Obatnya Sama, tapi Kenapa Tubuh Kita Bisa Memberikan Respons yang Berbeda?
GH News July 28, 2026 11:09 AM
Jakarta -

Efektivitas obat tidak hanya bergantung pada kandungan dan dosisnya, kondisi tubuh, riwayat kesehatan, lingkungan, serta perbedaan biologis setiap individu ikut menentukan bagaimana suatu obat diproses dan memberikan efek. Karena itu, dua orang yang menggunakan obat yang sama belum tentu memperoleh hasil yang serupa.

Perbedaan ini cukup wajar karena tubuh manusia tidak bekerja dengan cara yang benar-benar sama. Usia, kondisi kesehatan, fungsi hati dan ginjal, pola hidup, serta obat lain yang sedang dikonsumsi dapat mempengaruhi cara tubuh menyerap, memproses, dan membuang obat. Karena itu, pengalaman satu orang tidak bisa langsung dijadikan patokan untuk orang lain.

Sebuah studi prospektif terhadap 18.820 pasien di dua rumah sakit umum di Inggris menemukan bahwa 6,5% dari seluruh kasus rawat inap disebabkan oleh reaksi obat yang tidak diinginkan (/ADR), dan pada sekitar 80% di antaranya reaksi obat tersebut menjadi penyebab langsung pasien dirawat.

Selain berbagai faktor tersebut, perbedaan genetik juga dapat ikut berperan. Gen tidak hanya berkaitan dengan ciri fisik atau risiko penyakit. Pada obat-obatan tertentu, variasi gen dapat mempengaruhi kerja protein dan enzim yang membantu tubuh memproses obat.

Ada orang yang tubuhnya memproses suatu obat lebih cepat. Akibatnya, obat bisa dikeluarkan sebelum memberikan efek yang diharapkan. Pada orang lain, prosesnya bisa lebih lambat sehingga obat bertahan lebih lama di dalam tubuh dan berpotensi meningkatkan risiko efek samping.

Ada pula obat yang perlu diubah terlebih dahulu oleh tubuh agar dapat bekerja. Perbedaan genetik dapat mempengaruhi seberapa cepat proses tersebut berlangsung. Inilah salah satu alasan mengapa obat dengan nama dan dosis yang sama belum tentu memberikan hasil yang serupa pada setiap orang.

Hubungan antara variasi genetik dan respons tubuh terhadap obat dipelajari melalui farmakogenomik. Bidang ini tidak bertujuan menyatakan bahwa sebuah obat pasti cocok atau tidak cocok hanya berdasarkan DNA. Informasi genomik digunakan sebagai salah satu bagian dari gambaran yang lebih besar, bersama kondisi kesehatan, riwayat medis, lingkungan, gaya hidup, dan obat lain yang digunakan.

menyebutkan bahwa berbagai penelitian memperkirakan lebih dari 98% orang memiliki setidaknya satu variasi genomik yang berpotensi mempengaruhi respons terhadap obat yang umum diresepkan. Namun, hal ini tidak berarti setiap variasi pasti menimbulkan efek atau relevan untuk semua jenis obat.

Pada sejumlah obat, hubungan antara variasi genetik, efektivitas, risiko efek samping, dan pertimbangan dosis sudah cukup kuat untuk dicantumkan dalam informasi resmi obat. FDA, misalnya, memiliki daftar obat yang labelnya memuat informasi mengenai penanda farmakogenomik. Meski demikian, tidak semua informasi tersebut langsung disertai tindakan klinis yang harus dilakukan berdasarkan hasil genetik.

Hal ini menunjukkan bahwa genomik dapat membantu kita memahami mengapa respons terhadap obat berbeda, tetapi bukan satu-satunya jawaban. Data genetik juga tidak seharusnya digunakan sendiri untuk memilih obat, mengubah dosis, atau menghentikan pengobatan.

Levana Sani, CEO NalaGeneticsLevana Sani, CEO NalaGenetics Foto: dok. Pribadi

Satu hal yang sering luput dari pembicaraan adalah sebagian besar bukti farmakogenomik yang menjadi rujukan global berasal dari populasi Eropa dan Amerika Utara. Padahal frekuensi varian gen dapat berbeda cukup jauh antarpopulasi, bahkan antaretnis di dalam satu negara. Beberapa contoh dari Indonesia:

CYP2C19 - enzim yang berperan dalam metabolisme klopidogrel, sejumlah , dan beberapa obat antidepresan. Sebuah studi lintas etnis di Indonesia memperkirakan proporsi rapid metabolizer sebesar 38,5%, intermediate metabolizer 41,6%, dan poor metabolizer 19,9%. Perbedaan antaretnis juga signifikan: partisipan Papua tercatat jauh lebih mungkin tergolong poor metabolizer dibandingkan partisipan Bali (rasio odds 11,0).

NAT2 - enzim yang memetabolisme isoniazid, obat lini pertama tuberkulosis. Konteksnya relevan karena Indonesia termasuk negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Pada satu kohort 207 pasien TB di Indonesia, 69,5% tergolong . Studi lain terhadap 100 pasien dengan anti-tuberculosis drug-induced liver injury (AT-DILI) berat dan 210 kontrol menemukan status berasosiasi dengan risiko AT-DILI (rasio odds 3,64; IK 95% 2,21-6,00).

Angka-angka ini tidak berarti setiap orang Indonesia perlu diuji, atau bahwa hasil uji akan mengubah terapi. Yang ditunjukkannya adalah bahwa asumsi berbasis data populasi Barat tidak selalu dapat dipindahkan begitu saja ke pasien di sini.

Keputusan mengenai obat tetap perlu dibuat oleh tenaga kesehatan dengan melihat kondisi pasien secara menyeluruh. Informasi genomik dapat menambah konteks, tetapi diagnosis, fungsi organ, riwayat penyakit, interaksi obat, dan respons pasien selama pengobatan tetap menjadi bagian penting dari pertimbangan.

Semakin jauh kita memahami perbedaan biologis setiap orang, semakin jelas bahwa pengobatan tidak selalu dapat menggunakan pendekatan yang sama untuk semua pasien. Bukan berarti setiap orang harus menerima obat yang berbeda, tetapi setiap keputusan perlu dibuat berdasarkan informasi yang cukup dan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Obatnya mungkin sama, tetapi tubuh yang menerimanya tidak. Genetik membantu menjelaskan sebagian dari perbedaan tersebut, bukan untuk menggantikan peran dokter, melainkan untuk menambah pemahaman tentang mengapa respons tubuh manusia bisa begitu beragam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.