Harga Telur Anjlok dan Pakan Naik 4 Kali, Peternak di Kota Batu Rugi Hingga Rp18 Juta Per Bulan
Sarah Elnyora Rumaropen July 29, 2026 02:46 PM

SURYAMALANG.COM, BATU - Harga telur yang anjlok saat ini membuat para peternak ayam petelur di Kota Batu harus menanggung kerugian setiap harinya.

Saat ini, harga telur di pasaran Kota Batu hanya berkisar Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram.

Kondisi tersebut memicu kerugian peternak sebesar Rp2.000 per kilogram karena harga jual yang beredar tidak seimbang dengan besarnya biaya produksi yang dikeluarkan.

Harga Telur Anjlok dan Pakan Naik 4 Kali

Situasi sulit ini diperparah oleh melimpahnya produksi telur yang tidak sebanding dengan peningkatan permintaan pasar.

Apalagi, harga pakan ternak saat ini kembali mengalami kenaikan, sehingga membuat banyak peternak kian kesulitan menutup biaya operasional kandang yang semakin mencekik.

Penasihat Kelompok Peternak Ayam Petelur Kota Batu, Ludi Tanarto, mengatakan kondisi saat ini menjadi salah satu periode paling berat yang harus dihadapi para peternak di wilayah Kota Batu dalam beberapa tahun terakhir.

“Bisa dibilang kondisinya saat ini sangat berat bagi peternak ayam petelur. Harga jual telur justru anjlok sementara biaya produksi terus naik. Harga pakan ternak sudah naik keempat kalinya,” kata Ludi Tanarto, Rabu (29/7/2026).

Baca juga: Plt Inspektorat Malang Disorot Dewan, Subur dan Eko Margianto Muncul Jadi Calon Kuat

Ludi menjelaskan, pada bulan April–Mei lalu harga pakan telah mengalami kenaikan sebanyak tiga kali. 

Kenaikannya sekitar Rp200 per kilogram, sehingga total akumulasi kenaikannya mencapai Rp600 per kilogram.

Kini, memasuki bulan Juli, harga pakan kembali melambung naik sebesar Rp300 per kilogram.

“Setiap hari kami terus merugi. Hitungannya rugi Rp2.000 per kilo,” tuturnya.

“Hari ini saja kerugian mencapai Rp600 ribu per hari. Dalam sebulan bisa menembus Rp18 juta. Kami terpaksa bertahan meski tidak tahu sampai kapan kondisi ini berlangsung,” tambahnya.

Terpaksa Gadai Aset 

Akibat kerugian yang terus dialami saban hari, sejumlah peternak terpaksa mengambil langkah nekat demi menjaga usahanya tetap bertahan.

Bahkan, tak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan untuk gulung tikar.

“Banyak peternak terpaksa menggadaikan surat tanah dan aset lain demi bertahan. Tidak hanya peternak, sektor pertanian juga mengalami hal serupa karena anjloknya harga sayur di pasaran,” jelas Ludi Tanarto.

Baca juga: Imbas MBG Harga Ayam di Malang Naik Rp31 Ribu - Telur Rp22 Ribu, Satgas Pangan: Stok Tetap Melimpah

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua II DPRD Kota Batu tersebut menuturkan, selama 10 tahun menjalankan usaha peternakan ayam petelur situasi sulit semacam ini baru tiga kali ia alami, yakni saat terjadi Pandemi Covid-19, ketika nilai tukar dolar melonjak tajam, dan kondisi yang terjadi saat ini.

“Ya bisa dibilang ini ibarat seleksi alam, siapa yang tidak kuat, dia akan tumbang. Peternak saat ini dilema, pilihannya kalau kualitas pakan dikurangi produksi telur menurun dan kualitas ternak rusak. Namun jika tetap dipertahankan, kerugian kami akan semakin besar,” tutupnya.

Pihaknya pun sangat berharap situasi sulit ini dapat segera berakhir, ditandai dengan stabilnya harga jual telur di tingkat kandang di atas Harga Pokok Produksi (HPP) atau setidaknya sesuai dengan harga acuan yang ditetapkan pemerintah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.