Kemarau Picu Krisis Air Bersih, Warga Muaro Jambi Terpaksa Beli Air Tangki
Heri Prihartono July 28, 2026 01:05 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Musim kemarau panjang mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Provinsi Jambi.

Warga Desa Mekar Jaya, Kabupaten Muaro Jambi, menjadi salah satu yang terdampak. Sumur-sumur warga mulai mengering sehingga mereka terpaksa membeli air bersih yang diantar menggunakan mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Wahyudi, warga Desa Mekar Jaya, mengatakan setiap pengiriman air bersih sebanyak 1.000 liter dijual dengan harga berkisar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu.

"Kalau sekarang kami sudah mulai beli air. Sumur mulai berkurang, jadi terpaksa pesan air mobil tangki. Harganya sekitar Rp60 ribu sampai Rp70 ribu untuk 1.000 liter," kata Wahyudi.

Menurutnya, kondisi tersebut sudah mulai dirasakan warga dalam beberapa pekan terakhir seiring kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Sementara itu, musim kemarau panjang juga kembali terjadi di Sungai Batanghari.

Nadi kehidupan masyarakat Jambi tersebut kini menyusut drastis.

Di sejumlah wilayah, hamparan pasir luas dan dataran lumpur yang mengeras terlihat di area tebing yang biasanya terendam aliran air.

Pemandangan tak biasa ini bukan sekadar fenomena alam tahunan, melainkan sinyal bahaya bagi warga yang bergantung pada aliran sungai terpanjang di Sumatra tersebut.

Endapan lumpur yang terbawa arus lalu mengendap dan menjadi tanah padat kian mempertegas tingkat pendangkalan yang terjadi pada musim kemarau tahun ini.

Dampak kemarau tidak hanya terjadi di tepian sungai. Krisis air bersih mulai dirasakan warga dan berdampak pada permukiman di kawasan pesisir. Sumur-sumur galian yang biasanya menghasilkan air jernih kini berubah menjadi keruh, berbau, dan tidak layak untuk dikonsumsi.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh Azizi, warga Kelurahan Tahtul Yaman, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi. Ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari akibat perubahan kualitas air sumur di rumahnya.

"Sumur yang tadinya jernih sekarang malah keruh dan berbau. Untuk saat ini masih bisa digunakan, tapi tidak tahu ke depannya bagaimana," kata Azizi.

Jika kemarau ini berlangsung hingga berbulan-bulan dan menyebabkan berkurangnya sumber air bersih, warga berharap pemerintah dapat turun tangan membantu masyarakat.

"Kami berharap nantinya ada perhatian dan penyaluran bantuan air bersih dari pemerintah sebelum kondisi makin parah," imbuhnya.

Masyarakat kini hanya bisa berharap hujan segera turun agar krisis air bersih tidak terus berlanjut. (Tribunjambi.com/Heri Prihartono/Muzakkir)

Baca juga: Dua Sisi Kemarau Batanghari, Krisis Air Bersih hingga Endapan Lumpur Disulap Jadi Kebun Sayur

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.