Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO – Petani Sukoharjo, Jawa Tengah mulai mengubah pola tanam seiring musim kemarau yang melanda wilayah Jawa Tengah sejak Mei 2026.
Keterbatasan pasokan air membuat petani di Kecamatan Bulu memilih menanam kacang tanah sebagai pengganti padi karena dinilai lebih hemat air dan lebih aman dibudidayakan saat curah hujan rendah.
Menurunnya ketersediaan air hujan maupun saluran irigasi memaksa petani memanfaatkan sumber air alternatif.
Salah satunya dengan menyedot air sumur menggunakan mesin pompa berbahan bakar diesel untuk mengairi lahan pertanian.
Meski demikian, pasokan air dari sumur dinilai tidak cukup apabila digunakan untuk membudidayakan tanaman padi yang membutuhkan air dalam jumlah besar.
Karena itu, banyak petani memilih beralih ke komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Kondisi tersebut terlihat di sejumlah lahan pertanian di Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo.
Di tengah teriknya matahari dan tanah yang mulai mengering, para petani tetap merawat tanaman kacang tanah yang menggantikan padi selama musim kemarau.
Sesekali terdengar suara mesin pompa air yang digunakan untuk mengalirkan air sumur menuju lahan pertanian.
Salah seorang petani, Yuni, mengatakan musim kemarau tahun ini mulai terasa sejak Mei.
Hingga akhir Juli, hujan hampir tidak pernah turun sehingga petani harus mencari cara agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air.
"Sudah sejak bulan Mei tidak hujan. Sekarang cuacanya panas sekali, jadi kami harus mengandalkan air sumur untuk menyiram tanaman," ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Menurut Yuni, penggunaan air sumur menjadi satu-satunya pilihan agar tanaman tetap dapat tumbuh.
Air dipompa menggunakan mesin diesel, kemudian dialirkan ke lahan yang ditanami kacang tanah.
"Airnya dari sumur, disedot pakai mesin diesel. Kalau tidak disiram, tanaman bisa kekurangan air karena sekarang sudah lama tidak turun hujan," katanya.
Yuni mengungkapkan, musim kemarau membuat petani tidak lagi berani menanam padi.
Selain membutuhkan air dalam jumlah besar, risiko gagal panen juga meningkat apabila pasokan air tidak mencukupi hingga masa panen.
Sebagai gantinya, petani memilih menanam kacang tanah yang dinilai lebih tahan terhadap cuaca kering.
Tanaman tersebut juga tidak membutuhkan pengairan sebanyak padi sehingga lebih cocok dibudidayakan pada musim kemarau.
"Kami pilih kacang tanah karena habis panen padi masuk musim kemarau. Daripada sawah tidak dipakai, lebih baik ditanami kacang. Kebutuhan airnya juga tidak sebanyak padi," jelasnya.
Yuni mengaku telah tiga hingga empat kali menanam kacang tanah setiap musim kemarau.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa komoditas itu mampu menjadi solusi ketika curah hujan rendah.
Meski demikian, penggunaan pompa air berbahan bakar diesel juga menambah biaya produksi.
Petani harus membeli bahan bakar sekaligus merawat mesin pompa agar tetap berfungsi selama musim kemarau.
Baca juga: Kemarau Tak Selalu Jadi Bencana, Petani Jambu Desa Pranan Sukoharjo Justru Panen Besar : 20 Ton/hari
Hal senada disampaikan petani lainnya, Radit (60).
Ia mengatakan hampir setiap tahun petani di Kecamatan Bulu mengubah pola tanam ketika musim kemarau tiba.
Setelah panen padi selesai, lahan langsung ditanami kacang tanah maupun jagung agar tetap menghasilkan.
"Kalau musim kemarau memang kami ganti tanam kacang. Tanaman ini lebih hemat air. Daripada sawah menganggur, lebih baik tetap ditanami sehingga masih ada hasil yang bisa dipanen," ujarnya.
Menurut Radit, musim kemarau tahun ini mulai terasa sejak Mei dan diperkirakan berlangsung hingga sekitar Oktober.
Karena itu, petani harus menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi cuaca.
Ia menjelaskan, kacang tanah memiliki masa panen sekitar tiga bulan sehingga ideal untuk mengisi masa jeda sebelum musim hujan tiba.
Selain itu, biaya pengairannya juga lebih ringan dibandingkan memaksakan menanam padi.
"Hasil panennya lumayan. Memang harga mengikuti pasaran, tetapi tetap lebih baik daripada sawah dibiarkan kosong selama musim kemarau," katanya.
(*)