Fenomena Remaja Pilih Curhat ke AI, IDAI Ingatkan Jangan Sampai Jadi Pengganti Psikolog
Seli Andina Miranti July 28, 2026 03:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Fenomena remaja yang lebih nyaman “curhat” kepada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) daripada kepada orang terdekat kian marak. 

Menyikapi tren tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa AI hanya dapat menjadi pendamping untuk keluhan emosional ringan dan tidak bisa menggantikan penanganan profesional.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp.T.K.P.S.(K), mengatakan perkembangan AI memang membuka ruang baru bagi remaja untuk mengekspresikan perasaan dan mencari teman berbicara ketika sedang menghadapi tekanan emosional.

Baca juga: Polsek Juntinyuat Indramayu Ringkus 3 Remaja Saat Konvoi, Diduga Hendak Tawuran

Namun, ia menegaskan kemampuan AI masih sangat terbatas sehingga tidak boleh dijadikan sebagai satu-satunya tempat mencari pertolongan, terutama bagi remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental.

“AI memang bisa memberikan respons yang cukup baik untuk masalah kesehatan mental yang ringan. Tetapi AI tidak melakukan diagnosis dan tidak melakukan tata laksana yang bersifat mengubah perilaku maupun pola pikir seseorang,” ujar dokter Angga dalam seminar media IDAI secara virtual, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, saat ini sudah banyak remaja memanfaatkan AI generatif untuk bertanya mengenai kecemasan, stres, atau masalah sehari-hari.

Bahkan, di luar negeri telah dikembangkan sejumlah aplikasi AI yang memang dirancang khusus sebagai teman berbicara atau pendamping emosional. 

Sayangnya, sebagian besar layanan tersebut masih menggunakan bahasa Inggris sehingga belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia.

Akibatnya, sebagian besar pengguna di Indonesia masih menggunakan AI yang bersifat umum untuk mencurahkan isi hati maupun meminta saran.

Meski demikian, dokter Angga menilai AI tetap memiliki manfaat selama digunakan secara tepat.

Ia mencontohkan seorang remaja yang merasa cemas menghadapi ujian sekolah.

Baca juga: Jam Outdoor Berbasis AI, Ini Spesifikasi Galaxy Watch Ultra2

Dalam kondisi tersebut, AI dapat memberikan respons yang bersifat empatik sekaligus menawarkan langkah-langkah sederhana untuk membantu pengguna merasa lebih tenang.

“Misalnya ada remaja yang menulis, ‘Saya cemas karena besok ujian.’ AI biasanya akan menjawab, ‘Terima kasih kamu sudah mau terbuka. Saya tahu kamu sedang cemas karena akan menghadapi ujian. Berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan.’ Respons seperti itu bisa membantu menenangkan pengguna,” katanya.

Namun, kemampuan AI berhenti pada tahap memberikan dukungan emosional dasar.

Teknologi tersebut tidak memiliki kompetensi untuk memastikan apakah seseorang mengalami depresi, gangguan kecemasan, gangguan bipolar, atau gangguan mental lainnya.

AI juga tidak dapat memberikan terapi psikologis, terapi perilaku, maupun pengobatan sebagaimana dilakukan tenaga kesehatan profesional.

“Kalau masalahnya sudah mengarah pada gangguan mental, tentu AI tidak bisa menggantikan psikolog ataupun psikiater. AI hanya membantu pada masalah kesehatan mental yang sifatnya ringan,” ujarnya.

Menurut dokter Angga, remaja yang mulai mengalami depresi, memiliki keinginan menyakiti diri, kehilangan semangat menjalani aktivitas sehari-hari, atau menunjukkan perubahan perilaku yang mengganggu fungsi sosial harus segera mendapatkan pertolongan dari tenaga profesional.

Ia menyarankan masyarakat memanfaatkan layanan psikolog, baik secara langsung maupun daring.

Saat ini, kata dia, berbagai organisasi profesi psikologi telah membuka layanan konseling secara online yang dapat diakses masyarakat, bahkan sebagian diselenggarakan secara gratis melalui kegiatan bakti sosial.

“Teman-teman bisa mencari layanan dari Himpunan Psikologi Indonesia maupun Ikatan Psikolog Klinis Indonesia. Mereka beberapa kali membuka layanan konseling psikolog secara gratis untuk masyarakat,” katanya.

Selain layanan daring, akses terhadap psikolog juga semakin mudah karena pemerintah telah menempatkan psikolog di hampir seluruh puskesmas tingkat kecamatan.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu selalu datang ke rumah sakit besar untuk mendapatkan layanan kesehatan mental.

“Di hampir setiap Puskesmas kecamatan sekarang sudah ada psikolog yang bertugas penuh. Ini menjadi akses yang sangat baik bagi masyarakat,” ujar dokter Angga.

Baca juga: SPMB Sekolah Maung Bakal Pakai Standar IQ 130? di Bogor Peserta Harus Ikut Tes Psikologi

Meski layanan semakin mudah dijangkau, ia mengakui masih banyak remaja maupun keluarga yang enggan mencari bantuan profesional karena takut dicap mengalami gangguan jiwa.

Stigma tersebut, menurutnya, menjadi salah satu alasan mengapa banyak kasus depresi pada remaja terlambat ditangani.

“Masih banyak yang berpikir kalau datang ke psikolog atau psikiater berarti gila. Padahal tidak seperti itu. Gangguan kesehatan mental sama seperti penyakit lainnya, bisa dialami siapa saja dan bisa ditangani,” katanya.

IDAI mendorong tenaga kesehatan, sekolah, keluarga, hingga media untuk bersama-sama menghilangkan stigma terhadap layanan kesehatan mental.

“Masyarakat perlu memahami bahwa berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater merupakan langkah yang wajar ketika seseorang mengalami masalah emosional, sama seperti berobat ke dokter saat mengalami penyakit fisik,” ucapnya.

Dokter Angga juga menjelaskan ada sejumlah kondisi yang mengharuskan remaja segera dirujuk ke psikolog atau psikiater.

Di antaranya apabila remaja sudah menunjukkan keinginan menyakiti diri sendiri, muncul perubahan perilaku dan emosi secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas, tidak lagi mampu menjalankan aktivitas sehari-hari seperti enggan sekolah, tidak mau makan, atau tidak mau merawat diri.

Rujukan juga diperlukan apabila gangguan mental terjadi pada remaja dengan penyakit kronis, terdapat riwayat gangguan kejiwaan dalam keluarga, atau terapi awal yang diberikan dokter tidak menunjukkan perbaikan.

“Kalau sudah ada keinginan menyakiti diri sendiri atau gangguan mental mulai mengganggu fungsi sehari-hari, jangan ditunda lagi. Remaja harus segera mendapatkan penanganan dari psikolog atau psikiater,” tegasnya.

Meski teknologi AI terus berkembang, dokter Angga menilai peran manusia tetap tidak tergantikan dalam penanganan kesehatan mental.

Menurutnya, psikolog dan psikiater tidak hanya mendengarkan keluhan pasien, tetapi juga mampu membangun hubungan terapeutik, melakukan penilaian klinis, menyusun diagnosis, hingga memberikan terapi yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

“AI bisa menjadi teman bicara awal ketika seseorang merasa cemas atau butuh didengarkan. Tetapi ketika masalahnya sudah lebih berat, jangan berhenti di AI. Segera cari pertolongan profesional agar remaja mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini,” ucapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.