Sempat Dilaporkan Hilang, Nelayan Asal Langsa Ditemukan Meninggal di Muara Sungai Pauh
Muliadi Gani July 28, 2026 11:54 AM

 

PROHABA.CO, KOTA LANGSA - Nasib naas menimpa Muhammad Amin (42), seorang nelayan warga Gampong Lhoek Banie, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa.

Pria yang sempat dilaporkan hilang saat mencari ikan di alur Sungai Pauh tersebut akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Senin (27/7/2026).

Jasad korban ditemukan mengapung di sekitar pintu muara Sungai Pauh oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Langsa.

Penemuan ini terjadi saat tim gabungan melakukan penyisiran ulang sejak Senin pagi, menyusuri alur sungai dari kawasan Simpang Lhee menuju arah muara.

Petugas pertama kali melihat bagian kepala korban muncul ke permukaan air dalam posisi tegak.

Tanpa membuang waktu, tim evakuasi langsung mendekati lokasi dan mengangkat jenazah korban menggunakan perahu karet (rubber boat) dengan dibantu oleh para nelayan serta warga setempat.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Langsa, dr. Muhammad Yusuf Akbar, MKM, membenarkan kabar penemuan jasad nelayan tersebut.

"Korban telah ditemukan oleh anggota TRC BPBD di sekitar pintu masuk muara Sungai Pauh.

Jenazah kemudian langsung dievakuasi menuju TPI Simpang Lhee," terang Yusuf Akbar saat dikonfirmasi.

Usai dievakuasi ke TPI Simpang Lhee, jenazah almarhum Muhammad Amin segera diserahterimakan kepada pihak keluarga untuk dibawa ke rumah duka di Gampong Lhoek Banie guna menjalani proses pemakaman.

Baca juga: Nelayan di Langsa Hilang Misterius Saat Mencari Ikan, Perahu Ditemukan di Sungai

Ditemukan 300 Meter dari Posisi Perahu

Koordinator Pos SAR Langsa, Budi Darmawan, menjelaskan bahwa lokasi ditemukannya korban tidak jauh dari titik perahu milik almarhum pertama kali ditemukan tanpa awak.

"Muhammad Amin ditemukan mengapung dalam kondisi meninggal dunia sekitar 300 meter dari lokasi pertama kali perahu korban ditemukan, tepatnya berada di muara pintu masuk alur Sungai Pauh," jelas Budi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, sebelum pergi melaut pada Minggu (26/7/2026) pagi sekitar pukul 05.00 WIB, kondisi fisik korban sebenarnya dalam keadaan kurang sehat.

Pihak keluarga, khususnya sang istri, sempat melarang Muhammad Amin untuk pergi mencari ikan pada hari itu.

Namun, didorong rasa tanggung jawab untuk mengais rezeki demi keluarga, korban tetap memutuskan berangkat melaut.

Kronologi Perahu Ditemukan Tanpa Awak

Peristiwa memilukan ini bermula ketika perahu bermesin milik korban ditemukan mengapung sendirian di alur Sungai Simpang Lhee kawasan antara Sungai Pauh dan Kuala Langsa pada Minggu (26/7/2026) sore sekitar pukul 16.30 WIB.

Sesuai kebiasaan, korban berangkat melaut sejak subuh dan seharusnya sudah kembali pada siang atau sore hari.

Namun hingga hari mulai gelap, korban tidak kunjung pulang, sementara perahunya ditemukan oleh nelayan lain dalam kondisi kosong tanpa awak.

Nelayan yang curiga lantas segera melaporkan temuan tersebut kepada pihak berwenang untuk ditindaklanjuti.

Baca juga: PT Medan Vonis Mati Bandar 100 Kg Sabu Asal Aceh Timur, Hukuman Seumur Hidup Dianulir

Pencarian Maraton Dilakukan Tim Gabungan

Menerima laporan tersebut, Pos SAR Langsa dan BPBD Kota Langsa langsung bergerak cepat.

Tim SAR gabungan menerjunkan personel serta dua unit perahu karet milik Pos SAR dan BPBD, ditambah lima perahu nelayan lokal untuk menyisir Last Known Position (LKP) atau lokasi terakhir korban diduga terjatuh.

Pencarian awal berlangsung sejak Minggu (26/7/2026) malam pukul 19.30 WIB hingga pukul 23.30 WIB.

Namun karena kondisi penerangan yang terbatas dan belum membuahkan hasil, operasi pencarian sempat dihentikan sementara menjelang tengah malam dan baru dilanjutkan kembali pada Senin pagi.

Dalam operasi kemanusiaan ini, BPBD Kota Langsa berkolaborasi erat dengan Pos SAR Langsa, aparat TNI, Polri, serta warga dan nelayan setempat.

BPBD sendiri mengerahkan sedikitnya 15 personel-10 personel turun menyisir lokasi dan 5 personel siaga di posko serta didukung perlengkapan operasional berupa perahu karet dan 15 unit pelampung.

Imbauan Keselamatan untuk Nelayan

Menanggapi insiden ini, Muhammad Yusuf Akbar menegaskan bahwa Pemerintah Kota Langsa terus berkomitmen bergerak cepat dalam penanganan darurat demi memastikan keselamatan masyarakat, khususnya para nelayan.

Ia juga menyampaikan imbauan mendalam agar para nelayan senantiasa mengutamakan aspek keselamatan dan kewaspadaan saat hendak mencari rezeki di laut maupun sungai.

"Kami mengimbau para nelayan agar selalu menggunakan pelampung atau life jacket, mengabarkan lokasi tujuan kepada keluarga sebelum berangkat, rutin mengecek prakiraan cuaca, serta membawa telepon seluler dengan menyimpan nomor-nomor darurat," pungkasnya.

(Serambinews.com/Zubir)

Baca juga: Nelayan Aceh Tamiang Hilang Setelah Perahu Terbalik Dihantam Ombak di Perairan Seruway

Baca juga: 19 Nelayan Aceh Timur Ditangkap Otoritas Thailand, Pemkab Surati Kemenlu

Baca juga: Lahan Seluas 7 Ribu Meter Persegi di Muara Dua Lhokseumawe Terbakar Jelang Magrib

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.