SURYA.CO.ID - Ini lah rekam jejak tiga tokoh yang disebut-sebut akan menduduki jabatan Gubernur Bank Indonesia, menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri sejak Minggu (26/7/2026).
Seperti diketahui, pengunduran diri Perry dikirimkan ke Presiden Prabowo pada Minggu (26/7/2026) dan langsung ditindaklanjuti dengan menerbitkan Keputusan Presiden (Kepres) untuk menerima pengunduran diri tersebut.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan posisi Gubernur BI untuk sementara akan dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti hingga mekanisme pengisian jabatan definitif dilakukan.
Presiden Prabowo Subianto kemungkinan akan mengusulkan setidaknya tiga nama calon Gubernur BI yang baru ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
DPR RI akan melakukan seleksi fit and proper test, hasilnya kemudian direkomendasikan kepada presiden untuk dilantik menjadi Gubernur BI yang baru.
Baca juga: Rekam Jejak Thomas Djiwandono Keponakan Prabowo yang Jadi Deputi Gubernur BI, Ini Kekayaannya
Berikut tiga tokoh yang diasebut-sebut bakal mengisi jabatan Gubernur BI:
Thomas Djiwandono saat ini menjabat Deputi Gubernur BI.
Dia dilantik pada 9 Februari 2026 untuk periode 2026–2031 setelah sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan RI.
Namanya di urutan teratas disebut-sebut kandidat kuat calon gubernur bank sentral.
Dikutip dari situs Partai Gerindra, Selasa (28/7/2026), Thomas lahir sebagai keluarga terpandang,
Thomas M. Djiwandono, biasa dipanggil Tommy, lahir di Jakarta, 7 Mei 1972.
Thomas adalah anak pertama dari pasangan Soedradjad Djiwandono dan Biantiningsih Miderawati.
Ayahnya adalah mantan Gubernur Bank Indonesia yang kini mengajar di Nanyang Technological University, Singapura.
Sedangkan ibunya Bianti adalah kakak kandung Prabowo Subianto pendiri Partai Gerindra.
Thomas juga merupakan cicit R.M Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank BNI 46.
Thomas M. Djiwandono termasuk keluarga berpindidikan dan berada.
Thomas sekolah di SMP Kanisius, Menteng, Jakarta.
Sementara kuliahnya di luar negeri.
Ia kuliah di bidang studi sejarah di Haverford Colloge, Pennsylvania, Amerika Serikat dan mengambil master di bidang International Relations and International Economics di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington, Amerika Serikat.
Kariernya dimulai sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada tahun 1993 dan pada tahun 1994 di Indonesia Business Weekly.
Selain itu, Thomas pun pernah berkerja sebagai analisis keuangan di Whetlock NatWest Securities, Hong Kong.
Pada tahun 2006, kariernya terus meningkat saat pamannya Hashim memintanya untuk membantu di Arsari Group dan ia menjabat sebagai Deputy CEO Arsari Group, perusahaan agrobisnis.
Sementara di politik, ia terlibat dalam partai Gerindra, Tommy juga pernah menjadi Caleg di Provinsi Kalimantan Barat.
Pernah menjadi Bendahara Umum Partai Gerindra.
Selama Pilpres 2014, mengusung pasangan Prabowo-Hatta, peran Tommy sangat penting bagi Koalisi Merah-Putih (KMP) untuk kebutuhan logistik. Tommy sangat serius dan selalu mencatat aktivitas keuangan partai dengan sangat rapi.
Salah satu nama calon gubernur Bank Indonesia (BI) yang menguat adalah Burhanuddin Abdullah.
Namanya sudah tidak asing di dunia perbankan.
Pria kelahiran Garut, 10 Juli 1947 ini, pernah menjadi Gubernur BI dari Mei 2003 hingga Mei 2008.
Pada Pilpres 2024 lalu, dia dipercaya sebagai Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Burhanuddin Abdullah pernah menjabat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di era Presiden Abdurrahman Wahid.
Saat ini dipercaya menjabat sebagai Ketua Tim Pakar dan Inisiator Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Dia juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), posisi yang diembannya sejak 23 Juli 2024.
Di dunia internasional, Burhanuddin pernah menjadi Gubernur untuk International Monetary Fund (IMF) di Indonesia.
Burhanuddin Abdullah menempuh pendidikan S1 di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) dan lulus pada 1974.
Kemudian melanjutkan studi di Michigan State University, Amerika Serikat, dan meraih gelar Master of Arts di bidang Ekonomi pada 1984.
Pada 2006, ia dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya di bidang ekonomi.
Tahun 2008 dia tersandung kasus korupsi dana BI.
Pada 29 Oktober 2008, ia divonis lima tahun penjara dan denda Rp 250 juta oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.
Dia bebas bersyarat pada 6 Maret 2010 dari Lapas Sukamiskin, Bandung, setelah mendapatkan pembebasan bersyarat karena telah menjalani dua pertiga masa hukuman.
Destry Damayanti saat ini ditunjuk sebagai sebagai pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI menggantikan Perry Warjiyo.
Namun bukan tidak mustahil dia akan didorong menjadi Gubernur BI yang permanen mengingat dari sekian kandidat kuat, namanya tergolong 'netral' dengan rekam jejak yang baik.
Sesuatu yang dibutuhkan untuk sosok pimpinan bank sentral.
Desty sebelumnya menjabat deputi Gubernur BI.
Sebelum bergabung dengan BI, Desty dikenal ekonom senior Indonesia yang memiliki pengalaman panjang di bidang ekonomi, keuangan, dan kebijakan publik.
Perempuan kelahiran Jakarta, 16 Desember 1963, ini dikenal memiliki rekam jejak karier yang kuat, mulai dari dunia akademik, sektor perbankan, hingga pemerintahan.
Destry menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia (UI) sebelum melanjutkan studi Master of Science di Cornell University, New York, Amerika Serikat.
Januari hingga Agustus 1989, ia menjadi asisten peneliti di Harvard Institute for International Development (HIID).
Dia bekerja sebagai peneliti di Institut Manajemen Fakultas Ekonomi UI pada Agustus 1989 hingga Agustus 1990.
Destry juga bertugas di Badan Analisa Keuangan dan Moneter (BAKM) Kementerian Keuangan sejak Agustus 1992 hingga Maret 1997.
Destry bergabung dengan Citibank Indonesia sebagai ekonom pada April 1997 hingga Mei 2000.
Setelah meninggalkan Citibank, ia dipercaya menjadi Senior Economic Adviser untuk Duta Besar Inggris untuk Indonesia selama periode 2000-2003.
Menjabat sebagai Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada 2005-2011.
Destry dipercaya menjadi Kepala Ekonom Bank Mandiri pada 2011-2015.
Mei 2015, Presiden Joko Widodo menunjuk Destry sebagai Ketua Panitia Seleksi (Pansel) calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Pada 2019, Destry Damayanti diajukan Presiden Joko Widodo sebagai calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) dan lolos seleksi di DPR dan dilantik Presiden.