Logam Tanah Jarang Bangka Belitung Bukan Sekadar Cadangan
Fitriadi July 28, 2026 10:40 AM

 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Peneliti logam tanah jarang (LTJ) dari Universitas Bangka Belitung (UBB) Yuant Tiandho mengatakan LTJ di Bangka Belitung memiliki karakteristik berbeda dibandingkan daerah lain, terutama Sulawesi Barat.

Jika di Sulawesi deposit LTJ merupakan mineral primer yang dapat ditambang secara langsung, di Bangka Belitung sumber utamanya berasal dari monasit, yaitu mineral ikutan yang muncul bersamaan dengan penambangan timah.

"Artinya, setiap aktivitas penambangan timah pada dasarnya juga menghasilkan monasit yang mengandung unsur-unsur logam tanah jarang," kata Yuant Tiandho.

Persoalannya, kata Yuant Tiandho bukan pada ada atau tidaknya monasit, melainkan berapa besar kandungannya di setiap wilayah tambang. Karakteristik tersebut berbeda-beda sehingga memerlukan pemetaan yang rinci.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah belum tersedianya data detail mengenai kandungan monasit serta cadangan yang benar-benar dapat dimanfaatkan secara ekonomis. Padahal, data tersebut menjadi dasar utama bagi investor untuk menentukan kelayakan pembangunan industri pengolahan logam tanah jarang.

Baca juga: Industri Logam Tanah Jarang Bangka Belitung Disalip Malaysia

"Proses inventarisasi sebenarnya dapat dipercepat melalui analisis kembali data produksi timah yang telah terkumpul selama bertahun-tahun," kata Yuant Tiandho.

Dengan begitu, Yuant Tiandho, kandungan monasit dari setiap wilayah tambang dapat dihitung lebih akurat. Namun, langkah tersebut harus dibarengi tata kelola pertambangan yang baik agar seluruh data berasal dari aktivitas legal dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca juga: 70 Persen Potensi LTJ Indonesia Masih Terpendam

Yuant Tiandho mengatakan Bangka Belitung memiliki peluang besar menjadi pusat industri logam tanah jarang nasional karena selama puluhan tahun menghasilkan monasit sebagai mineral ikutan penambangan timah. Potensi ini menjadi keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah penghasil LTJ di Indonesia.

Baca juga: Munculnya Nama Mister Cong, Warga Malaysia Penerima Timah Selundupan dari Bangka

Baca juga: Penyelundupan Pasir Timah Manfaatkan Speedboat ke Dermaga Tersembunyi, Berhasil Digagalkan TNI AL

Berdasarkan hasil pemetaan, Bangka Selatan menjadi wilayah dengan potensi terbesar di Bangka Belitung dengan sumber daya sekitar 56,33 juta ton bijih dan estimasi kandungan 27,66 ribu ton logam. Sementara di Belitung, sumber daya yang telah teridentifikasi mencapai sekitar 10,79 juta ton bijih dengan kandungan sekitar 5,54 ribu ton logam.

Di tingkat nasional, sumber daya LTJ terbesar berada di Mamuju, Sulawesi Barat, yang diperkirakan mencapai 67,57 juta ton bijih dengan kandungan sekitar 85,44 ribu ton logam.

"Namun, karakteristiknya berbeda karena berasal dari deposit primer, bukan mineral ikutan seperti di Bangka Belitung. Potensi LTJ juga ditemukan di Tapanuli Utara, Sumatera Utara," kata Yuant Tiandho.

Meski demikian, kata Yuant Tiandho, keunggulan industri logam tanah jarang tidak lagi ditentukan semata-mata oleh besarnya cadangan mineral.

Nilai ekonomi sesungguhnya berada pada kemampuan mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah melalui hilirisasi. Karena itu, pembangunan ekosistem industri tidak perlu menunggu seluruh proses inventarisasi selesai. Pendataan sumber daya tetap harus berjalan, tetapi pengembangan industri hilir juga harus dipercepat agar Indonesia tidak terus tertinggal.

"Pada akhirnya, komoditas mineral hanya memiliki nilai ekonomi terbatas ketika dijual dalam bentuk bahan mentah. Sebaliknya, melalui proses hilirisasi, nilai tambahnya dapat meningkat berkali-kali lipat dan menjadi fondasi pengembangan industri strategis nasional," kata Yuant Tiandho. (x1)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.