Siswa SD DDI Toppong Polman Belajar di Ruang Kelas Nyaris Ambruk, Tiang Penyangga Miring
Nurhadi Hasbi July 28, 2026 03:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN – Bangunan kelas jauh Sekolah Dasar (SD) DDI Toppong di Dusun Seppong Batu, Desa Landi Kannusuang, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), nyaris ambruk, Selasa (28/7/2026).

Kelas jauh tersebut berjarak sekitar 15 kilometer dari sekolah induk yang berada di Dusun Toppong.

Bangunan kelas ini berukuran sekitar 3x5 meter dan terbagi menjadi dua ruangan.

Namun, satu ruangan sudah tidak lagi digunakan karena kondisinya mengalami kerusakan parah.

Baca juga: Polisi Amankan 2 Pelajar Ngamuk di Wonomulyo Polman, Diduga Mabuk Tembakau Sintetis

Baca juga: Tinggal di Rumah Nyaris Ambruk, Disabilitas di Darma Polman Batal Dapat Bantuan Bedah Rumah

Sementara satu ruangan lainnya masih dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar.

Tiang dan dinding bangunan terbuat dari kayu, sedangkan bagian atap menggunakan seng.

Lantai ruangan masih berupa tanah dan kerap becek saat musim hujan.

Sejumlah bagian dinding dan tiang juga telah rusak hingga terlepas akibat papan serta balok kayu yang lapuk dimakan usia.

Kondisi bangunan yang memprihatinkan itu membuat murid terpaksa belajar di ruangan yang tidak layak.

Bukan hanya kondisi bangunan, fasilitas pembelajaran di sekolah tersebut juga sangat terbatas.

Hanya terdapat sejumlah meja, kursi, papan tulis, serta beberapa buku bacaan yang sebagian kondisinya sudah usang.

Kondisi bangunan tersebut membuat orang tua siswa khawatir, terutama saat hujan deras disertai angin kencang.

"Kita takut, apalagi kalau ada angin kencang atau hujan deras, kita takut, tapi mau mi diapa," ujar salah satu orang tua siswa, Rusmiati, kepada wartawan.

Rusmiati menuturkan, kelas jauh tersebut hanya memiliki seorang guru.

Saat guru berhalangan hadir, para siswa terpaksa tidak mengikuti proses belajar mengajar dan kembali ke rumah.

Menurut Rusmiati, bangunan kelas jauh tersebut dibangun secara swadaya oleh warga sekitar dan hingga kini belum pernah mendapatkan perbaikan.

Sekolah Berharap Pemerintah Segera Berikan Perhatian

Sementara itu, guru SD DDI Toppong, Sugianto, menuturkan kelas jauh tersebut memiliki sekitar 14 murid yang terdiri dari kelas I hingga kelas VI.

Selain itu, terdapat seorang anak yang masih berstatus sebagai murid taman kanak-kanak (TK) dan seorang lainnya berstatus sebagai siswa sekolah menengah pertama (SMP).

Sugianto menjelaskan, bangunan kelas jauh tersebut dibangun dengan difasilitasi warga sekitar pada 2012 lalu.

Pembangunan dilakukan agar anak-anak di wilayah tersebut tetap dapat mengenyam pendidikan, sebab sekolah lain memiliki jarak cukup jauh dan harus melewati kawasan hutan.

Pihak sekolah tidak dapat berbuat banyak untuk memperbaiki bangunan yang kondisinya sudah nyaris ambruk tersebut.

Sementara bantuan yang diharapkan dari pemerintah terkendala status sekolah yang merupakan sekolah swasta.

"Memang kondisi sekolah sudah sangat membahayakan, bahkan hampir roboh, tapi apa daya kami. Selama ini belum ada perhatian. Kendalanya karena status sekolah swasta," ucapnya.

Ia berharap pemerintah segera membantu perbaikan bangunan ruang kelas yang sudah tidak layak tersebut.

Dengan demikian, para murid dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan aman, nyaman, dan tenang. (*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.