PROHABA.CO, ACEH BARAT - Di tengah bergulirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah di berbagai daerah Indonesia, masih ada sekolah yang belum merasakan manfaatnya.
Salah satunya adalah SD Swasta Sikundo, yang terletak di Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat.
Padahal, program yang dirancang untuk menekan angka stunting dan mendongkrak nutrisi anak bangsa ini sangat dinantikan warga sekolah di pelosok desa.
Kehadiran asupan gizi yang layak diyakini mampu membakar semangat belajar anak-anak di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas.
Kepala SD Swasta Sikundo, Aksa, mengungkapkan dikutip Serambinews.com pada Kamis (23/7/2026) bahwa sejak program MBG diluncurkan, para siswa di sekolahnya belum pernah menerima makanan bergizi gratis.
“Anak-anak di sini belum pernah merasakan Program Makan Bergizi Gratis.
Kami berharap sekolah kami juga segera mendapat perhatian sehingga para siswa memiliki kesempatan yang sama seperti anak-anak di sekolah lain,” ujarnya.
Saat ini, SD Swasta Sikundo memiliki 12 siswa yang tersebar dari kelas I hingga VI.
Meski jumlah siswanya relatif kecil, proses belajar mengajar tetap berjalan dengan dukungan empat tenaga pengajar, terdiri atas satu guru berstatus PNS dan tiga guru bakti.
Baca juga: Persiraja Resmi Rekrut Tiga Pemain Muda Asal Abdya untuk Musim 2026–2027
Baca juga: Menu MBG Berbelatung di Aceh Selatan, Siswa SMPN 3 Sawang Protes
Menurut Aksa, keberadaan program MBG sangat dinantikan oleh para siswa.
Selain membantu mencukupi kebutuhan gizi, program ini diyakini mampu menambah motivasi anak-anak untuk tetap bersekolah, terutama di wilayah pedalaman yang memiliki banyak keterbatasan.
Ia menekankan bahwa jumlah siswa tidak seharusnya menjadi ukuran dalam pemerataan program.
“Walaupun hanya 12 orang, mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan makanan bergizi dari program pemerintah,” tegasnya.
Aksa berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait segera memperluas jangkauan pelaksanaan MBG hingga ke sekolah-sekolah terpencil.
Menurutnya, pemerataan program menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh kesempatan yang sama dalam meningkatkan kualitas gizi dan pendidikan.
Kondisi di SD Swasta Sikundo menjadi cerminan tantangan pemerataan kebijakan nasional.
Program MBG yang telah berjalan di sejumlah wilayah memang membawa dampak positif, namun masih ada sekolah-sekolah kecil di pedalaman yang menunggu giliran untuk merasakan manfaatnya.
Dengan perhatian serius dari pemerintah, diharapkan tidak ada lagi siswa yang tertinggal dalam memperoleh hak atas gizi seimbang dan semangat belajar yang lebih baik.
(Serambinews.com/Sadul Bahri)
Baca juga: Pasien Keracunan MBG di Simpang Mamplam Bireuen Sudah Pulang, Tersisa 16 Orang Dirawat
Baca juga: Puluhan Anak di Simpang Mamplam Bireuen Diduga Keracunan Makanan MBG