TRIBUNSUMSEL.COM,PALEMBANG -- Menyambut Bulan Kemerdekaan setiap bulan Agustus, aura khas di Kota Palembang selalu diwarnai oleh kehadiran mainan bingen berupa miniatur kapal layar dan pesawat berhias kertas manggis warna-warni. Mainan musiman penyangga Telok Abang ini merupakan tradisi unik yang hanya bisa dijumpai di Bumi Sriwijaya.
Di balik riuhnya deretan penjual Telok Abang di pinggir jalan, ada dedikasi tiada tuntas dari para perajin lokal.
QSalah satunya adalah Hermansyah (58), warga Jalan Silaberanti, Lorong Khodijah, Kelurahan Silaberanti, Kecamatan Jakabaring, Palembang.
Hermansyah merupakan generasi ketiga penjelajah tradisi ini. Keahlian membentuk akar gabus menjadi mainan ikonik tersebut diwariskan secara turun-temurun dari kakek dan orang tuanya.
Membuat mainan bingen bukanlah perkara instan. Prosesnya memakan waktu hingga berbulan-bulan, dimulai jauh sebelum bulan Agustus tiba.
Bahan utama mainan ini adalah akar kayu gabus pilihan yang tumbuh alami di kawasan rawa-rawa. Hermansyah tidak membeli bahan baku dari orang lain, melainkan mencarinya sendiri.
"Kami cari sendiri ke daerah yang cukup jauh seperti Mandala, Payakabung, hingga Lorok pakai sepeda motor. Mulai berburu akar gabus itu dari bulan November sampai Desember," ujar bapak tiga anak ini, kepada Tribunsumsel.com dan Sripoku.com di kediamannya, Rabu (29/7/2026) siang.
Pencarian akar gabus di tengah hutan rawa pun tidak selalu berjalan mulus. Tantangan alam hingga ancaman binatang buas menjadi makanan sehari-hari.
"Sering kali saat masuk ke rawa-rawa atau hutan kita berhadapan langsung dengan ular besar. Tapi saya tidak gentar, prinsipnya asal kita tidak mengganggu mereka, kita aman," kenangnya.
Akar gabus yang berhasil dikumpulkan biasanya hanya mendapat satu hingga dua karung sekali jalan harus melewati proses pengeringan yang memakan waktu hingga berbulan-bulan.
Setelah dipastikan benar-benar kering, proses produksi baru bisa dimulai sekitar bulan Mei. Akar gabus dipotong tipis dan dirangkai menjadi lambung kapal, layar, hingga sayap pesawat.
Dalam pengerjaannya, Hermansyah membagi tugas dengan sang istri, Isnawati (56).
"Kalau saya bagian memotong akar gabus, membentuk miniatur kapal, pesawat, dan aksesorisnya. Istri yang menempel kertas manggis warna-warni dan bendera kertas minyak," jelas mantan tukang bangunan ini.
Memasuki akhir bulan Juli, seluruh pesanan biasanya sudah rampung diproduksi dan dikemas rapi di dalam karung, siap diambil oleh para pedagang.
Jika ketersediaan bahan baku melimpah, Hermansyah mampu memproduksi hingga 2.000 unit mainan dalam satu musim.
"Harga lepas dari saya untuk kapal layar sekitar Rp 22.000 hingga Rp 23.000 per unit. Kalau pesawat Rp 17.000 sampai Rp 18.000," terangnya.
Pelanggannya tak hanya berasal dari pedagang lokal Palembang seperti kawasan Merdeka, Lemabang, dan Kertapati. Mainan buatan Hermansyah bahkan kerap dipesan oleh pengecer dari luar provinsi, seperti Medan dan Aceh.
Dengan modal bahan penunjang (seperti lem Aibon, lem Fox, lem sagu, dan kertas) sebesar Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu, Hermansyah mampu meraup omset hingga Rp 20 juta per musim Agustusan.
Hasil dari ketekunan menjaga tradisi bingen ini membuahkan hasil manis. Dari keuntungan penjualan mainan Telok Abang selama bertahun-tahun, Hermansyah berhasil mendirikan rumah tinggalnya sendiri.
"Alhamdulillah, rumah ini berdiri dari hasil membuat mainan Agustusan ini, walau tukangnya saya sendiri. Insya Allah tahun ini hasil jualan bisa dipakai untuk memasang plafon rumah," tutupnya tersenyum. (Syahrul)