karyawan tidak dikurangi karena mereka butuh hidup juga. Situasi tidak baik-baik saja kalau diberhentikan, mereka bisa sulit hidupnya. Jadi kita gaji terus, ambil tabungan,” ujar Martono.

Memilih Jalan yang Berbeda

Ketika banyak orang sedang menikmati puncak karier, Martono justru mengambil keputusan yang tidak banyak dilakukan orang.

Di usia sekitar 40 tahun, ia menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada sang istri.

Kini, usaha tersebut diteruskan oleh putri tunggal serta menantunya dan terus berkembang.

Sementara dirinya memilih menempuh jalan lain dengan lebih aktif berkegiatan di berbagai organisasi sosial.

Sebenarnya, dunia organisasi sosial bukan hal baru bagi Martono. Sejak duduk di bangku SMA, ia telah bergabung dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal Surakarta.

Dari sanalah ia belajar bahwa relasi adalah salah satu modal terbesar dalam kehidupan.

"Networking is everything. No networking, nothing," ujarnya.

Prinsip itu terus ia pegang hingga kini.

Baginya, setiap orang yang ditemui bukanlah sebuah kebetulan. Suatu hari, pertemuan tersebut bisa menjadi jalan untuk saling membantu.

Menjadi Saluran Berkah

Semakin lama berkecimpung di dunia sosial, Martono merasa menemukan panggilan hidupnya.

Kini ia dipercaya memimpin Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta dan Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS).

Selain itu, dirinya juga aktif di berbagai yayasan dan organisasi sosial lainnya, seperti YAKETUNTRA (Yayasan Kesejahteraan Tunanetra), Panti Asuhan Karuna, YKI (Yayasan Kanker Indonesia) Cabang Surakarta, DHC’45 (Dewan Harian Cabang Angkatan ’45), dan sebagainya.

Martono mengungkapkan bahwa saat ini, dirinya telah bergabung di lebih dari sepuluh organisasi yang sebagian besar adalah organisasi di sosial kemasyarakatan.

Hampir setiap hari telepon genggamnya siaga selama 24 jam untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat.

Jika ada orang yang meminta bantuan dan ia tidak bisa menanganinya sendiri, Martono akan menghubungi jaringan pertemanannya untuk mencarikan solusi.

Ia percaya Tuhan tidak selalu meminta seseorang membantu dengan tenaganya sendiri, melainkan ada kalanya cukup menjadi penghubung agar pertolongan itu sampai kepada orang yang membutuhkan.

“Sekarang saya merasakan membantu belum tentu harus saya lakukan sendiri, tapi saya akan dibantu orang lain yang demikian siap membantu saya juga,” ungkap Martono.

Martono mengibaratkan dirinya seperti pipa yang dialiri air. Semakin besar kepercayaan yang diberikan Tuhan, semakin besar pula berkah yang dapat mengalir kepada orang lain melalui dirinya.

Perjalanan hidup selama tujuh puluh tahun tersebut telah mengajarkan Martono bahwa setiap cobaan memiliki alasan dan semua itu adalah proses yang membentuk dirinya.

Dulu, ia sempat bermimpi untuk bersekolah di luar negeri, memiliki pabrik besar, dan yayasan sosial atas namanya. Kini, mimpi itu tak lagi menjadi tujuan utama.

Bergabung dengan berbagai organisasi sosial justru membuatnya merasa dapat membantu lebih banyak orang.

Karena itu, tiga hal selalu ia pegang hingga sekarang, yakni komitmen, belajar ikhlas, dan niat baik. Setiap perjalanan harus dijalani, disyukuri, dan dijadikan pembelajaran agar seseorang dapat menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.

(mg/Dhesti Qorita Ayun)

Penulis adalah peserta magang dari Universitas Sebelas Maret (UNS)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.