TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO – Tahun ajaran baru biasanya menjadi momen paling sibuk di sekolah dasar. Ruang kelas dihiasi wajah-wajah baru, guru menyambut murid yang masih malu-malu, sementara orang tua mengantar anaknya untuk pertama kali mengenakan seragam merah putih.
Namun pemandangan itu tak terlihat di SD Negeri Pendem, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun ajaran 2026/2027.
Untuk pertama kalinya sejak sekolah itu berdiri, tidak ada satu pun siswa yang mendaftar ke kelas I. Ruang kelas yang seharusnya dipenuhi tawa anak-anak baru justru kosong.
Kepala SD Negeri Pendem, Miarsih, mengaku kondisi tersebut menjadi pengalaman yang belum pernah dialami sekolahnya.
"Sampai pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) selama tiga hari, saya tunggu-tunggu belum ada yang mendaftar. Sampai hari terakhir ternyata tetap tidak ada. Memang baru kali ini kosong," ujar Miarsih.
Sudah Promosi
Padahal, berbagai upaya telah dilakukan jauh sebelum masa penerimaan siswa dibuka.
Sekolah mempromosikan kegiatan melalui media sosial, mengenalkan aktivitas belajar sehari-hari, hingga mengundang anak-anak taman kanak-kanak mengikuti berbagai kegiatan di sekolah.
Menurut Miarsih, setiap pagi siswa dibiasakan berdoa bersama, menyanyikan Indonesia Raya, menghafal surat-surat pendek, sementara siswa kelas atas juga mengikuti hafalan Juz 30.
Berbagai aktivitas tersebut rutin dipublikasikan agar masyarakat mengetahui kehidupan belajar di SD Negeri Pendem.
Sekolah juga pernah mengundang siswa TK saat peringatan Maulid Nabi agar mereka mengenal lingkungan sekolah lebih dekat.
"Kami juga sudah promosi ke warga sekitar, ke TK juga sudah dilakukan. Misalnya ada kegiatan di sekolah seperti peringatan Maulid Nabi, kami pernah mengundang anak-anak TK ke sini. Tapi kelihatannya memang belum ada yang tertarik," katanya.
Meski tanpa siswa kelas I, aktivitas sekolah tetap berjalan seperti biasa. Bahkan selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), seluruh siswa kelas II hingga kelas VI tetap mengikuti rangkaian kegiatan selama lima hari.
Berbagai kegiatan diisi dengan kunjungan ke Markas Brimob, penyuluhan dari kepolisian, hingga pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut bekerja sama dengan puskesmas.
"Walaupun kelas 1 tidak ada, kegiatan MPLS tetap kami laksanakan. Semua siswa kelas 2 sampai kelas 6 kami libatkan selama lima hari," ujar Miarsih.
Tetap Berprestasi
Fenomena tidak adanya murid baru bukan berarti sekolah kehilangan prestasi. Miarsih mengatakan SD Negeri Pendem masih aktif mengikuti berbagai perlombaan akademik maupun nonakademik.
Ia mencontohkan, beberapa tahun lalu tim bola voli sekolah berhasil mewakili Kabupaten Klaten hingga meraih juara II tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Dalam waktu dekat, para siswa juga akan mengikuti sejumlah perlombaan tingkat kapanewon sebagai bagian dari seleksi menuju tingkat kabupaten.
Di balik capaian tersebut, pihak sekolah memilih menjadikan kondisi tahun ini sebagai bahan evaluasi, bukan untuk saling menyalahkan.
"Kalau dari internal, kami lebih memilih introspeksi diri. Apa yang kurang dari kami, kami belajar lagi dari awal supaya ke depan bisa kembali dipercaya masyarakat," ucapnya.
Miarsih tidak menampik persaingan antarsekolah kini semakin ketat. Kehadiran sekolah-sekolah baru, termasuk sekolah swasta, menjadi salah satu faktor yang kemungkinan memengaruhi pilihan orang tua.
Selain itu, jumlah anak usia sekolah dasar di lingkungan sekitar juga semakin sedikit. Sebagian besar lulusan TK memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah yang letaknya lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
Meski demikian, jumlah siswa yang sedikit justru menghadirkan sisi positif dalam proses pembelajaran.
Di kelas II misalnya, hanya terdapat tiga siswa. Kondisi tersebut membuat guru dapat memberikan perhatian lebih intensif kepada setiap anak, terutama dalam kemampuan dasar seperti membaca.
"Mungkin karena siswanya sedikit, perhatian guru jadi lebih fokus sehingga perkembangan anak bisa lebih terpantau," kata Miarsih.
Siapkan Strategi
Menghadapi tahun-tahun berikutnya, SD Negeri Pendem menyiapkan berbagai strategi untuk kembali menarik minat masyarakat.
Salah satunya dengan memperbanyak program yang melibatkan orang tua agar mereka dapat melihat langsung aktivitas dan perkembangan sekolah.
Sekolah juga berencana mengikutsertakan wali murid dalam berbagai kegiatan, termasuk kirab budaya pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Klaten.
Bagi Miarsih, membangun kembali kepercayaan masyarakat tidak bisa dilakukan secara instan. Ia yakin perubahan harus dimulai dari pembenahan di dalam sekolah terlebih dahulu.
"Kami terus berusaha memperbaiki diri dan menghadirkan program-program yang melibatkan warga sekolah. Harapannya masyarakat bisa melihat langsung apa yang kami lakukan, sehingga kepercayaan itu tumbuh kembali," tuturnya.
Di tengah tren menurunnya jumlah siswa di sejumlah sekolah dasar, kisah SD Negeri Pendem menjadi potret tantangan yang kini dihadapi banyak sekolah negeri. Meski ruang kelas I tahun ini kosong, semangat para guru untuk tetap memberikan pendidikan terbaik kepada siswa yang ada tidak ikut surut. (*)