Kelekak Jadi Tempat Hidup Sawat Liar di Bangka Belitung Seperti Mengkubung
Ardhina Trisila Sakti July 28, 2026 04:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Manager Lembaga Konservasi, Pusat Penyelamatan Satwa Alobi Babel, Endi R Yusuf mengatakan satwa liar Mengkubung atau Galeopterus variegatus habitatnya ada di beberapa daerah di Indonesia. 

Seperti, Kalimantan, Jawa, Sumatera dan Bangka Belitung. Termasuk beberapa negara di Asia.

Endi menjelaskan setiap tahun mereka sering melakukan aksi penyelamatan Mengkubung yang terluka hingga masuk ke pemukiman masyarakat.

"Ia ada di habitat hutan hujan tropis, belukar mereka mudah ditemui di kawasan tersebut. Untuk kasus mengkubung, Alobi ada beberapa kasus ditemukan warga. Ia terluka ketika menebang pohon, terjatuh dari pohon ternyata di dalam ada mengkubung dan diserahkan ke kita. Kita rawat lalu lepas kembali," kata Endi kepada Bangkapos.com, Selasa (28/7/2026).

20260728 Galeopterus variegatus habitatnya
Satwa liar Mengkubung atau Galeopterus variegatus habitatnya ada di beberapa daerah di Indonesia, termasukndi Provinsi Bangka Belitung.

Dia menambahkan, setiap tahun Alobi Babel selalu menekukan kasus Mengkubung, akibat penebangan pohon, masuk ke pemukiman warga, terluka serangan predator dan ditemukan warga. Hingga akhirnya diserahkan ke Alobi untuk dilakukan penyelamatan.

"Kita dapatkan sudah kritis berapa hari mati ada juga. Kita pernah juga kasus seperti itu beberapa kasus bisa selamat beberapa tidak. Kasus temuan Mengkubung masih sedikit terjadi, kalau Kukang hampir setiap bulan kami mengevakuasi kukang," katanya.

Ia menambahkan, kasus Kukang banyak ditemukan ketika mereka masuk ke rumah warga hingga terkena listrik. 

"Setiap bulan pasti ada masuk, sementara Mengkubung satu tahun ditemukan berkisar 3 sampai 2 kasus saja. Tetapi ada setiap tahunnya masuk," katanya.

Ia mengatakan, pentingnya menjaga hutan  tempat Mengkubung hidup. Seperti kawasan hutan kelekak yang ada di Bangka Belitung.

"Kawasan kelekak ini dilindungi oleh masyarakat Babel, karena kuta tahu banyak hutan di rusak karena melakukan pertambangan seharusnya jangan dilakukan. Karena merusak hutan merusak satwa liar di dalamnya," terangnya.

Ia menegaskan, kelekak merupakan bentuk kearifan lokal hang dijaga masyarakat Bangka Belitung dalam menjaga hutan secara turun-temurun. 

"Sejak zaman nenek moyang, masyarakat tidak sembarangan merusak kawasan kelekak karena di dalamnya terdapat berbagai tanaman bernilai ekonomi, seperti durian, petai, dan berbagai jenis buah hutan lainnya," katanya.

Keunikan ini membuat masyarakat cenderung melindungi kelekak karena tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga dan menjaga kehidupan di dalamnya.

"Satwa liar di dalamnya harusnya dijaga, kelekak memiliki penting untuk ekosistem di Babel. Jangan dirusak oleh pertambangan ilegal, kelekak harus dijaga masyarakat Babel, karena itu rumah satwa liar di Babel. Agar satwa tetap lestari dan tidak kehilangan tempatnya," tutupnya.

(Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.