Bali tak sekadar pantai dan matahai terbenam. Ada gunung, air terjun, dan banyak desa adat di sana.
Penulis dan fotografer: Yds. Agus Surono dan Sabar Basuki | Tayang di Majalah Intisari edisi Juli 2000 dengan judul "Bali Tak Sekadar Pantai dan Matahari"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Sebagai Pulau Surga ada tempat yang tak menarik di Bali. Dua hari dua malam wartawan Intisari, Yds. Agus Surono dan Sabar Basuki menyusuri kawasan Bali Timur Laut. Berawal dari Desa Bali Aga di Tenganan dan berakhir di persawahan Wongaya Bendul.
Berbekal peta Bali Periplus Handi-Maps dan peta dalam Complimentary Map 2000-Bali Plus, kami meninggalkan Kuta pukul 15.00. Kami berusaha tiba di Tenganan sore hari.
Di peta Bali Periplus ada jalan singkat yang ditandai garis putus-putus. Jalur itu menyusuri Pantai Keramas di depan Pulau Nusa Lembongan.
Ternyata jalan itu baru dalam pengerjaan. Sial! Terpaksa kendaraan dibelokkan ke kiri masuk Dusun Paloh Sukowati. Kembali terbentang jalan kampung yang berlubang.
Begitu ketemu jalan mulus, gas pun ditancap. Jalanan yang relatif sepi membuat Gianyar dan Klungkung pun terlewati dengan mudah.
Gara-gara nyasar, kami kesorean tiba di Tenganan. Ketika hari berangsur gelap, kami khawatir tidak bisa melihat apa-apa di sana.
Untung, saat itu sedang ada persiapan upacara inisiasi. Upacara adat bagi anak-anak yang menginjak remaja itu digelar di rumah panggung yang panjangnya sekitar 25 m.
Rumah itu terbagi dua. Bagian depan untuk pemimpin upacara dan kaum perempuan, di belakang untuk laki-laki. Ke-20 pasang laki-laki dan perempuan itu adalah suami-istri.
Tidak mudah bagi pasangan itu untuk ikut prosesi. Mereka harus memenuhi empat syarat: tidak berpoligami, tidak pernah cerai, tidak cacat tubuh, dan pasangan asli daerah itu.
Ketika memasuki Desa Bali Aga, kami serasa dilempar ke masa silam. Perkampungan itu dibatasi tembok batu yang tebal dan tinggi. Cuma ada satu pintu masuk dengan pagar besi.
Di dalam kampung jalanan diperkeras dengan lempengan batu yang disusun sehingga menyerupai noktah-noktah hitam di atas tanah.
Tapi, kami sempat terhenyak melihat keberadaan simbol-simbol masa kini. Di rumah panggung kayu beratap ilalang tampak televisi menayangkan berita. Kendaraan motor merek terbaru lalu lalang di kiri-kanan rumah panggung.
Daerah di kaki G. Agung (3.014 m) itu terbagi menjadi tiga area yang cuma dibatasi gang: Banjar Kauh (barat), Banjar Tengah (tengah), dan Banjar Pardui (timur).
Banjar Pardui adalah tempat pembuangan bagi warga Banjar Kauh dan Tengah yang melanggar adat. Untuk warga yang kawin dengan orang luar, dendanya adalah dibuang oleh adat. Mereka harus ke luar dari Bali Aga.
Jumlah penduduk Bali Aga (Barat dan Tengah) 385 jiwa. Mata pencaharian mereka adalah bertani. Juga membuat kerajinan tenun ikat geringsing (gering = sakit, sing = tidak), yang pengerjaannya cukup lama.
Mula-mula kapas disikat untuk diambil seratnya. Lalu serat direndam di pewarna.
Konon, dulu warna merah dibuat dari darah orang. Karena pengerjaan yang rumit dan butuh waktu lama, harga sepotongnya bisa mahal sekali. Ukuran 2 m2 saja mencapai puluhan juta rupiah.

Dihadang kerumunan bersenjata
Malam itu juga kami nekat ke Desa Amed karena di Tenganan tidak ada penginapan. Kabarnya, di sana bisa memotret Gunung Agung dari sudut yang bagus.
Selain sepi, jalanan gelap karena kurang penerangan. Selepas Candidasa, jalan menanjak berkelok-kelok.
Jalur ini memang menyusuri lembah antara G. Agung dan G. Lempuyang (1.058 m). Malam itu tampak kerumunan orang mengobrol sampai tumpah ke jalan, atau ibu-ibu ngerumpi dengan anak gadisnya di depan rumah.
Sepanjang jalan memasuki Desa Amed kami berpapasan dengan kelompok orang bersenjata tajam. Malah, selepas Dusun Biaslantang gerombolan serupa menghadang jalan.
Mobil kami semakin dekat. Lampu mobil kami matikan.
Beberapa orang menghampiri. Setelah menjelaskan tujuan kami, kerumunan itu pecah, menyisakan jalan, pas untuk mobil. Saya mendengar suara-suara orang berdebat dalam bahasa lokal.
Lega rasanya lepas dari sana. Namun, peristiwa itu menimbulkan tanda tanya.
Apalagi memasuki pasar desa Amed, orang-orang bersenjata sering kami temui. Maka kami memutuskan cari penginapan.
Lagi pula waktu sudah lewat pukul 20.00. Dari beberapa penginapan yang ada, kami memilih Pondok Kebun dan Restoran Wayan.
Pertimbangannya, selain penginapan, ada restoran, dengan banyak bule sedang makan. Ketika kami bertanya soal kelompok bersenjata di jalan, pemilik restoran tidak tahu-menahu.
"Waterfall, The Haggest in Bali"
Baru esoknya pertanyaan kami terjawab. Ada sapi penduduk dicuri, dan itu bukan yang pertama.
Pantas mereka geram. Selain melaut (kini jarang mendapat hasil), bertani (hasilnya tak seberapa), dan membuat garam (dengan orang luar sebagai investor), piara sapi adalah penopang hidup masyarakat setempat.
Amed punya banyak pangkalan nelayan tradisional. Pantainya memang relatif tenang.
Kehidupan bawah laut, flora dan fauna di Amed termasuk indah dan belum banyak terekspos. Kita bisa ber-diving atau snorkling sepuasnya.
Letaknya juga strategis untuk memotret matahari terbit berlatar belakang G. Rinjani di P. Lombok. Bila menghadap pantai dan menengok ke kiri, G. Agung menyapa dengan perkasa.
Tujuan berikut adalah Tulamben. Dunia bawah laut di sini punya keistimewaan. Kita bisa melihat bangkai kapal perang Amerika, US Liberty.
Kapal buatan tahun 1915 itu karam ditorpedo pasukan Jepang di perairan Lombok. Setelah ditarik, akhirnya karam di Tulamben.
Ditemukan tahun 1978, lalu jadi lokasi penyelaman yang bagus dengan tumbuhnya koral dan kerumunan ikan. Kapal angkut sepanjang 120 m itu terletak 50 m dari garis pantai. Bagian teratas sekitar 2 m di bawah permukaan air.
Hari makin siang, kami cepat-cepat ke Air Terjun Les. Soalnya, kami ingin menginap di pinggir Danau Tamblingan, kira-kira 80 km dari Tulamben.
Jalanan ke sana bergelombang dan banyak melintasi alur sungai berisi pasir dan bebatuan. Seandainya hujan, pasti asyik melewatinya, seperti off road.
Sejam kemudian kami melihat papan nama ke arah Les. Di bawahnya tertulis "Waterfall, The Haggest in Bali". Kami bingung, apa arti the haggest?
Setelah melewati jembatan dan Puri Beji yang berposisi tusuk sate, jalanan menanjak. Tepat saat berbelok, di tanah agak lapang, seorang pemuda memandu untuk parkir.
Menurut si pemuda, lokasi air terjun masih 10 menit jalan kaki. Dia memberi tahu arah mana yang harus diambil.
Sedangkan the haggest, ternyata maksudnya the highest.
Menurut dia, sesuai buku panduan, ketinggian air terjun Les lebih dari 40 m. Air itu rembesan Danau Batur.
Meski volume airnya tidak banyak, tapi lokasi terpencil dan kealamiahannya menarik minat turis asing. Saat berangkat, kami berpapasan dengan tiga turis Prancis.
Dingin air danau merangsang kami untuk mandi, mengusir keringat dan gerah akibat perjalanan yang ternyata makan waktu 30 menit. Saat akan mandi dekat pancuran, embusan air dingin dan lokasi singup (seram) menciutkan nyali. Akhirnya, mandilah di aliran sungai.
Mirip Trunyan
Badan segar, capek hilang. Semangat bangkit lagi.
Apalagi waktu sudah pukul 15.00. Kami masih ingin mampir ke Dusun Sembiran, Air Sanih, dan Air Terjun Gitgit.
Sembiran konon mirip Trunyan. Masyarakatnya punya tradisi membuang mayat di bawah pohon.
Mereka percaya, mayat orang suci akan hilang dalam waktu tiga hari. Sedangkan mayat orang berdosa tetap di bumi, dan dimasukkan ke lubang yang biasanya tak jauh dari pohon itu.
Tapi, kepercayaan itu sudah ditinggalkan sejak 1966, seiring masuknya agama Hindu. Kini mereka mengubur mayat dengan posisi telungkup untuk laki-laki dan telentang untuk perempuan.
Dari Dusun Sembiran, mobil carteran kami pacu menuruni jalan curam yang berkelok tajam. Alassari dan Bukti lewat, sampai akhirnya kami tertarik dengan kerumunan orang di pinggir jalan.
Ternyata itu kolam renang Air Sanih, yang berasal dari mata air di dekatnya. Meski dekat laut (±10 m), airnya tawar. Ada dua kolam bulat, satu untuk anak, lainnya untuk dewasa.
Jalanan ke Singaraja yang relatif kosong membantu kami memburu waktu, toh, kami tiba di Gitgit pukul 17.30. Ini karena selepas Singaraja jalan menanjak berkelok-kelok, kami pun tersihir oleh pesona sunset di rembang petang.
Padahal sesuai jadwal, waktu tersisa cuma 30 menit, 15 untuk pergi 15 sisanya untuk kembali.
Berbeda dengan di Les, air terjun Gitgit sudah dikelola dengan baik. Jalan ke lokasi diperkeras dengan beton. Di kanan-kirinya berjajar kios cinderamata atau makanan-minuman.
Volume air terjun Gitgit lebih banyak dibandingkan air terjun Les, meski tidak setinggi Les. Di sekitar lokasi tertata rapi tempat sembahyang, bangunan beratap untuk menonton air terjun, serta fasilitas umum yang memadai.

Balapan di tengah sawah
Tepat pukul 18.00 kami berangkat merayapi perbukitan menuju D. Tamblingan yang berdampingan dengan D. Buyan. Kami berusaha mencari penginapan di sekitar danau.
Tapi tiba-tiba jalanan aspal habis, apalagi jalan tanah itu menuju hutan yang gelap. Kami jadi ragu.
Kami pun berbalik dan memilih menginap di Bukit Jegeg, hotel butik di pinggir jalan raya dan menghadap D. Buyan. Penginapan itu mencoba meniru Club Med.
Tidak ada hubungan dengan dunia luar atau informasi masuk (baik lewat media cetak atau elektronik). Bedanya, Club Med menawarkan banyak kegiatan, sedangkan Bukit Jegeg menawarkan spa dan pengobatan alternatif berlabel Kalaspa Health Retreat.
Pagi-pagi benar kami ke D. Tamblingan yang masuk wilayah Bedugul. Ternyata jalan tanah yang meragukan semalam tak seberapa panjang.
Di tepian danau ada permukiman yang dihuni sekitar 20-an KK. Selain mencari ikan (itu sebabnya danau ini dan D. Buyan tidak boleh dieksploitasi berlebihan agar penduduk tidak tergusur), mereka bercocok tanam.
Daerah berketinggian 1.200-an m ini memang sentra sayur, buah, dan bunga. Ada juga yang menjadi pemandu kayak yang dikelola oleh Grup Sobek.
Kami berkeliling danau melewati jalur yang ada. Sesekali berhenti melihat keanekaragaman hayati hutan tropis di sana.
Sayang, jalan tiba-tiba menyempit oleh rimbunnya semak yang merangsek ke jalanan. Padahal ada banyak puri di pinggir danau ini. Tak mau ambil risiko, kami pun kembali.
Ternyata D. Buyan dan Tamblingan ada di puncak rute Denpasar - Singaraja.
Kami tinggal melaju di turunan. Di tepi D. Buyan kami terkejut dengan banyaknya monyet di pinggir jalan. Ada yang cuek menyeberang jalan sambil menggendong anak.
Berbeda dengan monyet Sangeh yang ganas, monyet di sini jinak dan gemuk. Maklum, hutan tempat tinggalnya menyediakan banyak makanan.
Beberapa orang tertarik menepi, lalu mengambil gambar. Ada juga yang ikut berfoto.
Jalan menurun, tak sadar kami tiba di Pacung. Sesuai petunjuk, kami harus belok kanan masuk jalan desa yang sempit dan berlubang.
Kami terhibur saat memasuki Dusun Jatiluwih. Kuningnya hamparan padi yang siap panen di sawah berteras, menghapus kepenatan.
Akhirnya sampai juga di Wongaya Bendul, tempat trekking dengan motor roda empat melintasi persawahan. Sebelum turun ke trek, kami diajari cara mengemudi dan trik-trik untuk membelok dan memundurkan motor 1.500 cc berpenggerak empat roda itu.
Jika takut membawa sendiri, boleh membonceng. Pemandu dari Paddy Adventure siap jadi pengemudi.
Badan pegal tapi senang. Apalagi yang suka balapan, wah asyik sekali kebut-kebutan-di tengah hamparan padi yang siap panen. Setelah makan di restoran yang (lagi-lagi) ada di padang sawah, kami pun turun ke Denpasar.
Ternyata, Bali tak sekadar pantai, matahari, dan seks!