Laporan Wartawan Tribun Gayo Asnawi Luwi | Aceh Tenggara
TribunGayo.com, KUTACANE - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Biodiesel masih terus membayangi masyarakat di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, Rabu (29/7/2026).
Hasil pantauan TribunGayo.com, sejumlah SPBU di Aceh Tenggara, dilaporkan mengalami kekurangan stok BBM bersubsidi sehingga memicu antrean panjang di beberapa titik pengisian.
Seperti di SPBU Kampung Melayu, Kecamatan Babussalam, stok Pertalite dilaporkan habis terjual sekitar pukul 11.30 WIB, dan stok Biodiesel mengalami kekosongan total.
Menurut pengawas SPBU, Iman, pasokan 8 ton Pertalite yang tersedia telah habis dibeli pengendara.
Pihak SPBU baru akan menerima pasokan kembali pada Kamis (30/7/2026) besok pagi.
Situasi serupa terjadi di SPBU Lawe Kihing, Kecamatan Bambel, di mana stok Pertalite dan Biodiesel dilaporkan habis pada siang hari.
Sementara itu, antrean kendaraan terpantau masih terjadi di SPBU Kuning dan SPBU Lawe Desky.
Baca juga: Pasokan Solar Capai 16 Ton, Antrean BBM di Bener Meriah Berjalan Lancar
Berbeda dengan kondisi tersebut, pengelola SPBU Lawe Desky, Ragam Bancin, mengatakan bahwa stok BBM di tempatnya cukup memadai dan akan membuka layanan 24 jam khusus untuk Biodiesel.
Di sisi lain, stok BBM nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamax 92 terpantau aman.
Namun, minat masyarakat terhadap BBM jenis ini sangat rendah akibat perbedaan harga yang signifikan, di mana Dexlite dipatok seharga Rp 20.150 per liter dan Pertamax seharga Rp 16.650 per liter.
Harga BBM non subsidi jauh lebih tinggi dibandingkan harga subsidi yaitu, Pertalite Rp 10.000 dan Biodiesel Rp 6.800 per liter.
Terkait kelangkaan yang terus berulang, Anggota DPRK Aceh Tenggara, Tgk Marwan Husni, mendesak aparat kepolisian untuk melakukan penyelidikan lebih dalam.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini meminta pihak kepolisian memeriksa rekaman CCTV di setiap SPBU untuk memantau kendaraan yang mengisi BBM secara berulang, penggunaan jerigen, hingga kendaraan yang tidak memiliki nomor polisi sesuai STNK.
"Kita minta Polisi membuka rekaman CCTV di SPBU-SPBU di Aceh Tenggara, ini penting untuk mengecek kendaraan yang berulangkali isi BBM,” ujar Tgk Marwan Husni.
Menurut Marwan, secara logika, jika pengisian telah diterapkan—misalnya Rp 250.000 untuk kendaraan pribadi—seharusnya BBM tersebut cukup untuk kebutuhan selama dua hari bagi penggunaan di daerah.
Oleh karena itu, ia menilai keanehan terjadi jika kendaraan yang sama terus-menerus mengantre di SPBU, sehingga penyelidikan menyeluruh sangat diperlukan untuk menuntaskan masalah kelangkaan ini. (*)