Ruang Kelas Rusak, Siswa SDN 2 Taman Endah Lampung Timur Terpaksa Belajar Giliran
Daniel Tri Hardanto July 29, 2026 04:40 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TIMUR - Siswa SDN 2 Taman Endah di Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur terpaksa belajar secara bergantian karena banyak ruang kelas yang rusak.

Baca juga: SDN 2 Taman Endah Rusak Parah, Siswa Terpaksa Belajar di Ruang Kelas yang Tak Layak

Kerusakan tersebut mencakup sedikitnya enam ruang kelas, mulai dari bagian jendela, plafon yang jebol dan menggantung, hingga struktur fisik bangunan lainnya.

Bahkan, terdapat satu ruangan yang sama sekali tidak dapat digunakan karena atapnya ambrol dan dipenuhi bongkahan balok kayu.

Kepala SDN 2 Taman Endah, Suharni, mengungkapkan bahwa kerusakan bangunan di sekolahnya dirasakan semakin mengkhawatirkan sejak awal tahun 2024. 

"Kondisi ini dinilai sudah sangat tidak layak dan mengancam keselamatan kegiatan belajar mengajar (KBM)," kata Suharni, Rabu (29/7/2026).

Menyikapi ruang kelas yang rusak dan membahayakan keselamatan para murid, pihak sekolah mengambil langkah darurat dengan mengalihkan proses KBM ke ruang kelas bagian depan.

Guna menampung seluruh siswa, pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergiliran atau sif.

"Ruang kelasnya ini setelah ada yang viral itu sudah tidak dipakai lagi. Akhirnya anak-anak untuk belajarnya pindah ke depan, dibuat sif-sifan," terang seorang guru SDN 2 Taman Endah saat ditemui di lokasi.

Sistem tersebut mengatur jadwal masuk siswa sif pagi pada pukul 07.00 WIB yang diperuntukkan bagi siswa kelas 1, 2, 3, dan 6.

Saat siswa kelas 1 dan 2 pulang pada pukul 10.00 WIB, siswa kelas 4 dan 5 mulai belajar hingga pukul 12.30 WIB.

Saat ini, kata Suharni, pihak sekolah hanya dapat mengoperasikan empat ruang belajar yang dinilai aman. 

Untuk menambah ketersediaan ruang belajar bagi para siswa, pihak sekolah bahkan merelakan ruang kantor guru untuk disulap menjadi ruang kelas sementara.

"Ruang kelas yang sekarang ada itu empat ruang. Tapi yang satu itu tadinya ruang kantor, sekarang dijadikan untuk kelas. Kantornya pindah ke ruang yang rusak itu. Jadi kita guru malah berkorban berpindah ke ruang yang rusak," jelas dia.

Di sisi lain, Suharni mengatakan, upaya pembenahan secara mandiri yang dilakukan pihak sekolah sangat terbatas. 

Hal ini disebabkan minimnya alokasi dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang diterima karena terbatasnya jumlah peserta didik di sekolah tersebut, yakni hanya berjumlah 68 siswa.

"Perbaikan dari sekolah sendiri sifatnya hanya yang ringan-ringan saja, karena dana BOS yang didapat sedikit sebanding dengan jumlah murid yang ada," tambah Suharni.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.