Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON - Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SD Negeri 11 Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh tetap berjalan aktif dan memprioritaskan kurikulum nasional meski sebagian besar fasilitas sekolah rusak parah akibat bencana yang menimpa wilayah tersebut pada akhir November 2025.
Kepala SD Negeri 11 Pegasing, Yusrizal SPd menyampaikan bahwa kerusakan infrastruktur sekolah terbilang cukup parah.
Total terdapat enam unit bangunan yang di bagian atas yang terdampak, meliputi fasilitas laboratorium, ruang kantor, serta tiga ruang kelas.
Selain itu, lima unit bangunan perumahan kepala sekolah dan guru juga dilaporkan rata dengan tanah.
"Kalau dihitung-hitung dengan perumahan guru, ada lima bangunan yang sudah tidak ada lagi," ujar Yusrizal.
Untuk menyiasati keterbatasan tempat, pihak sekolah saat ini memanfaatkan tiga lokal kelas yang berhasil diperbaiki secara gotong royong bersama TNI, masyarakat, dan para guru.
Pihak sekolah juga memaksimalkan penggunaan ruang perpustakaan untuk menampung aktivitas belajar siswa yang tidak memiliki kelas.
Sementara itu, terdapat satu kelas siswa yang belajar di teras ruangan beralaskan tikar.
Meskipun terdapat aktivitas belajar di luar ruangan, Yusrizal menjelaskan bahwa hal tersebut bersifat sementara.
Langkah ini diambil karena ruang kelas yang ada sedang digunakan sebagai area penyimpanan bahan pembangunan Ruang Kelas Darurat (RLC) bantuan dari relawan Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh.
Pihak sekolah menegaskan tidak menerapkan sistem shift gilir masuk sekolah agar jam belajar siswa tidak terpotong.
"Kita tidak ada main shift, masuk jam 08.00 dan pulang jam 01.15 WIB, tetap seperti biasa. Guru-guru tetap konsisten memberikan pembelajaran kepada anak-anak didik," tegasnya.
Terkait kelanjutan infrastruktur permanen, pihak sekolah masih menunggu kepastian dari Dinas Pendidikan serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Menurut Yusrizal, opsi relokasi sekolah sulit dilakukan karena ketersediaan lahan di desa setempat yang terbatas.
"Kalau relokasi sepertinya sulit karena tidak ada tanah yang dijual di desa ini. Harapan kita, jika memungkinkan, pembangunan kembali dilakukan di tanah semula dengan berbagai perbaikan struktur tanah," pungkasnya.
Meski berdiri di atas kondisi tanah yang rentan, pihak sekolah berkomitmen untuk terus mengawal proses belajar mengajar anak-anak agar tidak tertinggal hak pendidikannya.
Harapan serupa juga disampaikan oleh para murid.
Khairunisa berharap fasilitas sekolahnya dapat segera dipulihkan sepenuhnya agar proses belajar mengajar berjalan makin nyaman.
"Harapannya untuk ke depan bisa dibangun dengan lebih baik seperti semula," tutur Khairunisa. (*)
Baca juga: Demi Solar Subsidi, Warga Aceh Tengah Rela Mengantre dan Bermalam di Mobil
Baca juga: Prakiraan Cuaca Aceh Tengah 28 Juli 2026: Didominasi Cerah Berawan
Baca juga: Warga Mendale Datangi Dinsos Aceh Tengah Tuntut Kejelasan Bantuan Bencana