BBM Langka! Alasan Distribusi karena Sungai Kapuas Dangkal Sulit Diterima Warga Pontianak
Syahroni July 28, 2026 12:30 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) masih terjadi di sejumlah SPBU di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, pada Selasa 28 Juli 2026. 

Salah satu titik antrean terpantau berada di SPBU kawasan Jalan Hos Cokroaminoto, dengan kendaraan mengular hingga memakan badan jalan.

Baca juga: Antrean Panjang SPBU Pontianak-Kubu Raya, Bikin Harga BBM Eceran Naik hingga Rp20 Ribu per Liter

Antrean didominasi kendaraan roda dua dan roda empat yang telah menunggu sejak pagi. 

Kondisi tersebut tidak hanya memperlambat arus lalu lintas, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat yang bergantung pada ketersediaan BBM untuk kebutuhan sehari-hari.

Salah seorang warga, Een (51), mengaku sangat terdampak dengan kembali terjadinya antrean panjang di SPBU.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat berbagai aktivitas harian menjadi terganggu, termasuk mengantar anak ke sekolah.

"Antrean BBM yang terulang ini sangat merugikan sekali. Aktivitas kita sehari-hari pun terganggu"

"Kita antar anak sekolah pun terbengkalai karena minyak tidak ada," ujarnya kepada TribunPontianak.co.id.

Baca juga: Viral BBM di Kalbar! Warga Terpaksa Antre Sejak Subuh di SPBU Desa Pasir Mempawah

Een mengatakan dirinya harus mengantre sekitar 30 menit untuk mendapatkan BBM.

Baginya, lamanya antrean masih bisa dimaklumi selama stok BBM tetap tersedia saat giliran pengisian tiba.

"Saya antre kurang lebih setengah jam. Kalau sudah antre selama itu, yang penting BBM masih ada. Jangan sampai sudah lama mengantre, ternyata minyaknya habis," katanya.

Ia juga menggambarkan kondisi masyarakat yang harus berpanas-panasan, bahkan ada yang terpaksa mendorong kendaraan akibat sulit memperoleh BBM.

"Sudah berkeringat-keringat, basah-basah, dorong-dorong kendaraan. Untuk harga alhamdulillah masih normal, cuma ke depannya jangan sampai seperti ini lagi," ucapnya.

Menurut Een, pemerintah bersama pihak terkait perlu segera mengambil langkah konkret agar persoalan antrean BBM tidak terus berulang.

Ia berharap distribusi BBM dapat diantisipasi lebih baik sehingga tidak berdampak langsung kepada masyarakat.

"Tolong pemerintah maupun Pak Presiden mengambil solusi yang terbaik"

"Jangan sampai kondisi seperti ini terulang lagi," tegasnya.

Ia juga menilai berbagai alasan terkait kendala distribusi, seperti kondisi perairan yang dangkal, bukanlah jawaban yang diharapkan masyarakat.

Menurutnya, jika memang terdapat potensi hambatan distribusi, pasokan BBM seharusnya sudah disiapkan lebih awal.

"Kalau memang ada kendala seperti air dangkal atau kapal, seharusnya pengiriman dilakukan jauh hari sebelumnya agar masyarakat tidak mengalami kesulitan," tuturnya.

Bagi masyarakat, lanjut Een, yang terpenting bukanlah persoalan teknis distribusi, melainkan kepastian ketersediaan BBM agar aktivitas sehari-hari dapat berjalan normal.

"Masyarakat tidak ingin tahu soal masalah distribusi"

"Yang kami butuhkan adalah BBM tersedia sehingga bisa bekerja, mengantar anak sekolah, dan menjalankan aktivitas seperti biasa," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.