TRIBUNNEWS.COM - Sepak bola Italia kembali memasuki masa penuh ketidakpastian. Di tengah ambisi membangun era baru, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) justru dihadapkan pada pilihan yang mencerminkan dilema besar.
Pilihannya, kembali mempercayakan Timnas Italia kepada sosok lama seperti Roberto Mancini atau Antonio Conte, atau mengambil risiko dengan menunjuk wajah baru seperti Thiago Motta.
Situasi tersebut muncul setelah proyek besar yang digagas legenda AC Milan, Paolo Maldini, bersama Leonardo, runtuh hanya dalam hitungan hari.
Keduanya memutuskan mundur dari jabatan direktur teknik dan penasihat khusus, meninggalkan proses pencarian pelatih kembali ke titik awal.
Padahal, baru empat hari sebelumnya FIGC memperkenalkan proyek baru yang disebut sebagai langkah besar untuk membangun masa depan sepak bola Italia, mulai dari pembinaan usia muda hingga tim nasional senior.
Maldini dan Leonardo datang membawa visi berbeda. Mereka ingin Italia keluar dari pola lama dengan menunjuk pelatih yang dapat menjadi simbol perubahan.
Upaya pertama dilakukan dengan mendekati Carlo Ancelotti, kemudian Pep Guardiola. Namun keduanya menolak tawaran tersebut.
Pilihan berikutnya jatuh kepada Andrea Pirlo. Akan tetapi, rencana itu kandas setelah muncul gelombang penolakan terkait status Pirlo sebagai duta global perusahaan judi Rusia, Fonbet.
Kontroversi tersebut membuat proses penunjukannya dihentikan.
Perbedaan pandangan mengenai langkah selanjutnya menjadi pemicu mundurnya Maldini dan Leonardo.
Sebelumnya, seperti dilansir Football Italia, Presiden FIGC Giovanni Malago menjelaskan alasan membentuk jabatan direktur teknik.
"Pendahulu saya memilih pelatih tim nasional secara langsung. Saya ingin membalik pendekatan itu dengan menunjuk seseorang yang tidak hanya mengawasi tim nasional, tetapi juga seluruh sistem akademi," kata dia.
Ia menegaskan bahwa seluruh keputusan seharusnya diambil secara bersama.
"Sangat penting untuk berbagi setiap keputusan. Mereka tidak akan melakukan sesuatu yang saya tidak setujui, begitu pula sebaliknya," kata dia.
Namun dalam praktiknya, kesamaan pandangan itu tidak pernah benar-benar terwujud.
Setelah proyek perubahan gagal berjalan, arah FIGC kembali mengarah pada dua nama yang sudah sangat akrab dengan Timnas Italia.
Menurut berbagai laporan media Italia, Giovanni Malagò lebih condong mendukung kembalinya Roberto Mancini, pelatih yang membawa Italia menjuarai Euro 2020 sebelum mengundurkan diri pada 2023.
Sementara itu, sejumlah klub Serie A disebut lebih menginginkan Antonio Conte, yang pernah menangani Gli Azzurri pada periode 2014 hingga 2016.
Keduanya kini sama-sama tidak terikat kontrak. Conte baru saja mengakhiri kerja sama dengan Napoli, sedangkan Mancini berpisah dengan Al Sadd setelah sebelumnya melatih Timnas Arab Saudi.
Jika salah satu dipilih, Italia praktis kembali menggunakan formula lama, sesuatu yang bertolak belakang dengan semangat perubahan yang sempat digaungkan.
Di tengah tarik-menarik kepentingan tersebut, muncul satu nama yang dinilai mampu menjadi titik temu, yakni Thiago Motta.
Mantan gelandang Timnas Italia itu disebut mulai menjalin komunikasi dengan FIGC.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, Motta dianggap dapat menyatukan keinginan Maldini dan Leonardo yang menghendaki pendekatan baru dengan keinginan Malagò untuk tetap menunjuk sosok berpengalaman.
Motta memang belum memiliki rekam jejak sepanjang Mancini maupun Conte. Namun pelatih berusia 43 tahun itu sempat mencuri perhatian saat membawa Bologna lolos ke Liga Champions.
Meski kemudian dipecat Juventus pada Maret 2025 setelah mencatatkan 18 kemenangan, 16 hasil imbang, dan delapan kekalahan, Motta masih dipandang sebagai salah satu pelatih muda paling menjanjikan di Italia.
Kini FIGC dihadapkan pada keputusan yang lebih besar daripada sekadar memilih pelatih.
Memilih Mancini atau Conte berarti mengandalkan pengalaman dan rekam jejak yang sudah terbukti, tetapi juga memberi kesan Italia kembali bergantung pada sosok-sosok lama.
Sebaliknya, menunjuk Thiago Motta membawa peluang untuk memulai babak baru, meski disertai risiko karena pengalaman kepelatihannya masih relatif terbatas.
Apa pun keputusan yang diambil, proses pencarian pelatih kali ini telah memperlihatkan bahwa persoalan Italia bukan sekadar siapa yang duduk di bangku cadangan.
Melainkan, bagaimana federasi menentukan arah sepak bola nasional di tengah tuntutan untuk kembali menjadi kekuatan utama Eropa dan dunia.
(Tribunnews.com/Tio)