Driver Ojol Perempuan di Banjarmasin Berharap Tersedia Fitur Gender
Irfani Rahman July 28, 2026 08:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seliweran driver ojek online di lalu lintas Kota Banjarmasin meninggalkan kisah tersendiri bagi para perempuan yang memilih menjadi pengemudi ojek online demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Meski pendapatan tak lagi sebesar beberapa tahun lalu, mereka tetap bertahan sambil berharap ada peningkatan perlindungan dan kenyamanan saat bekerja.

Salah satunya Siti Rahmah (43), warga Pemurus Dalam. Perempuan yang mulai menjadi pengemudi ojek online sejak 2024 itu mengaku pekerjaan tersebut dipilih karena ingin menambah penghasilan keluarga setelah sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap.

Saat itu, ia melihat semakin banyak perempuan yang berani menjadi pengemudi ojol. Karena sudah terbiasa mengendarai sepeda motor, ia pun memberanikan diri mendaftar menjadi mitra aplikator.

“Ya jelas karena ingin mencukupi kebutuhan di rumah. Kebetulan anak juga sudah SMP jadi sudah bisa ditinggal. Awalnya memang tidak bekerja, terus lihat banyak perempuan jadi ojol, akhirnya saya ikut,” ujarnya, Senin (27/7).

Baca juga: Kala Ojol Tak Lagi Gacor, Komunitas Driver di Banjarmasin Sebut Pendapatan Terus Menurun

Baca juga: Kasus Malapraktik Medik, Bagaimana Sebaiknya?

Namun menurut Siti, kondisi saat ini jauh berbeda dibanding ketika pertama kali bergabung. Jika dahulu tarif masih cukup membantu, kini nilai yang diterima pengemudi semakin kecil meski biaya hidup terus meningkat.

Ia menilai order sebenarnya masih ada, tetapi besaran pendapatan dari setiap perjalanan sudah tidak lagi menguntungkan.

“Kalau dibilang sepi sih sebenarnya naik turun saja. Cuma memang sekarang tarifnya sudah tidak seperti dulu lagi. Pelanggan memang murah, tapi kami yang menerima juga sedikit,” katanya.

Karena mempertimbangkan faktor keselamatan, Siti memilih tidak memaksakan diri bekerja hingga larut malam.

Baginya, ketika target pendapatan harian sekitar Rp100 ribu sudah tercapai, ia lebih memilih pulang dan berkumpul bersama keluarga.

Ke depan, Siti berharap perusahaan aplikator dapat menghadirkan fitur gender yang memungkinkan pelanggan memilih pengemudi berdasarkan jenis kelamin, khususnya untuk layanan antar jemput penumpang.

“Kalau bisa pelanggan diberi pilihan mau driver perempuan atau laki-laki. Atau otomatis saja dari data akun pelanggan, jadi ada filter gender. Menurut saya itu lebih nyaman untuk semua,” harapnya.

Sementara itu, di tengah beragam persoalan yang dihadapi para driver ojol, tapi ada satu hal yang mereka tetap bertahan, yakni solidaritas sesama driver.

Ketua Komunitas 07 Gojek Banjarmasin, Herman, mengatakan hubungan antaranggota komunitas menjadi penting ketika kondisi ekonomi para pengemudi semakin sulit.

Melalui komunitas, para pengemudi saling berbagi informasi mengenai kondisi lapangan, tarif hingga berbagai kendala teknis yang dialami saat bekerja.

Apabila ada anggota mengalami masalah, komunitas juga menjadi jalur awal untuk menyampaikan aspirasi kepada pihak aplikator.

“Kalau sendiri susah. Tapi kalau lewat komunitas biasanya lebih cepat ditindaklanjuti,” ujarnya.

Meski berasal dari aplikasi berbeda, Herman menilai seluruh pengemudi pada dasarnya memiliki persoalan yang sama.

Karena itu ia berharap tidak ada lagi sekat di antara para driver. “Walaupun beda baju, kita tetap sama-sama mencari nafkah di jalan,” katanya. (sul)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.