TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Lumbung Mataraman di Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, Kulon Progo sudah berjalan selama setahun terakhir sejak diresmikan pada 2025 lalu.
Manfaatnya pun mulai dirasakan oleh warga setempat, terutama bagi para petani.
Lurah Giripeni, Iswanto Adi Saputro menyampaikan salah satu manfaat yang didapatkan petani adalah bisa mendapatkan bibit tanaman pangan dengan mudah.
"Saat ini ada banyak bibit tanaman hortikultura seperti melon, kembang kol, bawang merah, dan cabai," kata Adi ditemui pada Selasa (28/07/2026).
Para petani bisa mendapatkan sarana produksi pertanian (saprodi) secara gratis dari Lumbung Mataraman, salah satunya bibit tanaman.
Nantinya bibit ditanam dan hasilnya akan dipanen lalu dijual oleh petani ke warga hingga pemasok bahan pangan.
Nantinya hasil penjualan akan disetor kembali ke Lumbung Mataraman sebagai modal operasional.
Adi mengatakan pihaknya menggunakan sistem bagi hasil 10:80 dengan petani.
"Kami hanya mengambil 10 persen sebagai Pendapatan Lain-lain (PLL) kalurahan, sisanya diberikan ke petani," jelasnya.
Baca juga: Bea Cukai Yogyakarta dan Satpol PP DIY Musnahkan Barang Ilegal Senilai Rp910 Juta
Menurut Adi, lewat cara ini petani tidak perlu mengeluarkan modal pribadi untuk bertani. Sebaliknya, mereka justru bisa langsung mendapat akses bibit hingga keuntungan besar.
Operasional Lumbung Mataraman Giripeni sepenuhnya mengandalkan Dana Keistimewaan (Danais) DIY. Lahan yang dikembangkan luasnya mencapai 2,5 hektare (ha), yang saat ini sudah ditanami hortikultura.
Adi mengatakan pihaknya sudah menyiapkan rencana pengembangan dari Lumbung Mataraman Giripeni.
Seperti memperluas kebun bibit untuk memenuhi suplai ke petani, pembukaan lahan bawang merah sekitar 1 ha, dan lahan padi seluas 5 ha.
"Nanti akan diarahkan ke petani di Giripeni yang memiliki hamparan sendiri, dan bibitnya kami belikan lewat Lumbung Mataraman," ujarnya.
Salah satu bahan pangan yang baru panen di Lumbung Mataraman Giripeni adalah kembang kol.
Ketua Lumbung Mataraman Giripeni, Untung Suharjo mengatakan penanaman kembang kol baru perdana dilakukan dan berhasil panen setelah ditanam selama satu setengah bulan.
Lahan yang ditanami luasnya sekitar 1.200 meter persegi dengan hasil panen bisa sekitar 6 sampai 7 kuintal. Hasil panen pun langsung dibeli oleh warga bahkan pedagang pasar.
"Kembang kolnya dijual sedangkan daunnya dijadikan pakan ternak," jelas Untung.
Menurutnya, penghasilan petani di Giripeni meningkat sejak adanya Lumbung Mataraman.
Apalagi mereka tidak perlu keluar modal karena semua saprodi sudah disediakan sehingga mereka tinggal menanam dan menjual hasil panennya.
Tak hanya meningkatkan penghasilan petani, hasil penjualan bahan pangan juga menaikkan pendapatan kalurahan. Itu sebabnya Untung berharap ada dukungan yang diberikan ke Lumbung Mataraman agar bisa terus berlanjut.
"Apalagi Lumbung Mataraman Giripeni juga akan dijadikan sebagai destinasi agrowisata sebagai sarana edukasi pertanian," katanya.(alx)