Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar
TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO – Usia senja tidak membuat semangat Nur Alang surut. Di umur 70 tahun, perempuan asal Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, ini masih setia menyalakan tungku kayu bakar untuk membuat nasi gogos, buras, dan lemper sebagai sumber penghidupan.
Setiap hari, mulai pukul 10.00 hingga sekitar pukul 17.00, Nenek Nur menghabiskan waktunya di dapur sederhana untuk memproduksi makanan yang telah menjadi usaha turun-temurun dalam kehidupannya. Dari tangan tuanya, sekitar 300 bungkus nasi gogos berhasil dibuat setiap hari.
Nasi gogos tersebut dijual dengan harga Rp5.000 per bungkus. Meski keuntungan yang diperoleh tidak besar, Nenek Nur tetap menjalani pekerjaannya dengan tekun dan penuh rasa syukur.
“Masak sendiri semua, kalau cucu biasanya bantu jual lewat HP,” ujar Nenek Nur saat ditemui, Senin (28/7/2026).
Baca juga: 18 Mobil Iringi Penjemputan Jamaah Haji Lembor, Kerinduan 15 Tahun Kembali Menggema
Sebelum memulai aktivitas berjualan, Nenek Nur terlebih dahulu menunaikan salat Subuh. Setelah itu, ia menuju lokasi jualannya di seberang Jalan Soekarno Hatta, Kampung Air, Labuan Bajo, tempat pelanggan setianya datang membeli dagangannya.
Proses pembuatan nasi gogos masih dilakukan dengan cara tradisional. Daun pisang sebagai pembungkus dibelinya di pasar dengan harga Rp10.000 per ikat, sementara kayu bakar yang digunakan untuk memasak diperoleh dari sisa kayu pembangunan yang sudah tidak terpakai.
Mulai dari menyiapkan bahan, memasak, membungkus, hingga memanggang nasi gogos, semuanya dilakukan sendiri oleh Nenek Nur. Meski pekerjaan itu membutuhkan tenaga besar, ia tetap menjalaninya demi memenuhi kebutuhan hidup.
Di balik perjuangannya berjualan setiap hari, tersimpan sebuah harapan besar yang terus dijaga, yakni bisa menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Nenek Nur mengaku telah lama mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji, namun hingga kini masih menunggu jadwal keberangkatan.
Bagi Nenek Nur, hasil berjualan nasi gogos bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi jalan untuk berbagi kebahagiaan bersama cucu-cucunya sekaligus menabung demi mewujudkan impian besar tersebut.
Setiap bungkus nasi gogos yang terjual menjadi bagian dari perjuangan panjang seorang perempuan tangguh yang tidak menyerah pada usia. Dengan ketekunan dan doa, Nenek Nur terus menjaga harapan agar suatu hari dapat menginjakkan kaki di Tanah Suci. (Iar)