Merasa Difitnah Culik Bayi, Debalang Suku Anak Dalam Bukit 12 Datang ke Dinsos Batang Hari
asto s July 28, 2026 04:04 PM

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAn - Polemik ayah kandung menjual bayi di Kabupaten Batang Hari, dikaitkan-kaitkan dengan Suku Anak Dalam (SAD) Bukit 12.

Di tengah berkembangnya narasi bahwa bayi tersebut dibawa kabur oleh warga SAD, pihak Debalang atau petugas keamanan adat SAD akhirnya angkat bicara.

Dia meluruskan persoalan karena menilai kabar tersebut telah merugikan nama baik komunitas adat di Provinsi Jambi tersebut.

Debalang SAD Bukit 12, Nuntun, menegaskan tidak pernah ada tindakan membawa lari ataupun menculik anak sebagaimana informasi yang beredar. 

Menurutnya, keberadaan bayi tersebut berawal dari hubungan kekeluargaan antara pihak yang mengasuh dengan keluarga di lingkungan SAD, bukan karena adanya perebutan hak asuh ataupun tindakan melawan hukum.

BAYI - F (27) ibu kandung bayi delapan bulan yang diduga dijual di Batang Hari, didampingi kuasa hukumnya menunjukkan foto bayi yang dibawa kabur dari rumah aman Batang Hari, Minggu (26/7/2026). Ia bahkan tak sempat memeluk bayinya.
BAYI - F (27) ibu kandung bayi delapan bulan yang diduga dijual di Batang Hari, didampingi kuasa hukumnya menunjukkan foto bayi yang dibawa kabur dari rumah aman Batang Hari, Minggu (26/7/2026). Ia bahkan tak sempat memeluk bayinya. (Tribunjambi.com/Srituti Apriliani Putri)

Nuntun menjelaskan, pihaknya justru selalu memenuhi setiap undangan dan panggilan dari Dinas Sosial Kabupaten Batang Hari maupun pihak terkait selama proses penyelesaian persoalan berlangsung. 

Apabila benar berniat melarikan anak, kata Nuntun, tentu mereka tidak akan datang setiap kali diminta hadir untuk mengikuti mediasi dan proses penyelesaian bersama pemerintah.

Lantas mengapa SAD belum menyerahkan bayi tersebut kepada pihak lain dan bagaimana persoalan sebenarnya? 

Berikut petikan wawancara Debalang Suku Anak Dalam Bukit 12, Nuntun, Reporter Tribun Jambi, Khusnul Khotimah, 

Tribun Jambi: Apa tujuan Bapak datang ke Dinas Sosial hari ini?

Nuntun: Saya dari Suku Anak Dalam (SAD), bertugas sebagai keamanan SAD. Kami datang ke sini untuk membersihkan nama baik SAD. 

Sebelumnya memang ada anak bayi yang berada di tempat ibu ini, sehingga kami ingin meluruskan persoalan yang berkembang.

Tribun Jambi:  Beredar informasi bahwa SAD membawa kabur anak tersebut. Bagaimana tanggapan Bapak?

Akhirnya Manko SAD pulang ke rumah masing-masing untuk menjemput Temenggung agar bisa ikut membawa anak tersebut. 

Jadi tidak benar kalau disebut kami membawa kabur anak.

Tribun Jambi:  Jadi tidak ada niat membawa lari anak itu?

Nuntun: Tidak ada. Niat kami baik. 

Kalau memang niat kami buruk, tentu kami tidak mungkin datang setiap kali ditelepon atau diundang. 

Faktanya, setiap ada panggilan kami selalu hadir.

Baca juga: BGN Ancam Tutup Permanen Dapur MBG yang Gunakan Barang Subsidi, Sudaryono: Kalau Ngeyel, Kami Tutup

Tribun Jambi:  Apa hubungan SAD dengan anak yang menjadi persoalan ini?

Nuntun: Dari informasi yang kami terima, anak itu diasuh karena hubungan kekeluargaan. 

Yang mengasuh anak tersebut adalah cucu desa saya. Suaminya adalah anak saya dari SAD. 

Jadi sebenarnya persoalan ini lebih kepada hubungan keluarga, bukan urusan SAD secara kelembagaan.

Tribun Jambi:  Artinya, persoalan ini bukan konflik antara SAD dengan pihak lain?

Nuntun: Betul. Dari SAD sebenarnya tidak ada kaitannya. 

Kami hanya mendengar persoalan ini karena ada hubungan keluarga dengan pihak yang mengasuh anak tersebut. 

Tribun Jambi:  Mengapa Bapak menilai tuduhan itu tidak tepat?

Nuntun: Kalau namanya melarikan anak, pasti ketika ditelepon tidak diangkat, diundang tidak datang. 

Sedangkan kami justru datang ketika diminta membawa anak. 

Ibu dari Dinas Sosial menelepon kami di rumah, menanyakan kapan bisa membawa anak, bahkan sampai dijemput. 

Jadi bagaimana mungkin disebut membawa kabur?

Tribun Jambi:  Apa tujuan utama kedatangan SAD ke Dinas Sosial?

Nuntun: Intinya kami ingin membersihkan nama baik Suku Anak Dalam. 
Kami merasa tidak pernah melakukan perebutan ataupun penerobotan anak. Itu tidak benar.

Tribun Jambi:  Berdasarkan informasi yang Bapak peroleh, bagaimana sebenarnya awal anak itu diasuh?

Nuntun: Dari keterangan pihak yang mengasuh, tidak pernah ada jual beli anak. 

Anak itu hanya diserahkan untuk diasuh. Saat itu kedua orang tuanya bercerai. 

Ayah kandung merasa tidak mampu mengasuh karena harus bekerja, sehingga meminta keluarga kami untuk mengasuh anak tersebut.

Tribun Jambi:  Mengapa kemudian muncul persoalan ini?

Nuntun: Yang menyalahkan justru ditujukan kepada keluarga anak saya. 
Padahal persoalan ini tidak ada kaitannya dengan SAD. SAD hanya menjadi penengah.

Tribun Jambi:  Apa harapan SAD agar persoalan ini selesai?

Nuntun: Harapan kami sederhana. Ibu kandung dan bapak kandung harus dihadirkan. 

Kami dari pihak keamanan SAD ingin semuanya jelas. 

Setelah kedua orang tua hadir, barulah anak itu kami serahkan kepada pihak Dinas Sosial.

Tribun Jambi:  Mengapa kehadiran kedua orang tua dianggap penting?

Nuntun: Karena kami tidak bisa sembarangan menyerahkan anak. 

Kalau kami salah menyerahkan, kami bisa dituntut secara adat maupun secara hukum. Itu yang tidak kami inginkan.

Tribun Jambi:  Apakah pertimbangan adat juga menjadi alasan?

Nuntun: Betul. Dalam adat kami, kalau salah langkah urusannya panjang. 

Jangan sampai nanti ada yang mengatakan anak diserahkan kepada orang lain tanpa sepengetahuan orang tua kandung. 

Kami tidak mau menghadapi persoalan seperti itu.

Tribun Jambi:  Jadi sikap SAD tetap menyerahkan anak secara baik-baik?

Nuntun: Iya. Kami siap membawa anak ke sini dengan cara baik-baik. 
Tetapi syaratnya bapak kandung dan ibu kandung harus hadir. 

Kalau mereka tidak hadir, kami merasa berat karena khawatir di kemudian hari ada tuntutan kepada kami.

Tribun Jambi:  Sebelumnya apakah pernah ada upaya penyelesaian?

Nuntun: Pernah. Kami sempat dipanggil dan saat itu ibu kandung juga hadir. 

Bahkan ketika masyarakat hendak membawa anak itu, saya sudah menasihati agar jangan dulu dibawa karena Temenggung belum hadir. 
Hari itu rencananya memang akan ada musyawarah.

Tribun Jambi:  Apa yang kemudian terjadi?

Nuntun: Karena cara berpikir orang SAD berbeda dengan masyarakat luar, akhirnya pihak yang mengasuh anak pulang ke rumah. 

Saya bilang jangan khawatir, kami tidak lari membawa anak. 

Setelah Temenggung datang, kami akan menjemput lagi supaya persoalan ini cepat selesai dengan musyawarah. (Tribun Jambi/Asto)

Baca juga: Bayi G Diserahkan Kembali ke PPA Batang Hari, Polisi Selidiki Dugaan TPPO

Baca juga: Ibu Tak Sempat Peluk Bayi yang Diambil Paksa Sekelompok Orang di Batang Hari

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.