TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tren penurunan jumlah mahasiswa baru menjadi bayang-bayang menakutkan bagi jajaran Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia.
Kebijakan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang terus membuka keran penerimaan mahasiswa dalam jumlah besar disinyalir menjadi salah satu pemicu utama tergerusnya porsi calon mahasiswa di kampus swasta.
Menanggapi ancaman tersebut, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mulai merancang sederet jurus taktis agar animo calon mahasiswa baru tetap terjaga.
Rektor UII, Prof. Hari Purnomo pun tidak menampik bahwa ketergantungan PTS terhadap dana pendidikan dari mahasiswa sangatlah tinggi.
Berbeda dengan PTN-BH yang memiliki sokongan fasilitas negara meski kini dituntut mandiri, kampus swasta harus memutar otak agar operasional tetap berjalan sehat.
"Kecenderungannya, beberapa perguruan tinggi swasta saat ini mengalami penurunan. Nah, itu yang kita takutkan. Karena apa pun itu, pendanaan sangat tergantung kepada jumlah mahasiswa," ujarnya, Rabu (29/8/26).
Sementara, Hari menjelaskan, dominasi penggalangan dana di PTN-BH dewasa ini juga semakin mengandalkan biaya pendidikan dari mahasiswa.
Tingginya biaya operasional sontak membuat PTN-BH berlomba menarik mahasiswa sebanyak-banyaknya, bahkan hingga periode akhir bulan Juli.
"Kenapa perguruan tinggi swasta ini bisa turun? Karena PTN-BH pendanaan dari mahasiswa dominan sekarang. PTN-BH akan menarik jumlah mahasiswa sebanyak-banyaknya karena pendanaannya ditanggung sendiri, bantuan pemerintah kecil," bebernya.
Ia menambahkan, jika mayoritas PTS bergantung hingga 100 persen pada dana mahasiswa, UII masih beruntung karena mendapat topangan dari pihak yayasan sekitar 10 hingga 20 persen.
Alokasi tersebut, setidaknya bisa menjadi napas bagi perguruan tinggi untuk tidak sepenuhnya bergantung pada animo mahasiswa yang masuk.
"Kalau UII mungkin sekitar 80 sampai 90 persen dari mahasiswa. Harapannya ke depan, kalau unit usaha UII meningkat dan berkembang, kontribusi yayasan terhadap biaya pendidikan akan lebih tinggi," ungkapnya.
Sebagai langkah jangka panjang untuk menyamai ketahanan finansial PTN-BH, UII semakin gencar memperkuat ekspansi unit usaha.
Tak hanya mengandalkan kemandirian finansial yayasan dan unit usaha, UII juga melancarkan strategi gerilya untuk memperkenalkan kampus ke masyarakat luas.
Dalam praktiknya, UII bergerak secara masif melalui pembukaan posko informasi di 13 titik jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Posko-posko ini difungsikan sebagai pusat penyebaran informasi kampus yang digerakkan bersama Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UII.
Di samping itu, pihak kampus juga secara intensif merangkul jaringan guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah-sekolah serta lembaga bimbingan tes untuk mengedukasi calon mahasiswa mengenai pilihan program studi.
Langkah ini diperkuat oleh optimalisasi media digital melalui konten-konten kreatif, yang disebutnya sukses mencuri perhatian publik lewat ide-ide segar.
"Dengan jalan semacam ini, alhamdulillah UII masih positif sampai sekarang. Kami berupaya terus. Setelah ini selesai, kami langsung mengoptimalkan kembali titik-titik yang sudah diinisiasi untuk terus bergerak," pungkasnya. (aka)