Psikolog Bagikan Cara Berkomunikasi dengan Anak Autisme
Benedikta Desideria July 28, 2026 01:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Psikolog klinis RSA UGM, Titik Adianingsih mengatakan anak dengan autisme memiliki kesulitan dalam berbahasa dan berkomunikasi. Anak autisme juga kesulitan dalam interaksi sosial dan pemahaman terhadap sekitarnya dan kurang fleksibilitas dalam berpikir dan bertingkah laku.  

Maka dari itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat berbicara dengan anak autis.

Pertama, pastikan terlebih dahulu anak memberikan perhatian sebelum menyampaikan pesan. Salah satu caranya adalah memanggil namanya lebih dulu, misalnya, "Atha, waktunya makan."

Sebaliknya, Titik tidak menyarankan memanggil nama anak di akhir kalimat, seperti "Waktunya makan, Atha." Menurutnya, anak bisa saja kehilangan atau lupa dengan pesan yang sudah disampaikan karena baru menyadari bahwa kalimat tersebut ditujukan kepadanya.

Titik juga mengatakan orangtua juga dianjurkan membuat kontak mata dengan anak. Caranya, duduklah di depan anak sehingga posisi mata sejajar agar komunikasi menjadi lebih efektif.

Kedua, gunakan kalimat yang singkat dan sederhana. Berikan jeda sekitar enam hingga sepuluh detik sebelum melanjutkan ke kalimat berikutnya agar anak memiliki waktu memproses informasi yang diterima.

"Usahakan ada jarak 6-10 detik antar satu kalimat dengan kalimat berikutnya. Kalau kita terburu-buru mengatakannya, mereka bisa jadi kacau. Jadi gunakan kalimat pendek dan ada jeda, karena mereka butuh waktu untuk memproses setiap kalimat," tutur Titik mengutip laman UGM.

 

Manfaatkan Petunjuk Visual

Cara berkomunikasi dengan anak autisme (foto/dok: freepik)
Cara berkomunikasi dengan anak autisme (foto/dok: freepik)

 

Ketiga, manfaatkan petunjuk visual saat berkomunikasi. Hal ini membuat anak lebih mudah memahami informasi yang dapat dilihat secara langsung.

Misalnya, saat mengajak anak makan, orang tua tidak hanya mengucapkan kata "makan", tetapi juga menunjukkan piring berisi makanan. Dengan pengulangan yang konsisten, anak akan mulai menghubungkan kata "makan" dengan aktivitas yang dimaksud.

"Kita ngomong makan mungkin mereka enggak paham. Tapi kalau mereka melihat piring dan ada nasi di situ, mereka akan mengerti bahwa itu makan. Kalau sering diulang, lama-lama mereka bisa menangkap bahwa bunyi 'makan' itu memang memiliki makna," tutur Titik.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.