Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Tak ingin aktivitas masyarakat lumpuh akibat jembatan rusak, warga Desa Kilbon Kway dan Desa Kilmury, Kecamatan Kilmury, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, bergerak cepat membangun kembali jembatan penghubung antar desa.
Jembatan yang dibangun di atas Sungai Ar Rabu itu merupakan jalur utama yang setiap hari digunakan masyarakat untuk beraktivitas.
Tanpa menunggu bantuan pemerintah, warga bergotong royong mengumpulkan tenaga dan material agar akses tersebut dapat segera difungsikan kembali.
Jembatan yang dibangun saat ini merupakan pengganti jembatan lama yang sebelumnya juga dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat.
Setelah bertahun-tahun digunakan, kondisi jembatan mengalami kerusakan sehingga dinilai membahayakan keselamatan warga yang melintas.
Selain menghubungkan Desa Kilbon Kway dan Desa Kilmury, jembatan tersebut menjadi akses utama masyarakat menuju kebun, mengangkut hasil pertanian, mengakses pelayanan kesehatan, hingga mengantar anak-anak ke sekolah.
Saat air laut pasang, jembatan menjadi satu-satunya akses darat yang dapat dilalui masyarakat.
Baca juga: Bupati Malteng dan DPRD Sambangi Kemenkum, Perkuat Tata Kelola Pemerintahan
Baca juga: Gagalkan Peredaran Sabu, Pasutri Asal Maluku Tenggara Ditangkap Saat Ambil Paket di J&T Tual
Sementara ketika air surut, warga masih dapat melewati jalur pesisir pantai sebagai alternatif, meski hanya bisa digunakan pada waktu tertentu dan dinilai kurang aman dibanding melintasi jembatan.
Salah seorang warga, Bapak Umar, mengakui masyarakat tidak memiliki pilihan lain, karena jembatan tersebut menjadi satu-satunya jalur penghubung saat air pasang.
"Ini satu-satunya jalan penghubung antara Desa Kilbon Kway dan Desa Kilmury. Semua aktivitas masyarakat lewat di sini, termasuk anak-anak yang pergi ke sekolah, ke hutan, sampai orang yang hendak berobat. Kalau jembatan tidak ada atau rusak, aktivitas masyarakat terhambat," ujarnya kepada TribunAmbon.com, Rabu (29/7/2026).
Menurut Umar, masyarakat sepakat bergotong royong membangun kembali jembatan agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan normal, terutama bagi anak-anak yang setiap hari harus melintasi jalur tersebut untuk bersekolah.
"Setiap hari anak-anak sekolah lewat di sini. Kalau tidak ada jembatan, mereka kesulitan menyeberang, apalagi saat air sungai naik atau musim hujan," bebernya.
Ia berharap Pemkab SBT dapat memberikan perhatian dengan membangun jembatan permanen yang lebih kokoh sehingga masyarakat tidak perlu lagi melakukan perbaikan secara swadaya ketika jembatan mengalami kerusakan.
"Harapan kami pemerintah bisa membantu membangun jembatan permanen. Dengan begitu masyarakat tidak lagi khawatir saat melintas, terutama anak-anak sekolah yang setiap hari menggunakan jalan ini," tutupnya.(*)