Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO – Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang mendorong petani di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah mengubah pola tanam.
Demi menghemat penggunaan air sekaligus menjaga produktivitas lahan, sebagian petani memilih mengganti tanaman padi dengan kacang tanah setelah masa panen berakhir.
Perubahan pola tanam tersebut terlihat di sejumlah lahan pertanian di Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo.
Hamparan sawah yang sebelumnya ditanami padi kini dipenuhi tanaman kacang tanah yang mulai tumbuh.
Langkah ini menjadi bentuk adaptasi petani menghadapi musim kemarau yang mulai dirasakan sejak Mei 2026.
Selain lebih tahan terhadap kondisi kering, kacang tanah juga membutuhkan air jauh lebih sedikit dibandingkan padi.
Salah seorang petani, Radit (60), mengatakan pergantian tanaman dari padi ke kacang tanah memang sudah menjadi kebiasaan petani di wilayahnya setiap memasuki musim kemarau.
Menurutnya, kacang tanah menjadi pilihan paling realistis karena kebutuhan airnya jauh lebih rendah dibandingkan tanaman padi.
"Ini memang musimnya. Setelah padi selesai, kami ganti tanam kacang tanah supaya lebih irit air. Kalau padi kan membutuhkan air yang banyak, sedangkan sekarang sudah masuk musim kemarau," ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Radit menjelaskan, hujan sudah tidak lagi turun di wilayahnya sejak Mei.
Kondisi tersebut menyebabkan debit air irigasi terus menurun sehingga petani tidak berani mengambil risiko menanam padi pada musim tanam berikutnya.
Berdasarkan pengalaman petani, hujan diperkirakan baru kembali turun sekitar Oktober mendatang.
Selama menunggu musim hujan, mereka memilih menanam komoditas yang lebih tahan terhadap cuaca kering.
"Kemarau sudah terasa sejak bulan Mei. Kalau perkiraan petani, hujan nanti sekitar Oktober. Jadi selama menunggu itu kami tanam kacang supaya sawah tetap menghasilkan," katanya.
Radit menuturkan, kacang tanah memiliki masa tanam relatif singkat, sekitar tiga bulan hingga panen.
Dalam kurun waktu tersebut, petani masih dapat memperoleh hasil tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk kebutuhan pengairan.
Menurutnya, pola tanam tersebut hampir selalu diterapkan petani di Kecamatan Bulu setiap musim kemarau.
Selain kacang tanah, sebagian petani juga memilih menanam jagung sebagai alternatif.
"Harganya nanti mengikuti pasaran. Setiap tahun memang biasanya setelah padi diganti kacang, kadang juga jagung. Yang penting lahannya tidak menganggur," ucapnya.
Radit menilai membiarkan lahan sawah kosong selama musim kemarau bukan pilihan yang menguntungkan.
Meski keuntungan dari kacang tanah tidak selalu sama setiap musim, hasil panennya tetap mampu membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
"Daripada tanah menganggur, lebih baik kami tanami kacang. Hasilnya tetap ada dan bisa membantu kebutuhan sehari-hari," imbuhnya.
Baca juga: Air Makin Sulit, Petani Sukoharjo Pilih Tanam Kacang Tanah Demi Hindari Gagal Panen
Hal senada disampaikan petani lainnya, Yuni. Ia mengaku sudah tiga hingga empat kali menanam kacang tanah setiap musim kemarau karena komoditas tersebut dinilai paling sesuai saat curah hujan rendah.
Menurutnya, cuaca tahun ini terasa lebih panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sejak Mei, hujan hampir tidak pernah turun sehingga petani harus lebih cermat mengelola penggunaan air.
"Kami pilih kacang tanah karena memang musim kemarau panjang. Setelah panen padi langsung diganti kacang daripada tanahnya tidak digunakan. Kacang juga tidak membutuhkan banyak air seperti padi," katanya.
Meski kebutuhan air lebih sedikit, tanaman kacang tanah tetap memerlukan penyiraman, terutama pada fase awal pertumbuhan.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, petani memanfaatkan air sumur yang dipompa menggunakan mesin diesel.
"Airnya dari sumur, disedot pakai mesin diesel. Kalau tidak begitu tanaman bisa kekurangan air," ujarnya.
Penggunaan pompa air membuat biaya produksi meningkat karena petani harus membeli bahan bakar.
Namun, cara tersebut masih dinilai lebih efisien dibandingkan tetap menanam padi yang membutuhkan pasokan air lebih besar.
Baca juga: Kemarau Tak Selalu Jadi Bencana, Petani Jambu Desa Pranan Sukoharjo Justru Panen Besar : 20 Ton/hari
Yuni berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada petani yang menghadapi musim kemarau panjang.
Menurutnya, dukungan berupa penyediaan sarana pengairan, bantuan pompa air, hingga penguatan jaringan irigasi akan sangat membantu menjaga produktivitas lahan pertanian.
Ia juga berharap musim hujan datang sesuai perkiraan sehingga petani dapat kembali menanam padi pada musim tanam berikutnya.
(*)