TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengalami periode tenang, di mana keduanya tidak mengumumkan serangan selama beberapa hari setelah berminggu-minggu terjadi eskalasi terkait Selat Hormuz.
Iran dan AS telah menghentikan pertempuran mereka selama akhir pekan, meskipun ketegangan tetap tinggi bahkan ketika para pejabat mengatakan para mediator telah mencapai kemajuan dalam membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan.
Peneliti Senior Indo Pacific Strategic Intelligence, Fauzia G Cempaka Timur, menilai AS dan Iran saat ini dalam kondisi lelah dalam perang yang masih bergulir.
Ia menuturkan, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki periode kedua selama dua pekan terakhir.
Perang AS-Iran tahap kedua diketahui pecah pada awal Juli 2026, yang ditandai dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Sementara itu, awal perang terjadi ketika Israel dan Amerika Serikat membombardir target Iran pada 28 Februari 2026.
Menurutnya, AS dan Iran tengah mengalami kelelahan strategis dan penurunan stok energi serta amunisi dibandingkan fase awal.
"Periode kedua dari perang ini yang berjalan dua pekan, sudah menjadi kebuntuan kedua belah pihak, di mana berbeda dari fase pertama," ujar Fauzia dalam program Kompas Petang, Selasa (28/7/2026), dilansir YouTube Kompas TV.
"Persiapan, amunisi, stok penangkis rudal juga masih banyak. Kini kedua belah pihak sudah dalam kondisi lelah."
"Kelelahan strategis yang amat sangat dan juga bagaimana kondisi yang mengakibatkan stok energi kedua belah pihak tentu dampaknya sangat besar dibandingkan periode pertama," terangnya.
Baca juga: Trump: Saya Ingin 1 Hal Sangat Sederhana, yaitu Iran Tidak Boleh Memiliki Senjata Nuklir
Fauzia kemudian menyoroti konflik AS-Iran yang kini melibatkan pihak lain seperti Ukraina, Bahrain, Kuwait, Inggris, dan kelompok Houthi.
Serangan terbaru diketahui melibatkan Ukraina yang menembak kapal Iran.
"Sebenarnya tentu harus kita lihat meskipun Amerika Serikat sendiri tidak melakukan serangan selama beberapa hari terakhir."
"Namun kita lihat bagaimana serangan teater perang ini justru sekarang terjadi tidak hanya antara Amerika Serikat dan Iran, tapi juga bahkan melibatkan Ukraina, Bahrain, dan Kuwait, dan juga bahkan melibatkan Inggris yang sebelumnya sudah jelas di periode Februari hingga Juni tidak terlibat dalam peperangan ini secara militer," kata Fauzia.
"Sekarang pihak-pihak itulah termasuk juga Houthi yang sekarang secara aktif begitu, pada awalnya Februari hingga Juni Houthi ini hanya (memberi) dukungan yang sifatnya strategis, diplomatik terhadap Iran. Namun sekarang kita tahu sendiri teater aktif militer sudah juga terjadi di Laut Merah," paparnya.
Pekan lalu, mereka mengumumkan blokade terhadap pelayaran Saudi, yang membahayakan jalur perairan penting Timur Tengah lainnya — melalui Selat Bab el-Mandeb yang menuju Laut Merah.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengatakan sebuah kapal tanker melaporkan mendengar ledakan saat berlayar di Laut Merah bagian selatan.
Mereka tidak menyebutkan nama kapal tanker tersebut tetapi mengatakan awak dan kapal dalam keadaan aman.
Kelompok Houthi menembaki setidaknya satu kapal tanker Saudi di Laut Merah pekan lalu.
Iran mengatakan pada Selasa pagi bahwa serangan AS selama periode eskalasi sebelumnya telah menghancurkan sebuah bandara dan menara kontrol maritim, serta menyebabkan kerusakan pada 12 jembatan dan dua terowongan, di antara infrastruktur lainnya.
Iran secara efektif menutup selat tersebut ketika perang dimulai dengan menembaki kapal kargo dan tanker di lepas pantainya atau mengancam mereka.
Setelah penandatanganan kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni 2026, pertempuran untuk menguasai selat tersebut meletus.
Iran menuntut agar kapal-kapal menggunakan rute di dekat garis pantainya dan mengatakan bahwa mereka berpotensi mengenakan biaya.
Kapal-kapal semakin banyak berlayar melalui rute selatan di sepanjang pantai Oman di bawah operasi pengawasan AS ketika Iran menyerang beberapa kapal.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan pada Senin (27/7/2026) bahwa Amerika Serikat sedang melakukan "pembicaraan yang baik" dengan Iran.
Trump, di dalam pesawat Air Force One dalam perjalanan ke Michigan, mengatakan bahwa ia memiliki "banyak waktu" untuk menangani Iran.
“Saya memiliki banyak kesabaran. Kita lihat saja apa yang terjadi. Saya pikir ada peluang bagus bahwa sesuatu bisa terjadi," katanya, dilansir Al Arabiya.
Trump juga mengatakan dia akan meminta Rusia untuk menyediakan citra satelit guna membantu Iran.
“Saya akan menanyakan hal itu kepada Putin,” kata Trump.
“Kita akan mengetahuinya.”
“Jika tidak berhasil, kita akan kembali melakukan apa yang kita lakukan dua hari yang lalu," lanjutnya.
Baca juga: Trump Sentil Netanyahu soal Fasilitas Nuklir Iran: Kenapa Tidak Bilang Langsung ke Saya?
Trump mengatakan para pemimpin Iran telah meminta pertemuan dan berpendapat bahwa "satu-satunya alasan mereka ingin bertemu adalah karena kita telah menyerang mereka dengan sangat keras."
Namun, Teheran sebelumnya membantah bahwa negosiasi langsung sedang berlangsung, dan mengatakan bahwa para mediator hanya menyampaikan pesan dari Washington.
Di sisi lain, Trump menepis kekhawatiran bahwa lima bulan perang telah mengurangi stok amunisi AS.
“Kita punya banyak amunisi,” katanya.
“Kita juga punya banyak perlengkapan tingkat menengah, lebih dari yang bisa kita gunakan, apa pun yang terjadi," jelas dia.
Trump menambahkan, dia lebih memilih cadangan yang lebih besar tetapi mengeluh bahwa "begitu banyak yang diberikan kepada Ukraina" dalam perangnya dengan Rusia.
AS berhenti sejenak setelah menargetkan wilayah pesisir dan infrastruktur Iran dalam eskalasi yang berlangsung hampir dua minggu, yang dipicu oleh penembakan Iran terhadap kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump disebut ingin memberi ruang bagi perundingan.
Baca juga: AS Tuduh Iran Lakukan Serangan Dadakan, CENTCOM Sebut Rudal Balistik IRGC Sasar Pangkalan Militer
AS dan Iran telah mengirimkan tanggapan mereka terhadap proposal Qatar-Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan antara Washington dan Teheran.
"Dia memberi sedikit kelonggaran," kata Mike Waltz, duta besar AS untuk PBB, kepada Fox News.
"Kami telah melibatkan Oman dan Iran, serta sejumlah negosiator kami lainnya, di setiap tingkatan, dari tingkat senior hingga tingkat teknis selama beberapa minggu terakhir, dan khususnya dalam beberapa hari terakhir," jelasnya.
Namun, Waltz menepis anggapan bahwa persediaan rudal pencegat AS yang sangat penting dalam pertahanan terhadap serangan Iran semakin menipis.
Sementara itu, para ahli mempertanyakan berapa lama AS dan Iran mampu terus melakukan serangan.
Pertempuran di Selat Hormuz yang strategis menggagalkan upaya diplomatik antara Washington dan Teheran, tetapi konflik kemudian meluas di luar koridor energi vital tersebut hingga mencakup serangan terhadap pangkalan AS, pelayaran regional, dan sekutu Teluk.
Namun, jeda baru-baru ini telah menghidupkan kembali harapan untuk kembali ke negosiasi setelah hampir dua minggu pemboman malam berturut-turut oleh AS, meskipun media AS melaporkan bahwa jeda tersebut juga dapat mencerminkan tekanan pada persediaan pencegat Patriot dan senjata pertahanan lainnya.
(Tribunnews.com/Nuryanti)