Krisis BBM di Aceh Tenggara Berlanjut, Antrean Panjang Masih Padati SPBU
Budi Fatria July 28, 2026 12:57 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Asnawi Luwi | Aceh Tenggara

TribunGayo.com, KUTACANE – Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, hingga kini masih berlanjut.

Antrean panjang kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, masih terus terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah tersebut.

Berdasarkan pantauan wartawan TribunGayo.com Asnawi Luwi, pada Selasa (28/7/2026) pagi, antrean kendaraan terpantau cukup parah.

Seperti di SPBU Kuning, Kecamatan Bambel, antrean panjang terjadi pada pukul 08.50 WIB, memanjang dari arah Kutacane menuju Medan.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga Sumbagut Pastikan Pasokan BBM Aceh Tenggara Berangsur Normal

Kemudian, di SPBU Lawe Kihing, Kecamatan Bambel, kondisi serupa juga terpantau pada pukul 09.10 WIB.

Surat Edaran Bupati

Sebelumnya, Bupati Aceh Tenggara, HM Salim Fakhry, telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 1003.4.2/18/2026 tentang Penertiban Pendistribusian BBM Bersubsidi yang berlaku sejak 21 Juli 2026.

Aturan tersebut memuat batasan ketat dalam pengisian BBM di Aceh Tenggara diantaranya:

  • Syarat Pengisian: Pengendara wajib menunjukkan STNK asli.
  • Waktu Operasional: Konsumen dilarang mengantre di area SPBU sebelum pukul 06.30 WIB.
  • Pembatasan Pembelian: Roda 2: maksimal Rp50.000 per pengisian, Roda 4: maksimal Rp200.000 per pengisian, dan Kendaraan 6 roda atau lebih: maksimal Rp400.000 per pengisian.

Dampak bagi Masyarakat dan Sopir Angkutan

Meski surat edaran telah diberlakukan, kenyataan di lapangan menunjukkan antrean masih terjadi setiap hari.

Warga setempat, Maulana, mengungkapkan bahwa kondisi ini berdampak buruk bagi perekonomian masyarakat.

Akibat kelangkaan ini, harga Pertalite (BBM subsidi) di tingkat pengecer melambung hingga Rp 13.000 per liter.

Keluhan serupa datang dari M. Rais, seorang sopir angkutan rute Kutacane–Medan.

Ia mengaku kesulitan mendapatkan BBM jenis Solar (Biodiesel B50) yang sering habis lebih cepat di SPBU.

“Antrean panjang berjam-jam sering terjadi. Daripada lama menunggu, kami terpaksa harus membeli BBM di tingkat pengecer dengan harga Rp12.000 per liter,” ungkap M. Rais. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.