TRIBUNJOGJA.COM - Gunung Merapi di perbatasan Kabupaten Sleman (DI Yogyakarta) dan Magelang, Klaten, Boyolali (Jawa Tengah) masih menyimpan potensi bahaya. Meski hasil pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di setiap periode tak selalu menunjukkan adanya guguran lava, potensi bahaya Gunung Merapi tetap diwaspadai.
Melalui rekomendasinya, otoritas terkait menyampaikan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas.
Rekomendasi itu dikeluarkan meski berdasarkan hasil pantauan periode pukul 12:00 - 18:00 WIB hari ini, Selasa (28/7/2026), tidak menunjukkan adanya guguran lava.
Bagaimana pun, status Gunung Merapi saat ini masih di level III (Siaga). Dinamika kegempaan dari Merapi masih terus terjadi setiap periodenya.
Hasil pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di periode sore ini, disampaikan bahwa telah terjadi 25 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-48 mm dan lama gempa 33.81-182.05 detik.
Selain itu, terjadi 24 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-31 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 23.35-53.85 detik; serta 2 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 19-42 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 91.67-111.21 detik.
Gunung aktif setinggi 2968 mdpl tersebut dilaporkan tidak meluncurkan guguran lava pada Selasa sore. Berdasarkan pengamatan visual, Gunung Merapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah nihil. Cuaca mendung, angin tenang ke arah timur.
Secara klimatologi, cuaca di sekitarnya mendung, angin tenang ke arah timur. Suhu udara sekitar 18.8-22°C. Kelembaban 83-99 persen. Tekanan udara 872.7-916 mmHg.
Otoritas terkait mengeluarkan sederet rekomendasi terkait potensi Gunung Merapi, berikut ini:
1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
2. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
3. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
5. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.
(*)