TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar seminar dan lokakarya berbasis Outcome-Based Education (OBE) magister kenotariatan.
Seminar dan lokakarya ini digelar untuk menentukan arah kurikulum program studi kenotariatan yang resmi dibuka Pascasarjana UMI, pada April 2026 lalu.
Kegiatan dengan tema, "Sinkronisasi Kompetensi Profesi dalam Penyusunan dan Pengembangan Kurikulum pada Era Digital" ini dihadiri sejumlah pakar, praktisi dan akademisi, termasuk Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia (INI) sebagai narasumber.
Kegiatan itu, resmi dibuka Rektor UMI Prof Dr H Hambali Thalib di Aula PJJ Pascasarjana UMI, Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (28/7/2026).
Rektor UMI dalam sambutannya mengatakan, kurikulum yang digagas Prodi Kenotariatan Pascasarjana UMI tidak hanya menuntun mahasiswa menjadi lulusan yang kompetitif.
Lebih dari itu, kata dia, lulusan Prodi Kenotariatan Pascasarjana UMI, juga harus memiliki karakter ke-umi-an yang kuat.
Menurutnya, karakter ke-umi-an yang kuat dengan nuansa keislaman telah konsisten ditanamkan Rektor ke-7 UMI Prof Dr H Abdurahman A Basalamah.
"Misi UMI adalah melahirkan manusia yang beriman, berilmu amaliah, beramal ilmiah, berakhlakul karimah, serta berdaya saing global. Era kepemimpinan Basalamah selalu dulu dikatakan islamisasi," jelas Prof Hambali.
Pada kesempatan itu, Guru Besar Hukum Pidana UMI ini, pun mengajak seluruh peserta agar menghadirkan kurikulum yang bisa mengikuti dinamika perkembangan saat ini
"Saya ini mengajak dan mengingatkan, tanpa bermaksud menggurui para peserta: mari kita melahirkan sebuah kurikulum yang memang bisa mengikuti dinamika perkembangan," ujar Prof Hambali.
"Mari kita melahirkan sebuah kurikulum yang berstandar memang secara nasional. Jangan karena ego kepentingan kita, ego keilmuan kita, lalu mendorong kurikulum itu tidak standar," imbuhnya.
Direktur Pascasarjana UMI Prof Dr La Ode Husen, mengatakan, seminar dan lokakarya ini merupakan komitmen UMI dalam melahirkan lulusan notaris yang berdaya saing nasional hingga global.
"Alhamdulillah, lokakarya yang diselenggarakan oleh Magister Kenotariatan UMI ini merupakan bentuk komitmen pascasarjana. Dalam mendesain kurikulum berbasis outcome-based education, kita sudah bisa menentukan profil lulusan Magister Kenotariatan ke depannya dari awal," jelas Prof La Ode Husen.
Dengan adanya kegiatan itu, lanjut Prof La Ode Husen, diharapkan lulusan Magister Kenotariatan UMI nantinya dapat langsung beradaptasi dengan dunia kerja.
"Kurikulum yang didesain ini sejak awal melibatkan para pihak, pakar kurikulum, dan stakeholder, sehingga mampu beradaptasi dengan era revolusi industri 4.0," terang Prof La Ode.
"Kita harapkan ke depannya lulusan Magister Kenotariatan UMI bukan sekadar produk kecerdasan buatan (AI), melainkan dapat menjadi notaris-notaris yang berkarakter sesuai dengan komitmen keilmuan, memiliki komitmen integritas, beretika (tentunya etika Islami), serta menjadi notaris yang bermoral," tambahnya.
Setelah pelaksanaan seminar dan lokakarya itu, kurikulum Prodi Kenotariatan Pascasarjana UMI akan ditetapkan untuk lima tahun ke depan.
Untuk tahap awal, saat ini, Pascasarjana UMI telah membuka dua kelas untuk prodi magister kenotariatan. Masing-masing kelas terdiri dari 20 mahasiswa.
Sementara itu, Ketua Bidang Prodi Kenotariatan di PP INI (periode 2023–2026), Dr Sri Endah Wuandari, mengatakan, keterlambatan INI dalam kegiatan ini untuk menyelaraskan teori dan praktik kurikulum kenotariatan.
"Pengurus Pusat INI turut dilibatkan sebagai narasumber dalam rangkaian acara semiloka ini untuk menyelaraskan kurikulum teori dan praktik kenotariatan serta kepaniteraan yang serba digital. Sesuai arahan Rektor, 60 persen tenaga pengajar idealnya berasal dari praktisi notaris," tuturnya.(*)