Mengapa Jassin bersusah payah mengumpulkan dokumentasi sastra, karena HB Jassin mencintai sastra. Dia juga seorang kritikus sastra jempolan sehingga dijuluki sebagai Paus Sastra Indonesia.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Selain “bagaimana Jassin menyusun dokumentasi di Pusat Dokumentasi Sastra?” pertanyaan yang diajukan terkait Paus Sastra HB Jassin adalah: Mengapa Jassin bersusah payah mengumpulkan dokumentasi sastra?
Jawaban umumnya adalah “Karena HB Jassin sangat mencintai sastra Indonesia. Dia ingin melestarikan, menyimpan, dan mendokumentasikan berbagai karya sastra agar tidak hilang serta dapat dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.”
Tapi sebenarnya mengapa dia harus susah payah mengumpulkan dokumentasi sastra sepertinya lebih dari itu. Ada “warisan” keluarga di situ, paling tidak begitulah yang bisa kita simpulkan dari apa yang ditulis oleh Jakob Oetama tentang Paus Sastra Indonesia itu dalam “H.B. Jassin: Kita Soroti Manusianya!” yang tayang di Majalah Intisari edisi Februari 1964.
“Jassin teliti dan rapi,” begitu tulis Jakob. Teliti dan rapi adalah dua syarat seseorang ingin menjadi dokumentator atau arsiparis.
Karena ketelitian, kerapian dan ketekunannya, menurut pria yang juga pendiri Majalah INTISARI dan Harian KOMPAS itu, dokumentasi Jassin mengenai kesusastraan Indonesia sejauh ini paling lengkap.
“Tulisan tangan Amir Hamzah ada, Chairil Anwar pun dia punya. Begitu pula halnya naskah-naskah asli sastrawan-sastrawan Indonesia lainnya,” tulisnya lagi.
Bahrum Rangkuti, temannya sejak di HBS Medan berkata, “Karangan yang sudah tak saya miliki ada pada Jassin. Pada hal itu karangan saya sendiri.”
Ciri-ciri khas Jassin seperti teliti, rapi, pendiam, sedikit banyak diwarisi dari keluarganya di Gorontalo, tempat kelahirannya pada 31 Juli 1917. Hans Bague Jassin berarti Hans anak Bague dari keluarga Jassin. Bague nama ayahnya — tepatnya Bague Mantu Jassin — adalah seorang juru tulis dan penata arsip pada perusahaan minyak Shell.
Ayahnya tidak menamatkan HIS, namun bahasa Belandanya perfekt, sempurna. Surat-surat korespondensi kantor ditulisnya dengan rapi dan bergaya.
Jassin nama keluarga, yang dipakai sejak kakek tuanya. Kakek tua itu sekretaris raja Gorontalo. Seorang pamannya, Talue Jassin adalah penyimpan silsilah dan hal-ihwal adat Gorontalo yang terlengkap. Orang berdatangan kepadanya mencari tahu. Terang dari sini datangnya minat Jassin akan dokumentasi.
Menurut beberapa sumber, Jassin menyukai sastra sejak masa mudanya. Tapi sejak kapan dia benar-benar bergulat dan perhatian betul dengan sastra, sepertinya kita harus mengurutnya sejak dia bekerja di Balai Pustaka.
Ketika bekerja di Balai Pustaka, dia juga sudah menjadi sekretaris redaksi Pujangga Baru – Pujangga Baru atau Poedjangga Baroe adalah majalah sastra dan budaya Indonesia yang terbit dari bulan Juli 1933 hingga Februari 1942. Majalah ini didirikan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane sebagai wadah bebas dari sensor Balai Pustaka.

Sejak bekerja pada Balai Pustaka inilah, HB Jassin mengikuti perkembangan kesusastraan Indonesia secara teratur dan intensif. Sejak masa itu pula, timbul perhatiannya bukan saja kepada karyanya, tetapi juga pada sastrawan pengarangnya.
Selama pendudukan Jepang dia tetap di Balai Pustaka, di samping ikut di Kantor Pusat Kebudayaan, lembaga bentukan Jepang mempersatukan sastrawan-sastrawan Indonesia untuk kepentingan propaganda mereka. Dia kemudian pindah ke redaksi Pandji Pustaka.
Nama Pandji Pustaka tahun 1945 diganti menjadi Pancaraya, istilah yang lebih dinamis, lebih segar. Jassin juga ikut mengasuh.
Sebagai protes terhadap Aksi Militer I Belanda pada tanggal 21 Juli 1947, Jassin beserta rekan-rekannya serentak menyatakan berhenti dari Balai Pustaka. Pada November tahun itu, dia ikut membina mingguan republikein Mimbar Indonesia bersama almarhum Sukardjo Wirjopranoto, Ir. Pangeran Noor, Anjar Asmara, dan sejumlah rekan lain.
Selain sebagai seorang dokumentalis, HB Jassin adalah kritikus sastra jempolan. Seorang kritikus sastra, selain harus mendalami pengetahuan sastra, juga harus mengikuti terus-menerus perkembangan sastrawan dan hasil-hasilnya, juga perlu menguasai aneka macam aliran filsafat, psikologi, masyarakat.
Menurutnya, mengutip Jakob, itu semua adalah sumber penimbaan sastrawan.
Bagi Jassin, kesusastraan dua seginya: isi dan bentuk. Dalam kesusastraan keduanya bersatu harmonis, tetapi tetap bersegi dua. Ini penting untuk melakukan penilaian.
Mungkin saja isinya baik, bermanfaat bagi masyarakat. Tetapi apakah dengan sendirinya bentuk pengungkapannya pun baik, sehingga dapat disebut hasil sastra. Hal itu masih belum tentu. Dan selama syarat kedua itu tak bisa dipenuhi, betapa juga baik isinya, belumlah bisa bernama kesusastraan.
“Ada pun isi itu bisa seribu macam, sesuai dengan multi kompleksnya segi kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Sebaliknya, jangan pula bentuk ditanggalkan begitu saja dari isi. Memang tak dapat dibalik soal ini. Tiada bentuk yang baik tanpa isi yang baik, oleh karena bentuk justru alat pengungkapan isi. Di situlah dimungkinkan terjadinya keaslian, kekhasan, ungkapan-ungkapan yang menggerak-gerakkan hati,” tulis Jakob.