Waspada! Anak Tantrum Saat HP Diambil Bisa Jadi Tanda Kecanduan Gadget, Dokter Ungkap Bahayanya
Rr Dewi Kartika H July 28, 2026 11:11 AM

TRIBUNJAKARTA.COM – Orang tua perlu waspada, apabila anak tantrum saat ponsel atau tablet diambil kerap. Ada apa?

Dokter spesialis anak, dr. Multi Angela mengatakan kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda anak mulai mengalami kecanduan gadget.

Dampaknya bukan hanya membuat anak sulit mengendalikan emosi, tetapi juga dapat mengganggu proses tumbuh kembangnya.

"Kalau sudah sampai anak mengamuk kemudian sudah tahapnya tergantung banget dengan gadget tersebut, kemungkinan anak itu sudah kecanduan gadget," kata dr. Multi Angela dalam wawancara bersama TribunJakarta.com di YouTube Tanya Dokter.

Menurutnya, kecanduan gadget bekerja pada bagian otak yang sama seperti bentuk kecanduan lainnya.

"Kalau kecanduan gadget ini letaknya di otak kita sama dengan kecanduan yang lain, seperti kecanduan narkoba, rokok, atau yang lain-lain. Jadi kalau anak sampai tantrum ataupun benar-benar mengamuk saat tidak diberikan gadget, itu mungkin sudah sampai tahap kecanduan," ujarnya.

Kecanduan Gadget Bisa Hambat Perkembangan Anak

Dr. Multi menjelaskan, anak yang terlalu sering menatap layar akan kehilangan banyak kesempatan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Padahal, komunikasi langsung bersama keluarga merupakan bagian penting dalam proses perkembangan anak, terutama pada usia dini.

"Tontonan yang diberikan pada anak menyebabkan anak kurang berinteraksi dengan dunia luar maupun orang di sekitarnya. Padahal keluarga adalah tempat utama anak belajar berkomunikasi dan bersosialisasi," jelasnya.

Ia menambahkan, gadget hanya menjadi media hiburan yang bersifat satu arah sehingga tidak mampu menggantikan interaksi langsung.

"Gadget bukan alat komunikasi, karena hanya sebagai media hiburan yang satu arah. Jadi tidak membentuk pola komunikasi yang baik untuk anak tersebut," katanya.

Tak jarang, lanjut dr. Multi, orang tua datang ke dokter karena mengira anak mengalami gangguan perkembangan seperti autisme atau ADHD.

"Biasanya orang tua mengeluh anak dipanggil tidak menoleh, atau tidak bisa diam, lalu khawatir apakah mengarah ke autisme atau ADHD. Ternyata setelah ditanya, anak sudah mengalami tanda-tanda kecanduan gadget karena terus-menerus menonton HP, TV, atau tablet," ujarnya.

Ini Batas Screen Time Anak Menurut Dokter

Dr. Multi mengingatkan bahwa anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak dikenalkan pada layar sama sekali, kecuali untuk kebutuhan video call dengan anggota keluarga.

"Anak di bawah dua tahun yang diperbolehkan hanyalah video call karena ada interaksi. Yang lebih baik adalah diajak berbicara dan bermain secara langsung sehingga anak belajar berkomunikasi dan melihat gerakan mulut orang tuanya," katanya.

Sementara itu, untuk anak usia di atas dua tahun, penggunaan gadget masih diperbolehkan dengan batas waktu tertentu.

Berikut batas screen time yang disarankan:

  • Anak usia 2 tahun hingga prasekolah: maksimal 1 jam per hari.
  • Anak usia sekolah hingga remaja: maksimal 2 jam per hari untuk hiburan.

Waktu penggunaan gadget untuk kegiatan belajar tidak termasuk dalam batas tersebut.

"Kalau untuk hiburan memang sebaiknya hanya dua jam per hari. Jangan sampai seharian menonton," ujar dr. Multi.

TV yang Menyala Terus Juga Bisa Berdampak

Menurut dr. Multi, orang tua juga perlu memperhatikan kebiasaan membiarkan televisi tetap menyala sepanjang hari meski tidak sedang ditonton.

Kondisi itu tetap dapat menjadi distraksi bagi anak dan membuat durasi paparan layar tidak disadari.

"Kalau TV menyala terus, walaupun anak tidak selalu menonton, itu tetap menjadi distraksi. Kita juga jadi tidak bisa mengukur sebenarnya berapa lama screen time anak dalam sehari," katanya.

Karena itu, ia menyarankan televisi dimatikan apabila tidak ada anggota keluarga yang sedang menonton.

Dampak Jangka Panjang Tidak Bisa Dianggap Sepele

Dr. Multi menegaskan bahwa dampak penggunaan gadget berlebihan tidak hanya terlihat dari kebiasaan tantrum. Dalam jangka panjang, anak berisiko mengalami keterlambatan perkembangan karena kurang mendapatkan stimulasi sesuai usianya.

"Seribu hari pertama kehidupan sampai usia dua tahun adalah masa otak berkembang sangat pesat. Kalau anak tidak mendapat stimulasi yang cukup sesuai usianya, maka perkembangannya akan lebih lambat dibandingkan yang seharusnya," ujarnya.

Ia berharap orang tua tidak hanya fokus pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memperhatikan perkembangan kemampuan motorik, bahasa, hingga keterampilan sosial.

"Sebagai dokter anak, kami berharap anak bertumbuh dan berkembang secara optimal. Tidak hanya berat badan dan tinggi badan yang baik, tetapi juga perkembangan motorik, bahasa, serta kemampuan personal sosialnya sesuai tahap usia," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.