TRIBUNNEWSMAKER.COM - Agresi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran selama 12 hari disebut menimbulkan dampak besar terhadap korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Pemerintah Iran mengklaim sedikitnya 60 orang tewas dan 670 lainnya mengalami luka-luka akibat rangkaian serangan tersebut.
Data korban itu disampaikan Kementerian Kesehatan Iran dan dikutip media Al Mayadeen.
Korban disebut berasal dari kalangan warga sipil hingga personel militer yang berada di berbagai lokasi terdampak.
Serangan dilaporkan menghantam fasilitas militer, titik strategis, hingga kawasan permukiman di sejumlah wilayah Iran.
Otoritas setempat menyebut sejumlah rumah warga dan infrastruktur sipil turut mengalami kerusakan akibat gempuran tersebut.
Tim penyelamat dan tenaga medis hingga kini masih melakukan evakuasi untuk mencari korban yang diduga masih tertimbun reruntuhan bangunan.
Pemerintah Iran mengecam keras operasi militer Washington dan menilainya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara serta hukum internasional.
Teheran juga menegaskan tidak akan tinggal diam atas jatuhnya puluhan korban tewas dan ratusan korban luka.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memutuskan menghentikan sementara serangan setelah mendapat masukan dari petinggi militernya.
Iran kemudian membantah tudingan bahwa mereka meminta perdamaian atau mengemis negosiasi kepada Washington.
Ketegangan kedua negara pun masih berlanjut, terutama terkait kendali atas Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Baca juga: Ancaman Trump Makin Keras usai Tentara AS Tewas, Pengamat, Pengamat Sebut Iran Tak Lagi Gentar
Seperti diketahui, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Iran yang dikutip Al Mayadeen, korban tewas dan luka-luka terdiri dari warga sipil hingga personel militer.
Serangan beruntun selama hampir dua pekan tersebut menghantam sejumlah titik strategis, fasilitas militer, hingga area pemukiman warga di beberapa wilayah Iran.
"Gempuran intensif selama 12 hari ini tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga menghancurkan infrastruktur sipil serta rumah-rumah warga," demikian pernyataan otoritas setempat.
Hingga saat ini, tim medis dan petugas penyelamat di Iran dilaporkan masih terus melakukan proses evakuasi di lokasi-lokasi terdampak untuk mencari korban yang diduga masih tertimbun puing-puing bangunan.
Pemerintah Iran mengecam keras eskalasi militer AS tersebut dan mengutuknya sebagai bentuk pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara serta hukum internasional.
Teheran juga menegaskan tidak akan tinggal diam atas jatuhnya ratusan korban jiwa dan luka-luka akibat serangan ini.
Pejabat tinggi militer Iran memperingatkan bahwa pihak bersenjata Teheran siap melancarkan balasan yang setimpal atas aksi agresif Washington.
"Setiap agresi terhadap tanah air dan rakyat kami tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Iran memiliki hak penuh untuk membela diri," tegas pemerintah Iran.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menghentikan sementara serangan terhadap Iran.
Namun, Teheran menegaskan tetap memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan membantah klaim Washington yang menyebut pihaknya "mengemis" perundingan.
Keputusan Trump menangguhkan serangan udara berturut-turut selama 13 malam tersebut diambil atas saran petinggi militer AS.
Mereka menilai operasi militer untuk mematahkan cengkeraman Iran di jalur pelayaran vital dunia itu sudah mencapai batas efektivitasnya.
Meskipun pejabat AS mengklaim jeda serangan bertujuan membuka ruang diplomasi, pemerintah Iran merespons keras narasi yang dibangun Washington.
"Pesan memang tetap disampaikan melalui negara mediator dan Iran tidak pernah menutup pintu diplomasi."
"Namun, laporan yang menyebut Iran meminta negosiasi dengan AS adalah fabrikasi (kabar bohong)."
"Itu sama sekali bukan bagian dari DNA kami," tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam konferensi pers resminya, dikutip dari Reuters.
Kendati klaim saling bertolak belakang terus bergulir, Trump mengklaim dari Washington bahwa kedua negara tengah terlibat dalam "pembicaraan yang memuaskan".
"Saya pikir ada peluang bagus untuk mencapai kesepakatan. Jika berhasil, itu bagus."
"Namun jika gagal, kita akan kembali melakukan apa yang kita lakukan dua hari lalu," ucap Trump.
Pangkal utama konflik ini berpusat pada hak navigasi di Selat Hormuz — jalur perairan paling krusial bagi pasokan minyak dan energi global.
Sebelumnya, Washington mengimbau kapal-kapal dagang untuk berlayar mendekati pesisir Oman guna menghindari pengawasan Teheran.
Langkah ini dibalas Iran dengan menembaki kapal-kapal yang nekat melintas tanpa izin.
Iran menuntut seluruh kapal menggunakan koridor pelayaran resmi dekat pesisirnya di bawah pengawasan militer Teheran serta membayar retribusi transit.
Hanya beberapa jam setelah penangguhan serangan AS berlaku, media pemerintah Iran melaporkan bahwa angkatan lautnya telah menghadang dan memutar balik enam kapal dagang asing yang mencoba menerobos Selat Hormuz tanpa izin dari Teheran.
(TribunNewsmaker.com/TribunNews/Whiesa)