TRIBUNKALTIM.CO - Prestasi kembali ditorehkan dunia pendidikan Kabupaten Bulungan. Tim SMA Negeri 1 Tanjung Selor berhasil menjadi juara Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) 2026 dan memastikan tiket menuju kompetisi nasional.
Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan bagi sekolah sekaligus mengantarkan Kalimantan Utara memiliki wakil pada ajang LCC Empat Pilar MPR RI tingkat nasional.
Di balik kemenangan itu, para peserta mengaku melalui proses belajar yang panjang dan penuh pengorbanan.
Bagi tim SMAN 1 Tanjung Selor, kemenangan bukan semata ditentukan oleh kemampuan akademik. Mereka menilai kerja keras, disiplin belajar, serta kekompakan menjadi faktor utama yang membawa tim keluar sebagai juara.
Selama masa persiapan, para anggota tim memperbanyak literasi, menghafal materi ketatanegaraan, memperkuat mental, hingga rela mengurangi waktu istirahat demi memperdalam materi perlombaan.
Baca juga: Kronologi Kebakaran 4 Rumah di Tanjung Selor, Kerugian Ditaksir Rp2 Miliar
Kini, setelah sukses di tingkat provinsi, fokus tim beralih mempersiapkan diri menghadapi persaingan yang lebih ketat pada tingkat nasional dengan bekal pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya.
Tim SMAN 1 Tanjung Selor yang meraih gelar juara terdiri dari Aqila Hananisa Arsyad, Evan Chandra Winata, Kurnia Fadilla, Nur Latifah, Siska Aulia Rahma, Andi Fajarian Syah, Eka Fitriani, M. Dzak'ki Khairullah, Tirta Wijaya Kusuma, dan Muhammad Afif Zulfiqar.
Atas keberhasilan tersebut, mereka berhak mewakili Provinsi Kalimantan Utara pada ajang LCC Empat Pilar MPR RI tingkat nasional.
Rela Kurangi Waktu Tidur demi Persiapan
Salah seorang peserta, Evan Chandra Winata, mengatakan kemenangan diraih melalui proses persiapan yang panjang.
Ia mengungkapkan seluruh anggota tim memperbanyak membaca berbagai referensi, mulai dari buku ketatanegaraan, pasal-pasal hingga ketetapan MPR karena materi perlombaan didominasi hafalan.
Baca juga: Polsek Muara Muntai Tangkap Pengedar Sabu di Desa Muara Leka, Sita 4 Poket Sabu dan 2 Ponsel
"Yang paling utama tentu kami banyak membaca, banyak literasi, mulai dari buku-buku ketatanegaraan, pasal-pasal sampai ketetapan MPR. Karena memang hafalannya sangat banyak," ujarnya mengutip dari TribunKaltara.com, Selasa (28/7/2026).
Selain belajar, seluruh anggota tim juga memperkuat doa dan keyakinan masing-masing agar memperoleh hasil terbaik saat bertanding.
Menurut Evan, setiap sekolah peserta memiliki kemampuan yang hampir sama sehingga usaha menjadi faktor pembeda.
"Kami merasa semua sekolah sama-sama pintar. Jadi yang kami tambah itu usahanya. Saat merasa masih kurang, kami terus belajar, bahkan rela mengurangi waktu tidur demi latihan," katanya.
Ia menegaskan seluruh anggota tim sepakat memberikan kemampuan terbaik selama masa persiapan.
"Kami sadar kalau kemampuan mungkin sama, berarti yang harus ditambah itu effort atau usahanya," ucapnya.
Baca juga: Ada Kapolri, Menkeu, hingga Jaksa Agung, Ini 11 Pejabat Rawan Reshuffle Versi Pengamat
Peran Besar Pembina dan Pelatih
Evan menilai keberhasilan tim tidak terlepas dari kontribusi para pembina dan pelatih yang mendampingi selama latihan.
Menurutnya, para pembimbing tidak hanya memberikan pemahaman materi, tetapi juga membangun mental bertanding, kerja sama tim, dan rasa tanggung jawab sebagai wakil sekolah.
"Bahkan lebih dari 50 persen keberhasilan kami karena pembina dan pelatih. Mereka terus mengarahkan kami, memperbaiki hafalan, kerja sama tim sampai membentuk mental kami," jelasnya.
Ia mengatakan tanpa bimbingan para pelatih, tim belum tentu mampu meraih gelar juara tingkat provinsi.
Tantangan Terbesar Saat Bertanding
Peserta lainnya, Nur Latifah, mengungkapkan tantangan terbesar saat perlombaan bukan hanya menguasai materi, tetapi juga mengendalikan rasa gugup ketika berada di atas panggung.
Menurutnya, tekanan saat menghadapi peserta lain dan dewan juri membuat hafalan yang telah dipersiapkan terkadang mendadak hilang.
Baca juga: 241 CPNS Kodam VI Mulawarman Resmi Jadi PNS, Kasdam Tekankan Integritas dan Loyalitas
"Kadang sebenarnya sudah hafal, tapi karena gugup saat di panggung jadi buyar semua. Itu tantangan terbesar kami," ungkapnya.
Meski demikian, seluruh anggota tim saling melengkapi kemampuan tanpa membagi materi secara mutlak.
Apabila ada anggota yang kurang menguasai satu babak, anggota lain akan mengambil peran untuk menutupi kekurangan tersebut.
"Kami saling mendukung. Tidak ada pembagian mutlak karena semua belajar materi yang sama. Kalau ada yang kurang di satu bagian, nanti dibantu teman yang lain," katanya.
Fokus Persiapan Menuju Tingkat Nasional
Nur mengatakan kemenangan di tingkat provinsi menjadi motivasi baru bagi tim untuk tampil lebih baik di tingkat nasional.
Baca juga: 4 Fakta Suami di Samarinda Diduga Tega Sebar Foto Pribadi Istri di Medsos, Minta Maaf tapi Terulang
Namun sebelum kembali menjalani latihan intensif, seluruh anggota tim akan menyelesaikan tanggung jawab akademik yang sempat tertunda selama mengikuti perlombaan.
"Kalau untuk nasional pasti kami akan latihan lebih keras lagi. Tapi sekarang kami selesaikan dulu tanggung jawab di sekolah, baru setelah itu fokus persiapan ke nasional," tuturnya.
Ia juga mengaku pengalaman mengikuti kompetisi tingkat nasional pada tahun sebelumnya menjadi pelajaran berharga bagi tim.
Pengalaman tersebut akan dijadikan bekal untuk memperkuat mental dan meningkatkan kesiapan menghadapi persaingan nasional.
"Kami masih punya pengalaman yang cukup membekas dari nasional tahun lalu. Jadi sekarang kami ingin membenahi mental dan mempersiapkan diri lebih matang lagi supaya hasilnya lebih baik," pungkasnya. (*)